Bandung Mawardi

Buku itu merah. Angka-angka merah di halaman-halaman buku nasib murid. Aku sering membuat angka merah di buku tipis. Angka merah itu berjajar dengan keterangan: Bahasa Inggris. Aku sulit meratap atau menangis jika melihat di halaman buku ada angka merah. Angka itu hasil dari kebebalan dan kemalasan hidup bersama Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran. Aku tak pernah menginginkan tapi negara memaksa: Bahasa Inggris mengusik sejak SMP sampai kuliah. Aku enggan memberi kecupan mesra atau pelukan bernafsu untuk Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran dan mata kuliah. Lembaran nilai perkuliahan ada huruf D di kolom-kolom mengenai Bahasa Inggris. Aku menatap huruf itu tanpa sesalan.
Aku telanjur sulit menggandrungi bahasa Inggris. Aku memang sering mendengar lagu-lagu cengeng berbahasa Inggris sejak SMP. Aku masuk ke kamar bapak: memberi telinga ke radio. Lagu-lagu berbahasa Inggris tak pernah aku mengerti. Aku cuma menganggap itu suara-suara asing. Aku mendengar tanpa kehendak melafalkan lirik berbahasa Inggris. Aku cuma berlagak merasai pedih dan haru disebabkan lagu. Aku tak berurusan dengan arti lirik lagu berbahasa Inggris. Bapak pun tak pernah mengurusi bahasa Inggris saat aku menumpang di kamar usai pulang sekolah sampai petang. Bahasa Inggris itu lagu tapi tak perlu arti atau terjemahan. Bahasa Inggris teka merangsang?
Aku ingin mengenalkan buku tebal di masa silam untuk mengingat pikat bahasa Inggris di Indonesia. Aku tak bisa berbahasa Inggris tapi merasa bisa bercerita tentang bahasa Inggris. Sombong tak bertanda seru.
Toean TH. A. Du Mosch dan Toean S. Weijl Jr. mengeluarkan buku mujarab berjudul Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris (1937). Judul dilanjutkan keterangan: “Bagei anak-anak negari Azia, terhitoeng: Djepang, Tionghoa, Arab, Keling, Benggala, Kodja dan sekalian orang-orang jang berdiam di tanah Hindia dan dairahnja, jang telah mengarti itoe bahasa Melajoe biasa”. Buku ini mengandung petunjuk: “Sesoekanja sendiri dengan pertoeloengan goeroe atau tida.” Buku terbitan Gebroeders Graauw’s Uitgevers-Maatschappij N.V. Amsterdam-Soerabaia ini tentu memiliki pengaruh besar di masa silam.
Aku memiliki buku ini tapi tak menerima rangsang untuk menekuni pelajaran bahasa Inggris. Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris aku jadikan bacaan mengenang godaan bahasa Inggris di negeri terjajah. Aku menduga bahwa orang-orang di masa 1920-an telah menggandrungi bahasa Inggris. Gandrung itu ada bersama penggunaan bahasa Jawa, bahasa Melayu, bahasa Belanda. Bahasa Inggris ada di timangan orang-orang berhaluan modern.
Aku perlu memperkenalkan penulis buku: “Toean TH. A. Du Mosch alias sinjo Tjo, peranakan tanah Hindia, sekarang goeroe besar bahasa Belanda dan Melajoe, djoeroebahasa atas soempah di Amsterdam. Toean S. Weijl Jr., goeroebesar bahasa Belanda, Djerman, Prantjis, Inggris, Portoegal dan djoeroebahasa di Amsterdam.” Mereka tentu hebat. Aku sungkan bertepuk tangan untuk mereka.
Mereka berniat mengajarkan bahasa Inggris bagi orang-orang di Asia. Misi mulia! Bahasa Inggris bakal mengundang terang dunia. Bahasa Inggris mengesahkan kemodernan. Bahasa Inggris mirip sihir dunia.
Apa makna pengajaran bahasa Inggris dan kehadiran Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris di Hindia-Belanda? Jawaban ada di pengakuan para penulis buku: “Dengan tidak berasa berdosa, sengadja kita atoerkan  boenji kitab ini dengan kita memakei bahasa Melajoe-bitjara sahadja, karena kita berpikir jang ini bahasa, jang telah terpakei oleh si saudagar-saudagar waktoe zaman doeloe, sabelomnja tahoen 1888, akan mengartiken dirinja waktoe zaman toekaran barang-barang satoe pada si lain.” Penggunaan bahasa menentukan agenda perdagangan. Mereka mengartikan bahasa Inggris adalah “bahasa international dalem doenia dagangan”.
Aku pun mengerti bahasa Inggris sungguh penting untuk nasib orang atau negara. Pejabat di Indonesia pernah menganjurkan agar bahasa Inggris menjadi mata pelajaran kunci sejak SD. Anjuran itu bertujuan agar manusia Indonesia bisa bersaing dalam pergaulan ekonomi dunia. Bahasa Inggris terbukti menggerakkan perekonomian dunia. Bahasa Inggris di abad XX dan XXI adalah bahasa bernalar ekonomistik!
Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris tentu jadi bacaan kaum uang dan kaum pintar untuk mengerti dunia. Buku itu bisa mengantarkan ke angan kesuksesan. Buku mujarab! Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris memiliki 488 halaman. Orang tak bisa membaca cuma sehari atau sebulan. Buku itu harus dipelajari secara tekun agar menjelmakan puja bahasa Inggris.
Aku tak pernah membaca Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris sampai khatam. Aku takut kena kutukan. Aku membaca sebagai lelaki bebal tapi berhasrat mengerti sejarah mengacu ke bahasa. Kesombongan tak bertanda seru. Buku ini membuktikan ada gairah menggunakan bahasa Inggris di masa 1930-an. Bahasa Inggris telah merangsang arus kehidupan di Hindia Belanda.
Aku menaruh buku itu bersama buku-buku lawas dalam lemari baju. Aku ingin buku itu berubah jadi baju. Aku pun bisa mengenakan baju mengandung sejarah bahasa di negeri terjajah. Buku itu pernah ada meski aku sangsi ada para pemuja bahasa Inggris di abad XXI mengenal atau membaca buku itu dengan termangu dan takjub. Aku justru membaca tanpa rangsangan untuk jadi umat berbahasa Inggris.
Aku malahan pernah mengajak buku itu bepergian ke Pare, Kediri, Jawa Timur. Ribuan orang belajar bahasa Inggris di Pare. Aku mengenalkan Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris ke puluhan orang. Mereka mengaku tak pernah menduga ada buku itu di masa lalu. Mereka belajar bahasa Inggris dengan buku-buku terbaru. Mereka tak perlu mengerti sejarah bahasa Inggris di Indonesia. Misi belajar bahasa Inggris: modal mengurusi sekolah-kuliah dan mencari pekerjaan. Mereka menganggap nasib hidup dipengaruhi kompetensi berbahasa Inggris. Ah!
Aku memperlihatkan Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris di hadapan puluhan orang. Aku berpesan dengan mata curiga: Silakan memegang dan melihat Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris. Aku juga mempersilakan mereka mencium atau merasakan bau Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris. Pengalaman mereka bersama Kitab Kursus Besar akan Beladjar Bahasa Inggris selama sekian menit tak mungkin mempengaruhi mereka menghasrati sejarah bahasa Inggris di Indonesia. Begitu.

Kitab 1

Kitab 2

Iklan