Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Lelaki itu ketekunan dan gairah tak pernah padam. Pekerjaan mengumpulkan, membaca, menulis, menerbitkan dijalankan selama puluhan tahun. Dunia kata seolah dunia tak mengenal bosan dan kecewa. Lelaki itu terus mengasuh sastra Indonesia dengan doa, kata, peristiwa. Aku mengenal lelaki itu bernama H.B. Jassin. Nasib sastra Indonesia ada di tatapan mata dan arus kata.

Aku sering sesumbar bakal meneruskan kerja sastra H.B. Jassin. Keinginan ini bermula dari gairah membaca buku-buku sastra. Ikhtiar mengumpulkan buku-buku sastra telah aku lakukan selama 14 tahun. Aku membaca ribuan buku. Bohong! Aku obsesionis untuk urusan buku. Perkataan Edward W. Said adalah rujukan obsesi: “Kepala terkubur di keberlimpahan buku.” Aku menganggap kelumrahan jika Edward W. Said mengeluarkan kalimat berkaitan gairah buku. Aku cuma ingin berumah di buku.

Buku berjudul Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (1948) adalah referensi ingatan atas amalan H.B. Jassin. Buku ini jadi bacaan penting sejak masa akhir 1940-an. Aku sangsi buku itu masih jadi bacaan ampuh bagi umat sastra di Indonesia abad XXI. Dugaanku: umat sastra jarang membaca buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi dan menempatkan di rak perpustakaan atau rumah. Buku ini tak mengalami cetak ulang lagi. Orang tentu sulit mencari buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi. Aku berdoa agar orang-orang bergairah melacak buku-buku lawas dan mengerti episode-episode sastra modern di Indonesia melalui buku-buku suguhan H.B. Jassin. Amin.

Gairah sastra terbaca di halaman kata pengantar: “Bunga rampai ini terdjadi dari kumpulan hasil-hasil kesusasteraan jang dikutip selama semendjak kedatangan Djepang di Indonesia tahun 1942 sehingga 1948. Madjalah dan surat kabar jang dipergunakan ialah: Pandji Pustaka, Djawa Baru, Asia Raja, Kebudajaan Timur, Pantja Raja, Pembangunan, Pembaruan, Nusantara, Arena, Seniman, Wartawan, Gelombang Zaman, Siasat, Gema Suasana, Mimbar Indonesia, d.l.l.” Pemberitahuan ini membuktikan H.B. Jassin adalah pembaca tekun dan pengasuh sastra Indonesia. Buku ini memuat prosa dan puisi dari Anas Ma’ruf,  Amal Hamzah, Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Zumber Usman, Bahrum Rangkuti, Pramoedya Ananta Toer, Tris Sumardjo, Utuy Tatang Sontani, Cahiril Anwar, Idrus, S. Rukiah, Rivai Apin, Asrul Sani.

Jumlah rujukan majalah dan surat kabar di masa 1940-an mengabarkan selebrasi menakjubkan. Sastra ada di zaman subur. Sastra ada bersama lakon kolonialisme dan deru revolusi. Aku selalu berpengharapan menemukan-mengoleksi puluhan majalah dan surat kabar di masa 1940-an. Aku cuma memiliki Kebudajaan Timur, Siasat, Gema Suasana, Mimbar Indonesia.

H.B. Jassin berkata: “… pengarang-pengarang muda kita memang seolah-olah tidak mempunjai tempoh untuk menjelidiki jang sudah silam dalam keinsafan mereka sudah ketinggalan oleh zaman dan kegiatan mereka mau mengedjar jang ketinggalan. Tapi tidak pula bisa disangkal bahwa mereka tetap berdjiwa Indonesia. Jang ditjeritakan ialah suasana di Indonesia, pikiran-pikiran di Indonesia seperti jang hidup pada mereka sebagai anak zaman dan bangsanja.” Keterangan tentang kiblat estetika dan realitas di Indonesia menguatkan anggapan bahwa H.B. Jassin adalah dokumentator dan kritikus sastra. Penggunaan ungkapan “mereka tetap berdjiwa Indonesia” mengandung kabar pergumulan ideologi dan amalan estetika sebagai ejawantah sastra Indonesia.

Uraian H.B. Jassin bisa dibuktikan melalui puisi berjudul Pantjaran Hidup gubahan Amal Hamzah. Puisi ini ditulis 12 April 1943 dan dipublikasikan di Pantja Raja, Th. I, No. 17, 15 Djuli 1946. Amal Hamzah menulis tentang ironi di Indonesia.

 

Dipagi hari

Aku berangkat bekerdja,

Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mentjari nasi.

 

Sepintas hatiku sedih

Terasa miskin badan sendiri

Ditengah kekajaan negeri raja

Awak mendjadi peminta-minta.

 

Lalu mataku menoleh kebadannja

Tampak tegap-teguh semata

Tiada tjatjat membuat tjelaka.

 

Hatiku marah:

Orang begini tak perlu dikasihani

Didunia Allah penuh rezeki

Ia tinggal bermalas diri.

 

Aku menganggap puisi Pantjaran Hidup terlalu lugas mengumumkan pandangan hidup si pujangga. Puisi mengandung saran dan argumentasi. Puisi lekas menjelma propaganda. H.B. Jassin memuat puisi itu di buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi tentu dengan pertimbangan serius.

H.B. Jassin dalam imbuhan keterangan untuk edisi cetak ulan di tahun 1949 menulis: “Hasil-hasil angkatan revolusi ialah hasil-hasil filsafat hidup jang terlahir dari tengah-tengah pergolakan hidup. Mereka dengan radjin menganalisa apakah dirinja, apakah sekelilingnja, jang ‘natural’ dan ‘supernatural’. Dan menjelidiki dan menganalisa itu bukan hanja dengan pikiran, dengan perasaan, tapi dengan menaruhkan seluruh aku. Dan tidak benar bahwa perbedaan angkatan sebelum perang dan sesudahnja hanja terletak dalam bentuk tapi djuga dalam gaja, perubahan bentuk dan gaja jang berakar pada isi. Isi kesusasteraan sesudah perang adalah kehidupan sendiri dan berbitjara kesusasteraan adalah berfilsafat tentang kehidupan.” Aku lama menikmati kalimat-kalimat H.B. Jassin. Konklusi tampak agung: “berbitjara kesusasteraan adalah berfilsafat tentang kehidupan”. Aku menerima konklusi ini merujuk ketekunan H.B. Jassin mengasuh sastra dan kegandrungan membaca buku-buku filsafat, politik, sejarah, agama. H.B. Jassin memang manusia-buku dan juru penerang dalam sastra modern di Indonesia.

Kerja H.B. Jassin membuktikan gairah sastra di Indonesia. Buku Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi adalah dokumentasi ambisius untuk menampilkan sastra berlatar zaman kolonialisme dan revolusi. Aku menganggap buku itu warisan besar. Begitu.

Iklan