Tag

, ,

 Bandung Mawardi

Soekarno dalam acara Proklamasi Bebas Buta Huruf di Semarang (1962) memberi pidato berjudul Seluruh Rakjat Indonesia Harus Bebas Buta Huruf! Judul mengandung perintah dan impian muluk. Soekarno menghendaki Indonesia melek-huruf. Indonesia mesti bergerak di jalan kata. Revolusi mesti berpijak literasi. Kerja Soekarno untuk memberantas buta huruf tampak ambisius berpamrih politik-kultural. Indonesia bakal moncer jika digerakkan oleh rakyat dengan kesanggupan membaca-menulis. Melek-huruf menentukan nasib negara!

Pengumuman Soekarno tentang buta huruf masih terasa di tahun 1979. Goenawan Mohamad dalam “pengantar” di majalah Zaman, Nomor 1, Tahun 1, Oktober 1979 menulis: “Dalam sejarah Indonesia, mungkin baru sekarang nampak pentingnya bacaan dalam keluarga.” Kalimat permulaan ini menggugah dan menjelaskan pamrih penggerak majalah Zaman. Pesan lugas: bacaan untuk keluarga itu penting! Goenawam Mohamad melanjutkan: “Memang, masih banyak buta huruf.” Kalimat ini seolah getir. Rezim Orde Baru belum sanggup menjelmakan ideologi-pembangunan di ranah literasi. Majalah Zaman disuguhkan ke publik meski jutaan orang masih buta huruf. Ikhtiar fantastis! Redaksi Zaman menerangkan misi: “… majalah yang tak hendak jadi beban, juga majalah yang untuk saling berbagi.”

Majalah Zaman terbit puluhan tahun silam. Aku belum lahir. Aku menemukan setumpuk majalah Zaman sekian tahun lalu. Sampul-sampul Zaman selalu menggoda mata: menggairahkan imajinasi tak biasa. Orang-orang mengesahkan Zaman sebagai majalah keluarga tapi tampilan mirip majalah sastra atau seni. Rupa Zaman mungkin keganjilan di jagat pers masa 1970-an dan 1980-an. Majalah Zaman memang mengesankan “sastra”. Zaman hampir sulit disahkan sebagai “bacaan ringan”. Aku merasa Zaman adalah “bacaan lezat”.

Aku membuka halaman-halaman Zaman, Nomor 1, Tahun 1, Oktober 1979 dengan sangkaan-sangkaan tak keruan. Aku temukan berita-berita dan rubrik-rubrik impresif. Kita mungkin terlalu biasa menemukan rubrik luar negeri, dalam negeri, olah raga. Zaman menghadirkan halaman-halaman berpihak ke sastra! Percayalah! Informasi kecil: Hoedi Suyanto menulis resensi berjudul Tiga Wanita dalam Novel di halaman 14 dan 15; Hamid Jabbar suguhkan puisi berjudul Tetapi dan Goenawan Mohamad pamer puisi berjudul Tigris di halaman 15, Ags. Arya Dipayana memberi cerita berjudul Selamat Malam Jeanne di halaman 17 dan 18; Handawarih sajikan serial cerita silat berjudul Pedang Bersinar Hijau di halaman 19 – 21; D. Djajakusuma ajukan cerita wayang berjudul Bunga Harumasma di halaman 30 dan 31; cerita dan puisi untuk anak dihadirkan di halaman 32 dan 33; Morton Fineman memberi cerita detektif berjudul Jangan Telepon Aku Lagi di halaman 36 dan 37; Asnelly Luthan berbagi cerita pendek berjudul Calon Suami di halaman 46 dan 47. Majalah Zaman memang berpihak ke sastra!

Aku “kaget” saat melihat halaman-halaman iklan. Sekian iklan tampil secara representatif untuk mengisahkan keluarga. Iklan roti ditampilkan di halaman 21; iklan obat batuk muncul di halaman 48; iklan rumah muncul di sampul belakang-dalam; iklan rokok tampil di sampul depan-dalam dan belakang-luar. Majalah Zaman membuat ragu dan takjub. Majalah ini berdalih: “mingguan untuk seluruh keluarga.” Aku pun mengerti atas kehadiran iklan-iklan: representasi keluarga. Aku cuma mengimajinasikan: ibu dan anak turut menikmati dua halaman iklan rokok tanpa harus menggugat. Iklan rokok mungkin kelaziman.

Aku tidak memiliki kenangan atas makna kehadiran Zaman di masa 1980-an. Aku tak mungkin mendapati majalah Zaman di rumah. Simbok adalah buruh tani. Bapak adalah buruh bangunan. Mereka pasti tak mengenal Zaman. Simbok itu buta huruf dan bapak itu lulusan Sekolah Rakjat. Mereka hidup di rumah ringkih di Colomadu: jauh dari Jakarta. Zaman tak mungkin mampir ke Colomadu-Jawa Tengah. Simbok dan bapak memang tak mengurusi bacaan. Tujuh anak adalah “bacaan nasib”. Mereka mengerti “zaman-miskin” tapi tak pernah mengenal Zaman.

Aku menemukan Zaman di abad XXI. Aku merasa terlambat meski “bersombong” untuk mengabarkan ulang. Adegan membuka dan membaca halaman-halaman Zaman seolah menguak kenangan meski milik orang lain. Majalah Zaman memberi keinsafan tentang suatu masa di Indonesia ada bacaan keluarga berpihak ke sastra. Aku juga terlambat menemukan bukti bahwa Goenawan Mohamad tak sekadar Tempo. Goenawan Mohamad juga Zaman. Aku memang mulai mengerti tapi tak mungkin menceritakan ini pada simbok dan bapak. Simbok sudah tua: memilih rajin beribadah dan menceritakan masa lalu bernafas kemiskinan. Bapak telah ada di kuburan sejak aku belum rampung kuliah. Aku bisa mengenang bapak dengan keharuan dan ketakjuban. Aku pun bisa seolah mengenang Zaman meski sebagai pembaca terlambat. Aku menaruh setumpuk majalah Zaman di rumah sebagai bacaan untuk “mengenang” Indonesia di suatu zaman. Begitu.

Image

Image

Image

Iklan