Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Aku memiliki saudara-saudara di negeri jauh. Jauh. Aku cuma bisa melihat di peta. Negeri untuk ruang sejarah orang Jawa-Indonesia. Sejarah itu masih teringat meski tak lengkap. Orang Jawa meninggalkan rumah dan desa di suatu zaman. Mereka “bergerak” atau “dipindahkan” ke negeri asing berdalih nasib. Mereka pun mencipta sejarah di Suriname-Amerika Latin.

Catatan resmi menerangkan bahwa 9 Agustus 1890 adalah tanggal bersejarah: rombongan imigran dari Indonesia tiba di Marienburg-Suriname. Mereka: 61 laki-laki, 31 perempuan, 2 anak. Yusuf Ismael dalam buku “Indonesia” pada Pantai Lautan Pasifik: Tindjauan tentang Kedudukan Ekonomi dan Sosial Bangsa Indonesia di Suriname (1955) menginformasikan: “Imigran-imigran ini diharuskan mengadakan perdjandjian untuk 5 tahun dalam waktu mana mereka tiap hari harus bekerdja 8 djam dikebun dan 10 djam dipabrik, tiap minggu 6 hari. Untuk pekerdjaan ini seorang laki-laki mendapat upah 60 sen sehari, seorang perempuan untuk waktu jang sama 40 sen.”

Keterangan itu bisa jadi rujukan tentang penghidupan di Suriname. Ribuan orang berdatangan ke Suriname: bekerja dan mencipta hidup beraroma akar kultural Jawa. Mereka tak ingin “melepas” Jawa. Ingatan atas tanah asal terus memberi peta hidup secara imajinatif dan realis sesuai alam-hidup di Suriname.

Aku merasa ada sejarah sulit terucap di mulut saat mengurusi sejarah Jawa-Indonesia berlatar akhir abad XIX. Urusan imigrasi orang-orang ke Suriname jarang disajikan di halaman buku-buku sejarah. Para sejarawan mungkin terlalu sibuk dengan tema-tema pergerakan politik, nasionalisme, kapitalisme pribumi, modernisasi pendidikan. Sejarah resmi di Indonesia seolah tak menghampiri ribuan orang di Suriname.

Buku ini digarap oleh sarjana lulusan Universitas di Leiden. Aku ragu kaum intelektual di Indonesia mengenal dan mengenang sosok Yusuf Ismael. Suguhan buku setebal 342 membuktikan ada sejarah Jawa-Indonesia di Suriname tapi tak teringat oleh publik. Buku ini diterbitkan oleh Perpustakaan Perguruan Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Penerbitan di tahun 1955 mengesankan ada ikhtiar lacak sejarah di luar ruang Indonesia dan penghampiran atas petuah Soekarno tentang kepribadian Indonesia. Propaganda kepribadian tampak ideologis mengacu ke realitas politik-kultural di masa 1950-an. Kebijakan-kebijakan diterapkan demi pembentukan manusia berkepribadian Indonesia. Soekarno mungkin meluputkan biografi orang Jawa-Indonesia di Suriname. Mereka berikhtiar tetap menjadi Jawa atau menjadi Indonesia dengan sekian imajinasi dan praksis hidup di negeri asing.

Aku perlu sajikan pujian R. Soegarda Poerbakawatja (Kepala Djawatan Pengadjaran) untuk kontribusi Yahya Ismael melalui buku “Indonesia” pada Pantai Lautan Pasifik: Tindjauan tentang Kedudukan Ekonomi dan Sosial Bangsa Indonesia di Suriname: “… Ismael telah memberikan pada kita suatu gambaran jang djelas dan lengkap mengenai nasib segolongan bangsa Indonesia di perantauan. Pada umumnja pengetahuan kita tentang hal ihwal orang-orang Indonesia jang telah bertahun-tahun berada di luar negeri, sedikit sekali.” Aku mau membandingkan keingintahuan tentang orang-orang berjiwa Indonesia di Suriname selama masa 1950-an terkait kehendak mengikat sejarah dan nasionalisme di kejauhan. Kehadiran buku itu tak terulang di abad XXI. Publik seolah tak menunjukkan penasaran atas sejarah di Suriname.

Aku mendapat buku ini di tahun 2004. Tampilan sampul buku telah mengundang penasaran. Suriname: negeri jauh. Aku cuma mengimajinasikan kerinduan orang-orang Jawa-Indonesia di Suriname untuk pulang ke negeri asal. Mereka melakoni hidup di perantauan tapi enggan meninggalkan identitas kejawaan. Nasib sering tak teramalkan. Mereka hidup dengan selebrasi-selebrasi kejawaan melalui nama, ritus, arsitektur, pakaian, seni, bahasa. Mereka mengimajinasikan Jawa dan mengalami Jawa di negeri asing. Suriname pun menjadi ruang kultural Jawa. Aku ingin lekas membuktikan narasi Jawa di Suriname. Aku ingin merasakan Jawa di tanah tanpa “leluhur” seperti di tanah Jawa.

Buku “Indonesia” pada Pantai Lautan Pasifik: Tindjauan tentang Kedudukan Ekonomi dan Sosial Bangsa Indonesia di Suriname menebus ikhtiar mengasuh sejarah meski sulit mencari referensi-referensi pelengkap. Aku masih belum mengerti: kaum sarjana di Indonesia jarang menggarap tema “Jawa” atau “Indonesia” di Suriname. Aku tak bakal menagih. Aku mungkin bakal menuliskan tema terpinggirkan itu di suatu hari nanti. Aku tak membual tapi memberi janji kecil.

Buku lawas dan berkhasiat garapan Yusuf Ismael mendapati penggenapan oleh Max Dwipusrandito melalui publikasi buku berjudul Suriname yang Saya Lihat (1984). Buku setebal 80 halaman ini mengandung informasi ringkas dan membuktikan masih ada perhatian kecil untuk sejarah di kejauhan. Pradnya Paramita selaku menerbit memberi keterangan: “Penulis telah berdiam di negeri Suriname beberapa tahun lamanya. Selama itu ia telah mengadakan hubungan dengan beberapa tokoh pemerintahan maupun masyarakat di sana.” Pembaca diharapkan tak sangsi saat membaca sekian informasi dan tampilan foto-foto dalam buku.

Dua buku ini mungkin sulit mengalami cetak ulang di abad XXI atau mendapat sambungan dengan penerbitan buku-buku baru. Aku menggagap dua buku itu pengikat sejarah. Aku merasa memiliki saudara-saudara di negeri jauh. Aku ingin berjumpa dan “mengalami” hidup di Suriname untuk menghirup ingatan-ingatan masa silam. Begitu.

Iklan