Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Mohammad Hatta (12 Agustus 1902-14 Maret 1980) adalah referensi demokrasi. Indonesia bergerak oleh tulisan-tulisan Hatta. Hidup dilakoni dengan menulis dan menulis Indonesia! Hatta memang manusia politik. Martabat Indonesia tak sekadar ada di tepuk tangan dan teriak. Indonesia juga memerluka renungan menggugah. Tulisan-tulisan Hatta mengajarkan politik berliterasi. Politik dan misi demokrasi dipancarakan ke segala arah dengan huruf-huruf.

Aku mengenal Hatta dari buku pelajaran. Nama itu belum mengesankan. Nama dan foto sekadar jadi urusan materi pelajaran dan ujian sekolah. Hatta juga sekadar ingatan tentang proklamasi. Nama itu belum merasuk ke tubuh-jiwaku. Pengenalan Hatta justru mengena saat menikmati lagu Iwan Fals: Bung Hatta. Lagu sendu itu pernah membuatku menjadi lelaki bergerimis. Hatta tak sekadar lagu.

Waktu terus berlalu. Aku pun mulai mengerti: Hatta adalah buku. Aku menganggap Hatta ibarat huruf-huruf melantunkan Indonesia. Hatta tekun menulis dan mengisi halaman-halaman sejarah Indonesia dengan huruf. Lelaki santun tapi radikal. Hatta menjelma penggembala politik berdemokrasi: dari masa kolonialisme sampai masa Orde Baru.

Hatta memang referensi. Aku sering mengutip Hatta jika mengurusi demokrasi. Hatta terlalu suntuk menulis demokrasi. Sejarah mencatat kebijakan Hatta tentang partai politik bisa ditafsirkan sebagai amalan demokrasi paling menggetarkan di Indonesia. Nalar demokrasi merujuk uraian-uraian Hatta mendapati kritik pedas dari Soekarno. Mereka tak bisa  bersepakat tentang tafsir dan ejawantah demokrasi.

Aku menganggap dua tokoh itu menggairahkan arus politik di Indonesia. Aku berpihak ke gagasan-gagasan Hatta untuk menumbuhkan demokrasi di Indonesia. Dalil-dalil Hatta mengandung rasionalitas politik. Hatta sering menjelaskan: politik itu mendidik, politik itu kewajiban, politik itu keinsafan. Sekian buku Hatta bertaburan ajaran-ajaran demokrasi Barat untuk diresapkan di Indonesia. Ikhtiar tak pernah selesai!

Aku membaca buku Kedaulatan Ra’jat dengan ketakjuban politik-puitik. Hatta pernah mendaulat diri sebagai pujangga di masa 1920-an. Hatta menulis puisi saat Indonesia memerlukan imajinasi-imajinasi politik. Puisi adalah masa lalu. Sutan Sjharir malah menuduh Hatta adalah tokoh tak bersastra. Sjahrir dalam Renungan Indonesia mewartakan tentang keengganan Hatta membaca buku-buku sastra. Konklusi itu merujuk ke ribuan koleksi buku Hatta. Sjahrir sulit menemukan novel di rak buku milik Hatta. Sjahrir mungkin ingin mengesahkan diri: “aku manusia bersastra tinimbang Soekarno atau Hatta.” Tuduhan Sjahrir bisa berterima meski tak bisa mengubah sejarah bahwa Hatta pernah tampil sebagai pujangga.

Alinea-alinea di buku Kedaulatan Ra’jat terasa puitik. Hatta tak berlagak sebagai guru tapi “pencerita”. Aku merasa Hatta menghindari pemborosan kalimat-kalimat perintah. Simaklah kutipan di alinea permulaan: “… masa sekarang menghendaki oeraian dan penerangan jang djelas tentang kedaulatam ra’jat.” Ajakan ini disampaikan Hatta saat memberi pidato di Permoesjawaratan Pamong Pradja: Solo, 7 Februari 1946. Hatta menggunakan kata “oeraian” dan “penerangan jang djelas”. Hatta tak ingin mendominasi tafsiran atas demokrasi. Hatta mengajak publik untuk belajar bersama tentang demokrasi. Siasat ini mengingatkan kita ke masa 1920-an dan 1930-an saat Hatta menggerakkan Perhimpunan Indonesia dan PNI Baru. Hatta menginginkan demokrasi adalah “pendidikan”. Politik berjalan oleh kemauan mencari “terang”. Politik mengubah gelap ke terang melalui agenda-agenda pendidikan dan politik-literasi.

Buku ini pantas diajukan ke para elite politik atau kaum parlemen. Mereka mesti rajin belajar tentang demokrasi atau “kedaulatan ra’jat”. Para pemilik dan penggerak partai politik juga mesti menginsafi diri dengan menelisik jejak-jejak gagasan dan amalan demokrasi di masa silam. Politik Indonesia hari ini terlalu ramai tapi “bebal”. Mereka mungkin lupa Hatta sebagai referensi demokrasi. Tulisan-tulisan Hatta pun jarang muncul dalam obrolan politik atau suguhan opini di pelbagai surat kabar. Demokrasi di Indonesia di abad XXI seolah tak bermasa lalu.

Hatta berkata: “Kedaulatan ra’jat jang berarti pemerintahan ra’jat menghendaki ra’jat mempoenjai keinsafan politik. Hanja dengan keinsafan politik dapat timboel rasa tanggoeng djawab, jang mendjadi tiang dari pada pemerintahan ra’jat. Oleh karena itoe perloe diadakan didikan politik bagi ra’jat.” Kalimat-kalimat Hatta tampak memikat. Kita cuma meragu: kalima-kalimat itu dilupakan oleh elite dan partai politik. Mereka tidak menjalankan misi mendidik tapi mengibuli. Mereka tak memiliki “keinsafan politik”. Aduh! Politik di Indonesia memang patut mendapati sinisme.

Buku kecil dan tipis ini menjelaskan “kedaulatan ra’jat” dan “demokrasi” tanpa bujukan-bujukan picisan. Hatta mengajak pembaca merenung dan menunaikan amalan-amalan politik bermartabat. Pesan Hatta pantas diumumkan kembali di ruang-ruang politik Indonesia: “Nasib Indonesia dimasa datang bergantoeng kepada keinsafan politik ra’jat. Sebab itoe, marilah kita memperloeas dan memperdalam, pendidikan politik ra’jat. Ini adalah kewadjiban kita semoeanja, sebagai pemangkoe negara, dan djoega kewadjiban bagi segala partai politik.” Aku mengutip Hatta untuk tak melupakan sejarah dan politik-berliterasi. Begitu.

KR 1 Kedaulatan Ra'jat KR 2

Iklan