Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Mata menemukan buku. Aku belum pernah memiliki referensi tentang Agam Wispi saat menemukan buku tipis dengan sampul wagu: warna hitam, gambar gadis, dan judul Sahabat. Mataku semula menganggap buku itu termasuk buku saku bagi  awam. Judul tak ada sengatan. Aku kaget saat melihat halaman satu. Keterangan itu mengajak imajinasi ada di belokan politik-sastra di masa 1950-an dan 1960-an. Buku Sahabat adalah buku memuat sajak-sajak Agam Wispi. Tiga larik di bawah: “diterbitkan oleh bagian penerbitan lembaga kebudajaan rakjat (LEKRA) – Djakarta – 1959.” Oh!

Aku belum mengenal Agam Wispi. Kegandrunganku atas puisi memunculkan daftar nama pujangga: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardojo, Hartojo Andangdjaja, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Rendra, Zawawi Imron, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Oka Rusmini. Agam Wispi tidak aku temukan di halaman-halaman buku uraian puisi atau buku antologi sastra suntingan H.B. Jassin dan Ajip Rosidi. Agam Wispi adalah nama asing.

Buku Sahabat tak memuat halaman tentang biografi dan foto pujangga. Aku pun membaca buku itu berulang meski sulit mengenang sosok dan tempat di jagat kesusastraan Indonesia. Puisi-puisi ditulis oleh Agam Wispi saat ada di Jerman. Keterangan-keterangan di bawah puisi mencantumkan nama-nama kota: Berlin, Dresden, Bastel, Leipzig. Selusin puisi ditulis di tahun 1958-1959. Aku membaca buku Sahabat seperti “perindu kata”.

Halaman pertama terdapat nama, tanggal pembelian, dan tanda tanganku. Aku membeli buku Sahabat tanggal 3 Agustus 2001. Waktu terus berlalu. Penasaran nama mendapat tebusan saat aku mendapat buku Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil (2002) terbitan Amanah-Lontar dan Yayasan Sejarah Budaya Indonesia (Amsterdam). Agam Wispi adalah nama mengandung cerita. Agam Wispi lahir 31 Desember 1930. Sosok ini pernah jadi wartawan dan redaktur di harian Kerakjatan, Pendorong, Harian Rakjat. Dua buku puisi (Sahabat dan Yang tak Terbungkam) diterbitkan oleh Lekra-Jakarta. Matinja Seorang Petani adalah puisi terkenal dari Agam Wispi. Malapetaka 1965 membuat Agam Wispi mesti hidup di negeri asing sebagai seorang eksil. Agam Wispi memang tak terbungkam. Kumpulan puisi berjudul Kronologi in Memoriam 1953-1994 menjadi bukti iman di jalan sastra.

Keterangan di buku Sahabat menemukan jawab. 1958-1959 Agam Wispi ada di Jerman untuk belajar jurnalistik. Nama ini mulai terang. Aku pun bisa menempatkan diri sebagai pembaca: melek sejarah. Agam Wispi masuk dalam daftar bacaanku. Buku Sahabat memang tipis tapi mengenalkan Agam Wispi dan situasi politik-sastra di masa 1950-an dan 1960-an. Sastra itu sengatan di tatapan ideologi dan pelukan kekuasaan.

Aku sajikan kutipan puisi kecil Agam Wispi berjudul Sahabat. Puisi ini impresif. Puisi bersahaja tapi mengena.

 

dua kali dimamah maut

oleh tjinta hidup tertambat

baru berarti mereguk hidup

djika derita duka sahabat

 

Aku pernah membuat ingatan di kepala dan mulut untuk puisi Sahabat sekian tahun lalu. Puisi kecil dan “meringkas”.

Agam Wispi jarang mengumbar slogan-slogan ideologis dalam puisi. Tema-tema disajikan tanpa kelugasan propaganda. Aku masih bisa menikmati puisi berjudul Keluarga gubahan Agam Wispi dalam buku Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil. Puisi berkisah tanpa kecerewetan.

 

selama kau-aku beradam-hawa di ranjang

kita berkembang-biak bagai pohon pisang

berserak-serak tak perduli, kini berkumpul lagi

anak-cucu, para menantu, alim atau bajingan

menunjukkan hati

 

Bait ini masih memiliki lanjutan tentang nasip perantau di negeri orang. Agam Wispi ingin merasai hidup di negeri asal dengan keluarga. Sejarah politik tak memperkenankan. Alienasi dan nasib tergelar di negeri asing. Rindu pun kelabu. Aku bisa merasakan rindu itu seperti saat aku berairmata membaca nasib tokoh-tokoh eksil dalam novel Pulang (2012) garapan Leila S. Chudori. Rindu tak sekadar haru. Rindu dan nasib mirip puisi tak terucap.

Puisi Agam Wispi juga mengisahkan anutan ideologi di masa 1950-an. Sastra berhaluan “rakjat” disajikan sebagai pengesahan politik-kultural. Agam Wispi menulis puisi berjudul Buchenwald (1959).

 

mengenang seorang di kamar maut

djangan harap dia kiamat

sebab didjantung internationale mendegup

walau mulut tertutup rapat

 

disini goethe dihina sardjana

“bagaimana manusia bisa dihatjurkan?”

disini gotehe bidjimata pedjuang derita

dari pohonnja tawanan memahat patung kesajangan

 

Agam Wispi menulis nama Goethe: tokoh sastra dunia. Aku semula mengenal melalui novel sedih berjudul Penderitaan Pemuda Werther. Nama Goethe sering lekat dengan Faust. Aku pun masih terus memberi perhatian atas pengabdian sastra ala Agam Wispi.

Buku berjudul Faust (Kalam dan Goethe Institut-Jakarta, 1999) garapan Johann Wolfgang von Goethe diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agam Wispi. Penerjemahan dilakukan dari bahasa Jerman. Agam Wispi memberi penggenapan atas pamrihku mengenali dan menikmati menu sastra Goethe.

Aku mengingat sekian hal itu bermula dari buku Sahabat. Buku itu telah mengantar ke perjumpaan-perjumpaan buku-buku ampuh. Aku menganggap Agam Wispi mirip “pengantar” untuk sentuhan mata-kata ke sejarah dan rengkuhan nasib. Aku perlahan menata ingatan tentang pengabdian sastra kaum eksil dan konsekuensi malapetaka 1965. Sastra tak redup oleh adu ideologi atau “keterasingan” di negeri-negeri jauh. Puisi tetap mengabarkan hidup dan biografi manusia. Begitu.

Iklan