Tag

, ,

Bandung Mawardi

Perubahan angka tahun mengingatkan waktu. Aku ingin mengurusi waktu itu dengan untaian kata. Waktu justru mengingatkan tentang surat di masa silam. Sajian kutipan isi surat tentang tahun baru tentu berkaitan dengan manusia dan waktu.

Bandung, 1 Djanuari 195…

Saudaraku!
Sungguhpun kita tidak berbalas-balasan surat, tapipada hari peralihan tahun ini, tidaklah patut djika aku masih berlaku seolah-olah aku telah lupa kepada sahabat karibku.

Terimalah utjapan selamat dariku pada hari Tahun Baru ini. Mudah-mudahan engkau berada didalam segala sehat dan alfiat, dan dapat menemui hari Tahun Baru jang dimuka, didalam bahagia dan hidup aman sentosa setjara sediakala.

Salam dan maaf dari saja,
Sahabatmu

……

Surat itu terdapat di dalam Buku Surat-Menjurat (Noordhoff-Kolff N.V. Djakarta, 1958) susunan Abdoel Moeis. Kutipan surat tentang tahun baru mengungkap kebermaknaan surat di masa 1950-an. Surat masih menjadi selebrasi pikiran-perasaan untuk mengartikan kata-kata sebagai representasi.

Aku termangu di hadapan buku. Apa arti surat? Apa arti buku penjelasan tentang surat? Aku tak hidup lagi bersama surat. Tulisan tangan di lembaran kertas adalah hal usang. Surat hampir tersingkir oleh zaman teknologis. Surat tak lagi keramat.
Abdoel Moeis memberi jawab: “Hal surat-menjurat itu adalah suatu pekerdjaan jang amat penting artinja didalam hidup bergaul… Hidup bergaul dengan keluarga, sahabat, kenalan, ataupun dengan orang-orang jang belum dikenal, tapi dibutuhi karena ada sesuatunja jang hendak diminta atau ditanjakan, akan lebih sempurna, djika perhubungan itu dipelihara dengan djalan surat-menjurat jang teratur.” Jawaban ini optimistik. Surat itu penting! Jawaban ini mengesankan zaman lampau. Penjelasan Abdoel Moeis hampir mustahil untuk zaman sekarang.
Surat itu penting. Abdoel Moeis pun perlu menggarap Buku Surat-Menjurat setebal 288 halaman. Fantastis! Pengertian surat dan contoh surat untuk sekian kepentingan diajukan oleh Abdoel Moeis. Buku Surat-Menjurat laris. Buku ini mengalami cetak ulang ketujuh di tahun 1958. Publik belajar mengenai surat sebelum menjadi penganut suratisme. Belajar surat ibarat belajar adab. Surat memiliki unsur-unsur representasi adab: bahasa, kemasan, tanda tangan, amplop…
Buku Surat-Menjurat mengandung sejarah suratisme di Indonesia. Gairah menulis-membaca surat malahan mengartikan gairah literasi. Peristiwa menulis-membaca surat adalah hajatan berkata. Surat tak cuma kertas dan tulisan. Surat adalah ejawantah adab.
Orang-orang di masa silam adalah kaum suratisme: Kartini, Sosrokartono, Soekarno, Sjahrir,  HB Jassin, Iwan Simatupang. Mereka menulis surat tentang politik, sastra, pers, asmara, keluarga, ekonomi, iman. Surat-surat berjalan di zaman bertaburan kata. Aku sering terharu dan takjub saat membaca surat-surat mereka. Aku  merasakan ada huruf-huruf bergetar dan lembaran kertas mengikat waktu. Surat-surat mereka masih terbaca meski tahun-tahun berlalu. Surat bisa mengubah zaman. Surat bisa mengurai sejarah. Oh!
Kaum suratisme menulis dengan sejenis konsensus tentang huruf, kertas, waktu, ruang. Sekian hal mesti dipenuhi dalam menulis surat. Kehadiran buku-buku petunjuk menulis surat ala Aboel Moeis dianggap mengesahkan abad XX bergerak oleh surat. Aku menganggap Buku Surat-Menjurat adalah referensi zaman. Buku ini pantas disimak orang-orang agar tak melupakan masa silam saat hidup bersurat.
Buku tentang surat juga disuguhkan oleh TH. A. Du Mosch berjudul Boekoe Soerat-Soerat (Brievenboek): Bageimana Kita Mengarang Soerat-Soerat Biasa? (1936). Keterangan sambungan: “Satoe boekoe jang sampoerna sekali akan beladjar mengarang soerat-soerat biasa.” Aku perkenalkan status penulis: “Goeroe besar, Pemoelang bahasa Wolanda dan bahasa Melajoe, Djoeroebahasa atas soempah di moeka Madjelis di Amsterdam.” Buku setebal 472 halaman disusun oleh sarjana ampuh. Percayalah!
Buku ini fantastis. TH. A. Du Mosch menjelaskan sekian hal dan memberi contoh surat. Pembaca bakal menerima limpahan informasi. Pembaca usai mengkhatamkan buku ini bisa menjadi penuils surat alias termasuk kaum suratisme. TH. A. Du Mosch menerangkan: “Satoe soerat bisa disamaken dengan bitjara moeloet, tetapi bedanja, apa jang disampeiken dengan moeloet, bisa terloepa sala satoe hal, djika belakang hari misti di ingatken lagi. Satoe soerat jang diteolis, beberapa hari di belakang, masih bisa dibatja kombali boeat peringatan kalau perlu misti dipake akan menjaksiken sala satoe perkara.” Surat dianggap mujarab ketimbang kata-kata berhamburan melalui mulut.
Aku memiliki dua buku itu seolah memiliki sejarah kehidupan kaum suratisme. Dua buku itu juga mengikatku dengan sejarah kata di Indonesia. Kata-kata di lembaran-lembaran surat adalah ikhtiar mengabarkan dengan perlintasan waktu lama. Surat mengawetkan hidup. Surat mengisahkan getaran-getaran huruf saat ditorehkan oleh manusia di kertas. Ah! Aku ingin menulis surat seperti kaum suratisme di masa silam. Aku ingin menulis surat untuk … Abad XXI hampir tak menghendaki diriku jadi penganut suratisme. Dunia telah ramai kata meski mendustai. Surat telah kehilangan alamat. Begitu.

Iklan