Tag

, ,

Bandung Mawardi

Tulisan ini bermula dari ragu dan ingin tahu. Aku telah berulang memandang, memegang, membaca buku tak bersampul tapi menggoda. Buku aneh dan tak mungkin remeh. Aku membeli buku itu sekian tahun lalu. Buku selesai terbaca sebelum menikmati majalah Tempo edisi 20-26 Agustus 2012: Ernest Douwes Dekker: Inspirasi Bagi Revolusi Indonesia. Buku itu telah lama ada di rumah: bercampur dengan ribuan buku-buku lawas.

Aku pernah berikhtiar mencari informasi melalui buku Margono Djojohadikusumo berjudul panjang: Catatan dari Lembaran Kertas yang Kumal, Dr. E.F.E Douwes Dekker (Dr. Danoedirdjo Setiabudi), Seorang yang Gentar Menunjung Tinggi Suatu Cita-cita Hidup: Kemerdekaan Politik Indonesia. Buku ini terbitan Bulan Bintang (1975). Buku garapan Margono Djojohadikusumo juga aku temukan dan khatamkan sebelum mendapati Tempo. Margono Djojohadikusumo menulis: “… Gubernur Jendral (van Limburg Stirum) menentukan dalam surat rahasia tertanggal 15 Januari 1923 nomor 3 a/ 1, bahwa bagi seorang yang mengalami tekanan batin seperti D.D. (Douwes Dekker) lebih baik diberi kesempatan untuk mendapat nafkah secara legal dari pada menghasut rakyat.” Keterangan lanjutan: “… D.D. mengabdikan jiwa dan raganya pada lembaga pendidikan ini yang kini dia namakan Ksatrian Instituut.” Penggalan kisah ini terjadi di Bandung (1920-an-1930-an).

Penasaran belum mendapat jawab. Aku masih harus mengutip keterangan Margono Djojohadikusumo bahwa Douwes Dekker selama mengurusi Ksatrian Instituut sibuk menulis buku-buku ilmiah: “Khususnya itu adalah buku-buku peljaran untuk sekolah-sekolah menengah”. Kalimat ini mulai melegakan saat digenapi informasi: “Selanjutnya mengenai sejarah Indonesia, dari mana rupa-rupanya sudah terbit tiga judul.” Kalimat ini tak lengkap. Margono Djojohadikusumo tak mengungkap judul buku, penerbit, tahun, tebal.

Aku pun meragu. Aku memiliki buku lawas sesuai keterangan Margono Djojohadikusumo tapi masih belum terang. Buku itu tak bersampul utuh. Aku merasa buku itu mengandung aroma sejarah. Jenis kertas dan ejaan mengesankan hasil dari masa silam. Guntingan judul dan penerbit juga mengarah ke “pembenaran” informasi Margono Djojohadikusumo. Buku itu berjudul Sedjarah Indonesia terbitan Poestaka Ksatrian (Bandung) dan dicetak oleh Bandoeng Insatu Kozyo. Penulis: Dr. E.F.E Douwes Dekker. Keterangan tahun terbit tak ada. Halaman-halaman awal pun hilang. Keinginan mendapati keterangan di halaman “pendahoeloean” tak terkabulkan.

Aku menduga buku ini “memang” garapan Douwes Dekker. Halaman daftar isi memuat judul-judul bab mengenai “zaman poerbakala” dan “zaman tengah”. Susunan materi buku mirip buku pelajaran: urut, ringkas, jelas. Aku bingung saat mendapati penulisan tahun. Penulis menggunakan kalender ganjil untuk mengabarkan penggalan-penggalan sejarah di Indonesia. Bingung agak terjawab oleh coretan dan penggantian angka-tahun oleh pemilik-pembaca buku itu dari masa silam.

Aku sulit mencari orang sebagai “tukang jawab” atas sekian ragu. Buku itu mesti ada di ruang sejarah: tak boleh terlupakan. Buku Sedjarah Indonesia terus “berdiam” di rumah tanpa penjelasan lengkap.

Aku ingin pamer kutipan dari buku itu agar ada “ikatan” sejarah buku dan peran Douwes Dekker selaku pendiri Indische Partij (1912). Partai ini menggunakan lambang tokoh wayang: Kresna dan Arjuna. Douwes Dekker mungkin gandrung wayang untuk mengisahkan politik di Indonesia. Simaklah: “Djadi wajang itoelah sebagai kitab agama jang hidoep… Dahoeloe wajang itoe tjoema dipertoenjoekan kalau ada kedjadian jang penting. Pertoendjoekan ini, sebetoelnja boekan pesta, melainkan pernjataan kebaktian kepada roh.”

Keinginan mencari keterangan komplet tentang buku itu juga tak terjawab di Tempo. Aku cuma bisa simak informasi bahwa Douwes Dekker menulis dan menerbitkan buku berjudul Sejarah Kuno Indonesia. Imbuhan penjelasan: “Kelak usahan penerbitan inilah yang menjadi sayap bisnis Ksataian Instituut yang paling banyak menghasilkan duit untuk pengembangan pendidikannya.” Judul buku di Tempo berbeda dengan buku di rumahku. Aku tak tahu judul resmi: Sedjarah Indonesia atau Sejarah Kuno Indonesia. Sejarah Indonesia memang masih sering mengandung pertanyaan sulit terjawab. Buku Sedjarah Indonesia telah membuat diriku “berkeringat” untuk mendamba jawab. Ah!

Ragu belum rampung. Aku malah semakin penasaran dengan Douwes Dekker mengacu ke pengisahan Ki Hadjar Dewantara (1952). Mereka adalah dua lelaki ampuh di masa kolonialisme. Ki Hadjar Dewantara turut bergerak di Indische Partij dan mengurus pers bersama Douwes Dekker.

Ki Hadjar Dewantara menggodakku selaku pembaca buku lawas: “Setyabuddy (Douwes Dekker) ada seorang ahli seni-sastera, namun ia tak berkesempatan untuk berkembang sebagai auteur pengarang. Bagaimana djuga buku-buku karangannja, jang tidak banjak itu, membuktikan adanja pembawaan atau bakat mengarang dalam djiwanja. Ia pernah menulis buku roman-sedjarah jang berkepala Ratu Darawati (melukiskan djatuhnja keradjaan Modjopahit), pula buku Siman de Javaan (menggambarkan nasib rakjat djelata dan tani, jang diperkuda oleh bangsa Belanda). Saja sendiri pernah membatja berbagai tjeritera jang ditulis D.D. ketika ia ada dalam tawanan di Ceylon, terhias dengan gambaran-gambaran lukisan dari tangannja.” Douwes Dekker memang ampuh. Douwes Dekker mesti dijuluki sastrawan dan sejarawan!

Ki Hadjar Dewantara melanjutkan: “Sajang tjeritera-tjeritera tadi ta’ pernah diterbitkan dan hanja diserahkan kepada anak-anaknja, karena semuanja memang berupa tjeritera-tjeritera untuk kanak-kanak. Dapatlah kami menjatakan disini, bahwa Setyabuddy memang ada seorang seniman.” Pengakuan ini pantas diumumkan ke publik agar ada pemahaman utuh atas sosok Douwes Dekker. Penting!

Aku tak ingin meneruskan tulisan ini dengan “ragu” dan penasaran. Buku Sedjarah Indonesia dan biografi Douwes Dekker telah menggoda tanpa jawab. Begitu.

Douwes Dekker

Sedjarah Indonesia

Tempo

 

Iklan