Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Kata-kata bertebaran di pendopo. Peristiwa agung diselenggarakan oleh para pejabat, pujangga, pendidik, seniman: Kongres Kebudajaan ke-2, Magelang, 2o-24 Agustus 1948. Pendopo jadi ruang semaian gagasan dan pengharapan. Catatan acara pembukaan: “… dimanakah revolusi nasional jang sedang kita alami ini mempengaruhi kebudajaan kita?” Pertanyaaan ini muncul bersama seribu argumentasi dan konklusi.

Ali Sastroamidjojo selaku Menteri Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan memberi wejangan: “Saja ingin supaja angkatan muda itu memperdjoangkan ideologi kebudajaannja dengan semangant jang menjala-njala dan menggelora berhadapan dengan apa jang dianggapnja kolot-kuno. Tetapi dalam pada itu perlu pula diinsjafi bahwa kebudajaan sesuatu bangsa didalam sedjarah umat manusia ini tak pernah terputus-putus perdjalanannja.” Wejangan ini tampak mengingatkan deru revolusi adalah milik kaum muda. Aku merasa ada ketegangan ideologis saat revolusi dipahami di Kongres Kebudajaan (1948). Penjelasan gamblang tentang kubu tua dan kubu tua menentukan orientasi ideologis.

Aku malah ingat konklusi Ben Anderson: kaum muda menggerakkan revolusi Indonesia. Rasionalitas politik dan gairah ideologi lekas “menjelma” oleh gerakan kaum muda. Revolusi berarti kaum muda. Aku tak ingin melanjutkan uraian-uraian Ben Anderson untuk mengenang majalah Indonesia, No.I-II, Djuni-Djuli 1950, Tahun ke-I terbitan Lembaga Kebudajaan Indonesia (Djakarta). Majalah ini memuat pidato dan laporan mengenai Kongres Kebudajaan (1948) di alam revolusi. Pengutipan wejangan Ali Sastroamidjojo dan Ben Anderson sekadar merangsang ingatan atas peran kaum muda dalam agenda-agemda politik dan peradaban.

Aku belum  bisa memastikan efek Kongres Kebudajaan (1948) dan pengumuman Surat Kepertjajaan Gelanggang (18 Februari 1950). Tema “kebudajaan” terus dirumuskan dan ditafsirkan mengacu ke sekian kiblat ideologi. Aku menduga masa itu Indonesia ramai perdebatan dan argumentasi. Aku menganggap akhir 1940-an dan 1950-an adalah “zaman argumentasi”. Aku perlu mengutip kalimat-kalimat dalam Surat Kepertjajaan Gelanggang: “Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang jang harus dihantjurkan. Demikian kami berpendapat bahwa revolusi tanahair kami sendiri belum selesai.” Ada persamaan urusan antara Kongres Kebudajaan (1948) dan Surat Kepertjajaan Gelanggang (1950): revolusi dan kaum muda.

Aku mengutip seruan Ali Sastroamidjojo untuk perbandingan garapan tematik: “Tiap-tiap revolusi  mempunjai krisis , tidak sadja krisis kebudajaan. Pada permulaan ialah rusaknja keseimbangan kebudajaan jang lahir dan kebudajaan jang batin, akan tetapi selain daripada itu saja kemukakan disini bahwa krisis itupun disebabkan oleh karena angkatan muda jang berhadapan dengan angkatan tua, jang didalam riwajat kebudajaan selalu berhadap-hadapan dan menimbulkan pertentangan jang hebat sekali.”

Aku melek saat menemukan alur besar perdebatan di masa silam. Indonesia tak sekadar politik. Indonesia tak melulu revolusi. Indonesia pun memiliki tema agung: kebudajaan. Tema ini menggelisahkan tapi menggairahkan. Orang-orang bersaing suguhkan tulisan atau menebar argumentasi melalui pidato-pidato. Aku pasti bakal cerewet jika hidup di masa 1950-an. Aku tentu rajin menulis seribu esai dan keliling desa-kota mengucap pidato-pidato.

Paduka Jang Mulia Presiden-Soekarno dalam Kongres Kebudajaan (1948) memberi amanat dengan sindiran: “Kita belum mengalami kebudajaan nasional.” Sindiran mendapat sindiran oleh para pujangga dan seniman dalam Surat Kepertjajaan Gelanggang: “Kami tidak memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudajaan Indonesia. Kalau kami berbitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudajaan jang lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan batu jang sehat.” Mereka pun sesumbar tentang pemaknaan “kebudajaan” agar tak tak terseret oleh pusaran kekuasaan. Perbedaan tafsir tampil berpamrih “gejolak” membentuk dan menggerakkan Indonesia.

Orang-orang tetntu masih inga dengan kalimat-kalimat mengandung sengat: “Kebudajaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara jang disebabkan suara-suara jang dilontarkan dari segala sudut dunia dan jang kemudian dilontarkan kembalai dalam bentuk sendiri. Kami menentang segala usaha-usaha jang mempersempit dan  menghalangi tidak betulnja pemeriksaan ukuran-nilai.” Pengumuman arogan! Aku mungkin bisa juga arogan jika hidup di masa itu bersama Chairil Anwar, Asrul Sani, Soekarno, Ki Hadjar Dewantara. Aku merasa takjub: orang-orang sanggup membuat kalimat-kalimat megah atas nama “revolusi” dan “kebudajaan”.

Majalah Indonesia ini mendokumentasikan sekian pidato dan perdebatan. Aku jarang membaca tulisan-tulisan tentang “kebudajaan” merujuk ke majalah Indonesia (1950). Aku menduga ada alur ideologis bersambung ke Surat Kepertjajaan Gelanggang, Sikap dan Pendirian Lembaga Kebudajaan Rakjat terhadap Keadaan Dewasa Ini, Manifes Kebudajaan. Nalar dokumentatif memang belum jadi acuan untuk membaca Indonesia. Aduh!

Aku selesaikan kenangan ke “zaman argumentasi” dengan mengutip konklusi Kongres Kebudajaan (1948). Simaklah: “Bahwasanja di Indonesia ada kekatjauan kebudajaan, terutama akibat pendjadjahan dan kapitalisme dizaman jang lalu, berserta peralihan sosial jang cepat sekali diwaktu achir-achir ini.” Zaman argumentasi pantas dikenang sepanjang masa tanpa harus terjerat di buaian konklusi. Begitu.

Indonesia 1

Indonesia 2

Iklan