Tag

, ,

Bandung Mawardi

Agenda mengenang masa lalu selalu menguak rindu dan pengandaian. Aku tak pernah mengalami hidup di masa 1950-an dan 1960-an. Masa itu membuatku rindu buku. Indonesia masih mendadani diri sebagai negara tapi urusan penerbitan buku terus melaju. Buku-buku politik, sastra, sejarah, ekonomi, pelajaran terbit untuk jadi santapan publik. Indonesia bergerak disebabkan buku. Kalimat genit!

Aku rindu buku. Rindu tak mengarah ke buku-buku pelajaran saat SD, SMP, SMA. Rinduku berkelana ke masa lalu. Buku-buku di masa 1950-an dan 1960-an adalah rujukan rindu. Aku justru sering lupa dengan buku-buku pelajaran di masa 1980-an dan 1990-an. Aku sengaja tidak mengoleksi buku pelajaran saat bersekolah di SD, SMP, SMA. Buku-buku itu jarang menggodaku. Aku pun jarang membeli dan memiliki buku pelajaran. Agenda meminjam adalah siasat lazim di masa sekolah. Simbok dan bapak miskin. Perintah membeli buku dari pihak sekolah adalah neraka. Anjuran meminjam selalu dilaksanakan dengan malas dan cemburu. Aku enggan mencumbui buku-buku pelajaran saat bersekolah.

Buku di masa lalu menggodaku. Buku itu berjudul Tjenderawasih II: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah susunan K. St. Pamoentjak dan M.J. Halim. Buku itu diterbitkan oleh Noordhoff-Kolff N.V. (Djakarta). Buku cantik dan seksi! Aku pun lekas mencumbu tak jemu. Aku sering merindu buku di masa lalu. Rindu!

Sampul buku tampak bersahaja tapi ganjil. Judul buku menggunakan nama burung elok tapi gambar di sampul adalah ayam. Sampul itu wajah. Aku tak bakal menggugat atau mengejak. Wajah buku itu tetap cantik. Aku tentu tergoda. Pembuat ilustrasi di buku Tjenderawasih II: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah: Zaini dan Nasjah. Aku mengadaikan buku sejenis itu diterbitkan di Indonesia abad XXI. Bocah-bocah pasti rajin membaca buku. Buku itu menggod ketimbang garapan buku-buku pelajaran di masa 1990-an dan 2000-an. Percayalah!

Buku itu dijuluki oleh penulis sebagai “kitab batjaan”. Buku Tjenderawasih II: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah berperan menjadi sumber bacaan bagi bocah saat menekuni mata pelajaran. Pembaca disuguhi cerita dan puisi. Aku melamun ke masa silam: bocah membaca buku dengan wajah sumringah. Hari-hari bergairah oleh buku.

Puisi bersahaja terdapat di halaman 7 dan 8. Aku ingin mengutip tiga bait dari puisi berjudul Setiap Pagi. Silakan membaca dengan saksama.

Hari padi embun tjemerlang,

Bintang dilangit mulai hilang,

Ajam berkokok berulang-ulang,

Bangun saudara, djanganlah bimbang!

Sesudah bangun, hendaklah mandi,

Supaja segar tulang dan sendi,

Badan sehat, sakit tak djadi,

Orang melihat, merasa sudi.

Dijka sekaliannja selesai sudah,

Hati tak lagi ‘kan djadi gundah,

Berangkatlah pergi ke sekolah,

Peladjaranpun akan didapat mudah.

Puisi bergelimang pesan. Bocah membaca lalu mengamalkan. Puisi mengajak bocah untuk mandi dan bersekolah. Puisi ampuh! Puisi menganjurkan agar bocah tidak bimbang dan gundah. Aku bertaruh untuk pembaca bahwa Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Goenawan Mohamad, Afrizal Malna tak mungkin bisa membuat puisi sejenis puisi Setiap Pagi. Puisi ini pasti sering dibaca oleh ribuan bocah di Sekolah Rendah. Puisi Setiap Pagi mungkin juga tidak disimpan oleh HB Jassin. Puisi itu mustahil jadi perbincangan di kesusastraan Indonesia modern. Percayalah! Puluhan buku tentang kritik sastra tak memiliki halaman untuk mengapresiasi puisi berjudul Setiap Pagi.

Pembaca bisa membaca cerita bernasihat di halaman 68 sampai 70. Cerita berjudul Sombong Pangkal Tjelaka pantas jadi referensi pengajaran karakter bagi bocah. Cerita ini mengingatkan agar bocah tak berlaku sombong di hadapan orang lain dengan cerita bohong. Harga diri harus berpijak kejujuran dan kesantunan. Kesombongan mengakibatkan celaka. Aku mengutip sekian kalimat dalam cerita Sombong Pangkal Tjelaka.

“Haaai, mari! Lekas kemari! Ini kerbaumu telah kutangkap! Bawalah lekas-lekas tali pengikat!” teriak Makara.

Beberapa orang, jang bersendjata kaju, datang kepada  Makara. Dengan mudah mereka dapat menangkap kerbau besar itu.

Kata jang punja kepada Makara: “Wah, kalau tidak engkau jang menolong menangkapnja, barangkali sudah ada orang jang mati ditanduknja. Kalau bangkit gilanja, apa sadja jang mengalanginja didjalan, didorong dan ditanduknja. Makara, betul-betul engkau anak jang berani.”

Makara pulanglah dengan angkuhnja. Sampai dirumah ditjeritakannjalah, bagaimana ia menangkap kerbau itu dan bagaimana ia mengikat tanduknja dengan akar-akar. “Akan saja bawa sendiri ia kerumah jang empunja, saja takut,” kata Makara kemudian, “karena saja masih ketjil.”

Petikan cerita itu mengandung nasihat kecil tentang kesombongan. Bocah membaca cerita tapi merasa tak mendapati perintah atas nama pelajaran. Cerita bisa memberi kesadaran dan keinsafan. Cerita Sombong Pangkal Tjelaka disajikan secara sederhana. Pembaca pun mendapat ilustrasi impresif meski hitam-putih. Aku merindu cerita-cerita bersahaja dengan tampilan wajar. Suguhan cerita di buku Tjenderawasih II: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah tentu berbeda dengan penerbitan buku-buku cerita di masa sekarang: kertas apik dan gambar berwarna. Sajian cerita memerlukan garapan meriah untuk menggoda bocah selaku pembaca. Konsekuensi penggarapan buku cerita anak secara “komersial” dan “mewah” adalah harga. Aku tak ingin melanjutkan penjelasan-penjelasan tak keruan.

Aku cuma merindu buku di masa lalu. Buku Tjenderawasih II: Kitab Batjaan untuk Sekolah Rendah melegakan rindu. Begitu.

Iklan