Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Tulisan ini bakal wagu jika dimulai dengan kutipan. Wagu tak harus dihindari. Simaklah: “Bukanlah suatu hal jang baru dikalangan komponis hidup keinginan mengungkapkan rasa kebangsaannja dalam musik jang dikarangnja. Hal ini menggerakkan mereka dalam kegiatan mengumpulkan lagu-lagu jang hidup dikalangan bangsanja dan beladjar pula dari bahan nasional itu. Beladjar dari lagu-lagu jang ditjintai bangsanja untuk pentjiptaan karja baru, karja zamannja sendiri. Dengan begitu para komponis memberi sumbangan kepada sedjarah perkembangan musik nasional bangsanja.”
Kutipan sealinea untuk mengabarkan buku lawas berjudul Lagu-lagu Lama (Balai Pustaka, 1958) susunan Amir Pasaribu. Buku ini memuat 20 lagu lama. Siapa Amir Pasaribu? Aku tak ingin memperkenalkan sosok legendaris dalam jagat musik Indonesia. Aku anggap orang-orang bisa mengetahui lewat buku-buku berdebu di perpustakaan atau menggunakan jurus ampuh di internet. Buku itu mencantumkan keterangan sebagai jilid II. Aku belum pernah melihat dan masih mengimpikan memiliki jilid I.
Aku sering memegang dan membaca buku ini meski sulit berdendang. Suaraku jelek tapi pernah menjuarai lomba melantunkan lagu sekian tahun lalu. Aku disahkan sebagai juara dua. Lagu-lagu aku lantunkan dengan bersahaja. Aku memilih lagu Ebiet G. Ade berjudul Camelia II saat babak final. Penonton terlena mendengar suara dan melihat wajah lelaki sendu. Aku sering hampir menangis saat melantunkan lagu-lagu Ebiet G. Ade. Suaraku memang cengeng.
Aku ingin menampilkan kutipan lirik lagu Tidur Tjahaja Mata. Aku belum pernah tahu ada orang melantunkan lagu wagu dan aneh. Lagu ini mungkin tak mungkin lagi diingat oleh publik.

Tidurlah, tidur, nak. Tidur manis tjahaja mata.
Tidurlah sajang mamak, nak. Buai-buai tidurlah intan.
Tidurlah tjaja mata. Tidurlah sajang mamak, nak.
Tidur, tidurlah sajang, nak. Buai-buai tidurlah intan.

Orang-orang di zaman dulu memang sakti. Mereka menggubah lagu untuk membuat bocah memejam mata dan mimpi indah. Lagu ibarat mantra. Aku tak ingin mengurusi lirik lagu wagu. Aku cuma kagum: urusan tidur bisa jadi lagu. Hajatan membuat lagu adalah ejawantah imajinasi di hamparan realita hidup. Tema itu tentu tak laku untuk abad XXI. Lagu-lagu Indonesia memilih asmaranisme. Aku berharap lagu Tidur Tjahaja Mata bisa dilantunkan oleh Rossa. Aku berdoa agar Rossa mau dan bisa melantunkan lagu itu demi hasratku merasai masa silam. Aku memang ragu Rossa mau melantunkan lagu Tidur Tjahaja Mata. Aku masih ada pengharapan pada Astrid. Perempuan dengan suara unik itu pantas melantunkan lagu Tidur Tjahaja Mata. Amin.
Aku juga kagum menatap halaman memuat lagu Chadam Sakit Perut. Judul lagu ini pasti lekas dicoret para produser di Indonesia di masa sekarang. Aku tak ingin mengusik jagat musik di Indonesia. Simaklah lirik lagu tak cengeng tapi tak murahan.

Aduh, aduh, mak, sakitnja perut.
Aduh, aduh, mak, sakitnja perut.
Aduh sakit perut. Aduh sakit perut.
Mari-mari saja urut. Mari-mari saja urut.

Lagu Chadam Sakit Perut mungkin dicipta oleh ibu bijak dengan pesan agar si bocah tidak makan sembarangan. Makan itu wajib. Makan bisa memberi kenikmatan. Makan pun bisa menimbulkan petaka: sakit perut. Lagu Chadam Sakit Perut adalah lagu wagu. Aku tentu jahat jika membandingkan lagu Chadam Sakit Perut dengan lagu Cobalah Mengerti saat dilantunkan oleh Momo.
Lagu-lagu wagu itu terabadikan dalam buku. Amir Pasaribu membuat siasat literasi agar lagu tak lekas punah. Lagu perlu dicatat dan terbit dalam bentuk buku. Dokumentasi lagu adalah dokumentasi kesejarahan Indonesia. Amir Pasaribu berkata: “Musik rakjat jang turun-temurun adalah dasar dari tjiptaan musik. Musik itu telah lama ada sebelum muntjulnja komponis professional atau jang menjelesaikan studi akademis. Tiap musik instrumental maupun vokal bersumber kepada njanjian dan tarian rakjat. Mustahil pula menjusun studi sedjarah musik tanpa penjelidikan harta milik lagu-lagu rakjat; sama halnja dengan studi kesusasteraan tanpa penjelidikan sjair-sjair dan tjerita-tjerita rakjat.” Keterangan-keterangan ini mesti direnungkan oleh kita!
Amir Pasaribu dengan santun memberi peringatan: “Tiada akan lengkap pengertian tentang hidup djika jang diketahui hanjalah sekedar jang terdapat di kota-kota besar sadja dan mengabaikan jang ada diluar kota, di dusun dan kampung, dipegununngan pedalaman.” Amir Pasaribu mengingatkan tentang biografi-lagu dalam arus peradaban dan sejarah estetika-musik di Indonesia. Peringatan ini harus direnungkan oleh kita!
Aku mengajurkan bagi para umat musik di Indonesia agar mau membaca buku Lagu-lagu Lama. Mereka pun mesti membuktikan diri sanggup memainkan dan melantunkan lagu-lagu wagu tapi memuat jejak-jejak historis-kultural di Indonesia.
Buku ini sangat penting sebagai referensi imajinasi keindonesiaan di abad XXI. Aku memang suka lagu-lagu Dewa, Rossa, Astrid, Ebiet G. Ade, Gesang, Waldjinah, Rafika Duri, Bimbo. Perasaanku bisa terlena dan sedih saat mendengar lagu-lagu mereka. Aku cuma berpengharapan 20 lagu lama di buku Lagu-lagu Lama bisa aku dengar dengan buaian estetika dan kesejarahan. Begitu.

Iklan