Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Buku ini tak selawas atau semoncer buku susunan Adi Negoro berjudul Melawat ke Barat (1930). Aku menganggap buku Melawat ke Amerika (1954) garapan Nj. N. Aulia-Salim adalah ikhtiar mengingatkan pembaca atas kesaksian pribumi saat menghadirkan diri di negeri asing. Adi Negoro menulis kesaksian di masa kolonialisme. Tulisan-tulisan disuguhkan ke pembaca dengan “undangan imajinatif”. Aulia-Salim menulis di saat Indonesia sudah berdaulat. Tulisan-tulisan pun tak cenderung diajukan ke sidang pembaca umum. Buku Melawat ke Amerika mirip janji kecil kesaksian ketimbang pelaporan jurnalistik.

Buku Melawat ke Barat dan Melawat ke Amerika di masa 1930-an dan 1950-an merupakan referensi untuk mengangankan kehidupan dan orang di sekian negeri asing. Kalimat-kalimat bisa menjelaskan pelbagai hal. Foto turut memberi aksentuasi atas “pengalaman” ada di negeri jauh. Dua buku itu telah bersejarah. Aku sulit menemukan lagi kehadiran buku ala Adi Negoro atau Aulia-Salim. Buku-buku tentang pengembaraan atau pelesiran ke pelbagai negeri memang berlimpah tapi jarang memukau. Kalimat dan foto di buku-buku “pelesiran” hampir mengarah ke narasi-narasi turistik.

Aku justru mengharapkan buku-buku sejenis Melawat ke Barat dan Melawat ke Amerika digarap oleh kaum parlemen saat mereka pelesiran ke Perancis, China, Amerika Serikat, Brazil, Jerman. Mereka memiliki latar intelektual dan modal untuk menulis kesaksian. Aku tak ingin menuduh mereka adalah “kaum goblok”. Mereka jadi manusia-parlemen karena pintar alias melek-huruf. Aku cuma ingin mereka membuktikan otoritas keintelektualan dan politik melalui tulisan. Berita-berita di koran dan televisi justru mengabarkan mereka bergairah jalan-jalan, belanja, piknik. Kesaksian sekadar foto. Pelesiran tanpa kesaksian. Pelesiran tak menuai berkah bagi publik. Aku terlalu bermimpi mendapati buku berjudul Pelesiran ke Jerman, Pelesiran ke Perancis, Pelesiran ke Brazil.

Penggunaan kata melawat pantas bagi Adi Negoro dan Aulia-Salim. Kata itu tampak ganjil jika digunakan kaum parlemen. Mereka mesti menggunakan kata pelesiran. Kata ini tak harus tunduk dengan dalih mereka: “studi banding” atau “kunjungan kerja”. W.J.S. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1951) mengartikan kata melawat: “bepergian hendak mengundjungi (negeri lain); datang menengok.” Kata pelesir atau pelesiran berarti “bersenang-senang, mentjari kesenangan (kesukaan); berdjalan-djalan untuk bersenang-senang, bertamasja.” Penggunaan judul dengan kata melawat di buku Adi Negoro dan Aulia-Salim tepat alias lazim.

Aulia-Salim memberi pengakuan atas dalih penerbitan buku: “Surat-surat ini ditulis mulanja bukan buat ditjetak. Waktu kami akan bertolak keluar negeri, seroang dari saudara-saudara saja meminta supaja saja akan tetap menulis surat mentjeritakan kisah pengembaraan kami. Ia ingin mengetahui dengan njata segala hal ihwal perdjalanan kami dari awal sampai keachir.” Perlawatan dilakukan oleh Aulia-Salim di tahun 1951. Kumpulan surat itu terbit berjudul Melawat ke Amerika (1954). Buku itu laris dengan bukti mengalami cetak ulang di tahun 1954.

