Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Buku kehilangan sampul. Aku tak bisa memastikan gambar dan huruf di lembaran sampul. Garapan sampul di tahun 1930-an sulit diangankan. Sampul telah hilang tapi tak menghilangkan pikat tafsiran. Buku itu telah berusia tua: tak musnah. Aku masih bisa merawat dan mencatat.

Aku termangu di tulisan judul: Serat Sinaoe Meneng. Ajaran untuk diam perlu diajukan sebagai pembelajaran. Buku tentang “belajar diam” itu memang mengesankan “kebatinan”. Urusan diam adalah olah-batin dan terejawantah ke perilaku hidup. Penulisan dan publikasi buku-buku kebatinan di masa 1930-an menunjukkan situasi kultural dan reaksi atas politik-kolonialisme. Anutan orang Jawa ke dunia batin memberi suluh untuk melakoni hidup dengan “ajaran-ajaran” demi kehormatan, kemuliaan, keagungan, kebersahajaan: adab.

R.M. Soerjo-Winarso selaku pengarang tampak mengumumkan wejangan hidup bermula dari diam. Buku setebal 22 halaman memuat ajaran diam berlatar kosmologi kejawaan. R.M. Soerjo-Winarso menjelaskan dalih menulis Serat Sinaoe Meneng: “… bade damel olear-oelar minangka antjer-antjeripoen para sederek ingkang sami ngoedi kawruh.” Buku itu memang diniatkan sebagai referensi tanggapan hidup. Pengarang memberi petuah dan petunjuk bagi pembaca agar bisa “belajar-mengalami” diam di segala situasi dan peristiwa hidup.

Aku cuma tahu bahwa zaman 1930-an mengandung “krisis”. Halaman-halaman sejarah sering mencantumkan ungkapan “zaman meleset”. Indonesia turut menanggung konsekuensi krisis ekonomi di Amerika dan Eropa. Orang-orang mengalami derita di zaman tanpa janji keselamatan. Aku juga mengerti tentang arus polemik di kalangan sarjana dan pujangga untuk menentukan kiblat ideologi-kultural. Pergerakan politik mulai mengeras oleh agenda-agenda partai politik. Aku ingin memberi konklusi tak pasti: 1930-an adalah “zaman ramai”. Kehadiran buku tentang ajaran dan ajakan diam adalah resistensi kultural-batiniah di “zaman ramai”. Diam adalah sikap hidup.

Buku Serat Sinaoe Meneng mengalami cetak ulang di tahun 1935. Keterangan ini tak sekadar petunjuk kelarisan. Publik tentu memiliki “gairah tak biasa” membaca dan mengamalkan ajaran-ajaran tentang diam. Buku itu terbit di Purwokerto (Jawa Tengah). Aku masih mengimajinasikan: sistem peredaran buku dan resepsi pembaca. Purwokerto jarang muncul di pengisahan sejarah literasi Indonesia. Buku itu membuktikan ada ikhtiar menanggapi zaman dengan penerbitan buku meski kecil dan tipis. Buku itu juga muncul sebagai keganjilan berlatar publik tak melek-huruf. Jumlah murid dan lulusan sekolah di masa 1930-an tentu terbatas. Mereka menjelma pembaca. Mereka disuguhi buku bersahaja tapi “berkhasiat”.

Ajaran diam di zaman ramai? Aku ingin memberi kutipan filosofis: “Meneng ikoe ija ora apa-apa, ora keprije-keprije, ora obah-obah. Dadi terange: jen loenggoeh kaja toenggak, jen ngadeg kaja pal, jen tetoeron kaja balok. Moelane jen sinaoe meneng ikoe ora gimir dening apa-apa kang angganggoe; oepama ditjokot ing lemoet oetawa tinggi lan sedje-sedjene….” Aku tidak bisa menerjemahkan semua ke dalam bahasa Indonesia. Diam bisa diartikan “tidak berbuat apa saja” atau “tak bergerak”. Penjelasan wagu dan tak memadai. Aku merasa mengerti saja meski mengarah ke diri. Belajar diam memerlukan keberterimaan bahasa. Pengarang pun mengakui bahwa misi mewartakan ajaran diam sengaja menggunakan bahasa Jawa ngoko agar berterima ke publik tanpa nalar-imajinasi rumit.

Diam berkaitan dengan tubuh, ruang, waktu, alam, benda, peristiwa. Pengarang menjelaskan sekian hal secara ringkas dan rinci demi kemafhuman publik. Diam itu ejawantah kedirian. Diam mengandung kehendak refleksi. Diam mengajarkan mawas diri. Diam itu olah kesabaran. Diam adalah situasi batin terjelmakan dalam ketubuhan.

Buku ini bacaan publik di masa 1930-an. Diam mungkin menjelaskan harga diri dan sikap (hampir) politik jika mengarah ke situasi zaman kolonialisme. Pembaratan dan modernisasi pun berlangsung di Jawa. arus besar itu bakal merepotkan orang Jawa saat melakoni hidup secara “tenang” dan “pasrah”. Diam adalah ajaran bermisi  menanggulangi pesimisme atau kerapuhan batin di “zaman ramai”.

R.M. Soerjo-Winarso mengingatkan: “Adja moeng meneng jen lagi kesoesahan bae, nglakoni meneng,” Derita dan kesusahan memang sering dijadikan alasan diam. Manusia bergantung sebab-akibat. Diam tak sekadar “akibat”. Diam justru membuktikan laku-hidup di segala situasi. Diam untuk menenangkan, membersihkan, membeningkan.

Aku ingin buku ini bisa jadi ingatan tentang diam sebagai sikap hidup di masa silam. Buku ini tak mungkin disepelekan. Serat Sinaoe Meneng mengandung khasiat meski  aku terlambat membaca-menafsirkan. Buku ini “mengesahkan” literasi sebagai medium sebaran ajaran hidup di “zaman ramai”.

Serat Sinaoe Meneng bakal manjur mengubah Indonesia jika diajukan ke kaum elite politik selaku “tukang omong” dan “pembuat seribu ulah”. Begitu.

Serat Sinaoe Meneng 2

Serat Sinaoe Meneng 1

Iklan