Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Orang-orang belum jemu mengurusi jagat pendidikan di Indonesia. Tulisan-tulisan tentang guru, pendidikan, kurikulum, sekolah, buku pelajaran sering tampil di koran dan majalah. Ocehan-ocehan mengenai dunia pendidikan juga sering ada di televisi. Aku mengira: urusan pendidikan sangat gawat ketimbang korupsi atau pemilu. Pendidikan berurusan dengan hal-hal fundamental dalam biografi manusia. Oh! Aku mungkin berlebihan menganggap jagat pendidikan di Indonesia sedang patah hati.

Aku turut menulis sekian esai tentang pendidikan di koran sebagai sajian gagasan dan tafsiran biasa saja. Aku memang memiliki gelar sarjana pendidikan tapi ijazah masih tersimpan di lemari. Tulisan-tulisan tentang pendidikan mengandung maksud sepele: ingat. Aku ingin mengingat bahwa pendidikan menjadi modal besar mengimajinasikan Indonesia sejak awal abad XX.

Jagat pendidikan di Indonesia melaju bersama gagasan dan amalan pendidikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Bapak Pendidikan Indonesia ini terpengaruh Rabindranath Tagore: pujangga dan pendidik di India. Aku mengundang pembaca masuk ke kosmologi pendidikan ala Rabindranath Tagore. Gagasan-gagasan tentang pendidikan termaktub di buku kecil berjudul Rabindranath Tagore sebagai Pendidik (Soeroengan, 1956) susunan H.J. van de Berg. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dikerjakan oleh R.C. Soehartijah.

Publik di Indonesia cenderung mengenal Ki Hadjar Dewantara ketimbang Rabindranath Tagore (1861-1941). Pembaca pun sering menganggap Rabindranath Tagore adalah pujangga. Dua tokoh itu penggerak pendidikan-pengajaran di masa kolonialisme meski berbeda kebangsaan. Rabindranath Tagore tak sekadar pujangga. Sosok ini menjalankan hajatan pendidikan bersahaja tapi mengubah dominasi nalar modern. Pendidikan tak melulu pamrih memuja rasionalitas dan menuruti embusan modernitas. Pendidikan adalah urusan adab, iman, identitas, seni, bahasa, karakter.

Rabindranath Tagore memiliki misi: “India harus bersifat India lagi.” Dominasi Inggris atas nama kolonialisme membuat dunia pendidikan di India bercorak Barat. Rabindratah tak menginginkan India adalah imitasi Inggris. Dunia pendidikan mesti menguatkan identitas-kultural India. Pendidikan menggerakkan adab untuk menampik kolonialisme dan tak terjerat ke penghambaan di kaki kapitalisme-modernitas. Rabindranath Tagore mengamalkan kehendak itu tanpa berteriak atau demonstrasi di jalan. Tulisan, pidato, dan pengelolaan Shanti Niketan adalah bukti tanggung jawab mengurusi pendidikan di India.

Rabindranath Tagore berkata: “Setiap bangsa imperialistis merintangi segala penerangan dan kekuatan pemerintah asing terletak pada kebodohan rakjat jang ditaklukkanja. Pemerintah mengambil sikap seakan-akan membawa penerangan, tetapi sebenarnja menjebarkan kegelapan.” Aku sejenak merenungi kalimat perlawanan ini berlatar kolonialisme di Indonesia. Aku pernah membaca buku memuat informasi tentang agenda merumuskan Rentjana Pendidikan 1949 dikerjakan oleh sekian orang berpendidikan di institusi kolonial-Belanda. Rabindranath Tagore berikhtiar agar dominasi kolonial tak menghancurkan India atas nama “penerangan”.

Aku sungkan menghadirkan seribu kalimat Rabindranath Tagore jika ingin mencurigai agenda pendidikan di Indonesia abad XXI. Aku Cuma mengutip kalimat-kalimat wajar tapi mengena. Rabindranath Tagore berkata: “Bawalah murid-murid kepada kenjataan jang selalu baru dalam hidupnja. Biarlah perkembangan mereka merupakan suatu piknik jang selalu ada landjutnja. Djika demikian tiap hari pengetahuan mereka akan mendjadi lebih kaja dengan sendirinja oleh penjelidikan sendiri dan tidak oleh buku-buku.”  Kalimat-kalimat ini sulit menjadi peristiwa di Indonesia. Murid-murid setiap hari berangkat ke sekolah: bermukim di kelas, suntuk di hadapan buku, bodoh di depan guru. Biografi murid seolah campuran kepasrahan dan penghambaan mengacu sistem pendidikan modern. Kurikulum pun ada untuk mengesahkan “kegelapan” di jagat pendidikan Indonesia.

Gagasan-gagasan Rabindranath Tagore jarang muncul di tulisan atau pidato pejabat di institusi-institusi pendidikan. Aku belum pernah membaca berita atau tulisan bahwa M. Nuh selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengutip renungan-renungan Rabindranath Tagore. Para pengamat pendidikan juga mulai berjarak dengan kosmologi Rabindranath Tagore. Aku mafhum bahwa sosok paling rajin mengutip dan mengamalkan ajaran-ajaran Rabindranath Tagore adalah Ki Hadjar Dewantara. Diskursus jagat pendidikan di Indonesia terlalu ramai dengan referensi-referensi mutakhir asal Eropa dan Amerika. Publik jarang mengingat Ki Hadjar Dewantara dan Rabindranath Tagore. Aduh!

Ki Hadjar Dewantara menulis esai kecil berjudul Hubungan Kita dengan Tagore di majalah Pusara, No. 8, Agustus 1941. Rabindranath Tagore pernah berkunjung ke Taman Siswa (1927). Ki Hadjar menuliskan kenangan: “Tidak usah kita terangkan disini, bahwa kundjungan Rabindranath Tagore kepada perguruan Taman Siswa itu sangat besar pengaruhnja. Sedjak kundjungan itulah lalu banjak orang terpaksa memperhatikan usaha kita dan … banjaklah dari pada mereka itu lalu mengerti, bahwa ada ‘wilde school’, sekolah liar jang tidak buas.” Rabindranath Tagore dan Ki Hadjar Dewantara memang kaum ampuh di dunia pendidikan. Mereka bergerak demi pendidikan menggapai adab dan pemartabatan bangsa.

Aku cuma berdoa agar elite di birokrasi-pendidikan dan pengamat pendidikan menengok ulang gagasan-gagasan Rabindranath Tagore. Buku kecil ini pantas jadi bacaan dan referensi untuk mengurusi jagat pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara saja berguru pada Rabindranath Tagore. Begitu.

Tagore 1 Tagore 2

Iklan