Amerika tentu memikat di mata orang-orang Indonesia. Masa 1950-an pengaruh Amerika telah meresap dalam ke benak Indonesia. Film-film dari Amerika jadi kegandrungan publik. Cerita-cerita asal Amerika diterjemahkan oleh para pengarang. Para sarjana Amerika diturunkan ke Indonesia untuk meneliti dan mengisahkan pelbagai hal. Orang-orang Amerika juga mulai terlibat ke dunia seni rupa Indonesia. Amerika mungkin akrab dengan nafas Indonesia saat bergerak di jalan modernitas.

Kehadiran buku Melawat ke Amerika tentu berkah. Orang-orang ingin mengetahui Amerika. Pembuktian memerlukan uang dan waktu. Mereka pun menganggap buku adalah rujukan untuk mengimajinasikan Amerika. Simaklah laporan ketakjuban Aulia-Salim saat di New York: “Tetapi djembatan-djembatan dikota N.Y. memanglah dari mulanja sudah mengagumkan. Kalau siang tertjengang kita melihat besar pandjangnja, kokoh tetapi ramping dan semampai. Kalau malam sungguh matjam tjerita, gemerlapan dengan beribu-ribu lampu elektris, hingga makin indah nampak bentuknja.” Deskripsi impresif! Pembaca tentu tergoda untuk berpengharapan bisa melihat sendiri jembatan di New York. Orang-orang Indonesia di masa 1950-an memang jarang memiliki kemampuan uang untuk menjadi turis di negeri-negeri asing. Adegan membaca buku seperti perlawatan imajinatif.

Aku juga ingin ke Amerika. Aku belum memiliki uang. Aku tak bisa bahasa Inggris. Amerika mesti ada di rengkuhan. Aku bakal ke Amerika untuk menaburi kata. Aku tak mau sekadar melawat sebagai orang biasa atau orang parlemen.

Buku Melawat ke Amerika adalah dokumentasi awal pengenalan orang Indonesia atas Amerika. Aulia-Salim memang terpikat tapi fasih memberi kritik. Aulia-Salim tak sepert orang-orang Indonesia abad XXI: mengamerika dan pemuja Amerika. Indonesia terlalu terpengaruhi dan dipatuhkan oleh Amerika. Urusan ekonomi, politik, seni, teknologi, pendidikan, pakaian, film, lagu, makanan selalu “mengamerika”. Aku pun mengakui bahwa Amerika memang “menimang” dan “momong” Indonesia.

Informasi Aulia-Salim pantas disimak agar adak keinsafan sejarah gerakan nasionalisme di Amerika: “Sepandjang kabar jang kita dengar, dikota San Fransisco ini ada lebih kurang 200 orang bangsa kita. Waktu perdjuangan kemerdekaan kita sedang hangat dinegeri kita, pemuda-pemuda kita disini dengan bermatjam-matjam akal dan usaha mempropagandakan perdjuangan kita itu. Tjukup pula mereka berdjerih-pajah sedapat-dapatnja. Baru inilah kita medengar djasa-djasa pemuda kita diluar negeri terjadap perdjuangan kemerdekaan ditanah air kita. Usaha ini mendjadikan pertalian kokoh antar mereka.”

Aku kaget membaca laporan Aulia-Salim. Buku-buku sejarah jarang memberi halaman tentang gerakan nasionalisme Indonesia di Amerika. Aku cuma sering menemukan buku-buku tentang gerakan politik nasionalisme di Belanda. Perhimpunan Indonesia menjadi lokomotif perlawanan kolonialisme. Soewardi Soerjaningrat, Hatta, Sjharir pernah menggerakkan agenda-agenda politik saat hidup di Belanda. Aulia-Salim memberi informasi penting meski jarang tercantum di buku sejarah.

Agenda melawat ke Amerika pun memberi ingatan atas sejarah dan jejak-jejak puja Amerika. Buku Melawat ke Amerika penting sebagai bacaan untuk menilik Indonesia masa silam. Buku tak sekadar kumpulan kalimat tapi ajakan mendefinisikan Indonesia di hadapan Amerika. Begitu.

Melwat ke Amerika 1

Melawat ke Amerika 2

Iklan