Tag

, ,

Bandung Mawardi

Pengarang sering menaruh waktu di halaman-halaman bertaburan kata-kata bersahaja. Buku adalah pengabaran waktu. Aku tidak cuma membaca waktu di keterangan tahun terbit. Waktu ada di judul, jenis kertas, gambar, foto, huruf. Buku mengandung memori waktu: terlihat oleh mata, teraba oleh tangan, tercium oleh hidung.

Kalimat-kalimat di alinea awal puitis dan dramatis. Aduh!

Aku cuma ingin mengenang waktu di buku lawas. Aku juga ingin mengenang perempuan, rumah, pekarangan, zaman, tanaman. Kenangan itu mengacu ke buku berjudul Wanita dan Pekarangan (1952) susunan Moh. Abdulrachman. Keterangan penulis tentang maksud publikasi buku: “Disusun untuk sekolah-sekolah landjutan tingkatan pertama dan sekolah-sekolah latihan guru.” Buku ini ditujukan untuk pengajaran-pendidikan. Penerbit buku adalah Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan Republik Indonesia. Buku Wanita dan Pekarangan berarti buku penting di zaman menentukan identitas-kepribadian di Indonesia.

Buku Wanita dan Pekarangan ditulis berlatar kondisi Indonesia usai masa perang. Penulis berkata: “Bertempat tinggal di kota, terutama kota-kota besar seperti: Djakarta Raja, Surabaja, Semarang, d.l.l., untuk sebagian besar dari kaum wanita jang berumah tangga setelah petjah perang dunia ke II, pada umumnja tidak memuaskan.” Pendahuluan ini mengesankan deskripsi di kota tak memberi rangsangan untuk mengalami hidup sesuai pengharapan. Kota-kota bertumbuh menjadi besar, sesak, ramai. Kota sebagai ruang hidup memberi kecewa dan ilusi.

Aku sudah terpikat oleh kalimat-kalimat penulis saat mengabarkan Indonesia melalui tema kota dan wanita. Kota tak mutlak maskulin. Kota turut didefinisikan oleh wanita. Definisi dibentuk dengan peristiwa-peristiwa berkaitan rumah dan identitas. Kalimat-kalimat itu memberi terang zaman.

Keterangan lanjutan: “Bukan sadja soal perumahan sangat sukar, akan tetapi karena bahan-bahan terutama keperluan sehari-hari meningkat harganja, sehingga  bagaimanapun djuga pandainja njonja-rumah, anggaran belandja pada tiap-tiap bulan seringkali tak dapat ditjotjoki.” Perempuan menjadi pusat pengisahan hidup keluarga-keluarga di kota. Anggapan berlatar kota mengesankan ada pembedaan dengan ejawantah wanita jika hidup di desa: ruang hidup agraris. Penjelasan ini membuatku semakin ingin menempatkan buku Wanita dan Pekarangan di ranah sejarah kota dan kosmologi rumah.

Pembentukan kota-kota di masa kolonialisme memberi godaan dan jeratan. Orang-orang hidup di ruang besar. Jalan, pabrik, toko mengesahkan kota. Manusia kota pun mengartikan diri dengan kerja dan uang. Nalar penghidupan mengarah ke siasat-siasat ekonomistik. Kota mengubah gagasan ruang dan waktu ke arus ketergesaan. Hidup mesti “berhitung”.

Aku sejak mula penasaran dengan buku Wanita dan Pekarangan. Buku ini memiliki judul biasa tapi menggeret imajinasi pembaca untuk merenungi masa silam sebagai rujukan masa sekarang. Aku terus ingin mengerti signifikansi buku itu di masa 1950-an. Penjelasan impresif: “Berhubung dengan itu dan mengingat pada pengalaman-pengalaman diwaktu pendudukan Djepang, dimana kita seringkali menderita kekurangan bahan makanan, terutama jang mengenai sajur-majur dan buah-buahan, maka saja dengan ini mengandjurkan kembali penanaman pekarangan-pekarangan rumah.” Anjuran ini manjur untuk realisasi hajat hidup di kota. Aku mengandaikan anjuran ini dikumandangkan Soekarno dalam pidato-pidato heboh di pelbagai kota. Soekarno mungkin memberi seruan: “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Hiduplah dari pekarangan! Bertjotjoktanamlah di pekarangan-pekarangan rumahmu! Hiduplah! Kota hidup dari pekarangan. Kita hidup dari pekarangan.”

Moh. Abdulrachman melanjutkan anjuran: “Hanja ini kali djangan dengan perasaan terpaksa, akan tetapi dengan hasrat sendiri, dan dengan maksud jang direntjanakan terlebih dahulu. Dengan djalan demikian sedikit-sedikitnja kita akan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, penanaman dipekarangan rumah, baik dengan berupa sajuran maupun dengan berupa bunga-bungaan, dapat pula memberikan lebih banjak penghargaan dan rasa ketenteraman hati pada masing-masing tempat kediaman.”

Aku mengerti bahwa anjuran menanam di pekarangan tak cuma bertujuan ekonomi rumah tangga. Menanam di pekarangan merupakan kehendak demi “ketenteraman hati”. Aku menganggap penulis buku Wanita dan Pekarangan adalah orang pintar dan bersahaja. Anjuran-anjuran mengurai hasrat hidup lahir-batin.

Wanita sebagai tokoh adalah pemuliaan dan pemartabatan. Wanita memiliki otoritas mengurusi rumah. Pekarangan jadi ruang aktualisasi bagi wanita. Pekarangan menjadi hijau dan menghidupi. Kebutuhan makan terpenuhi di pekarangan. “Ketenteraman hati” bisa mewujud di pekarangan.

Aku ingin buku Wanita dan Pekarangan disuguhkan kembali bagi Indonesia abad XXI. Kota-kota semakin kotor, sesak, hina. Rumah-rumah bertumbuh tanpa batas. Pekarangan-pekarangan hilang. Penghidupan ada di luar rumah. Orang-orang alpa rumah. Orang-orang sulit “melihat” dan “menaruh diri” di pekarangan. Urusan makanan selalu merujuk ke pasar. Belanja! Wanita mesti belanja untuk hajatan makan keluarga.

Anjuran-anjuran Moh. Abdulrachman dalam buku Wanita dan Pekarangan pantas jadi renungan. Buku ini mengandung pengertian waktu saat biografi wanita dan kota disusun sejak masa 1950-an. Masa lalu adalah referensi peristiwa dan pemaknaan. Aku mau meneruskan anjuran-anjuran tentang pekarangan untuk dikabarkan ke kota-kota melalui tulisan dan pidato. Begitu.

 

Iklan