Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah berulang melihat buku berjudul Daftar Buku Indonesia (1955). Sampul buku berwarna kuning, hijau, putih, judul menggunakan warna merah. Aku lamban tergoda. Aku berulang melihat buku itu tapi tak lekas membeli. Peristiwa terakhir terjadi di akhir tahun 2010. Aku melihat, memegang, membeli buku wagu. Buku itu mencantumkan nasihat kuno: “Membatja sumber pengetahuan.”
Buku setebal 131 halaman berisi judul, penulis, tahun, sampul, harga, iklan. Aku membaca perlahan dan sering terdiam: melamunkan bentuk buku sesuai keterangan di daftar buku. Aku juga menerka penulis: ketokohan dan kemonceran. Daftar Buku Indonesia bisa menggodaku meski membutuhkan ribuan menit. Ah!
Penerbit buku ajaib itu memberi keterangan: “Dengan ini kami menawarkan kepada tuan sebuah daftar buku jang memuat pendaftaraan buku-buku jang dibagi dalam berbagai perihal seperti agama, bahasa, buku untuk anak-anak, kedokteran, tehnik, roman, puisi, dll. dan penjusunan ini menurut abjad.” Aku tak bisa menghitung jumlah judul buku, penulis, penerbit. Aku cuma termenung menemukan bukti keberlimpahan buku di masa 1950-an. Fantastis!
Daftar Buku Indonesia bakal memudahkan pembaca untuk melacak sejarah buku di Indonesia. Pembaca mungkin bisa tercengang seribu jam saat membaca secara urut ratusan buku pernah terbit dan beredar di Indonesia. Pembaca tak pernah melihat atau memegang. Pembaca sekadar membaca penulis, judul, tahun, harga. Imajinasi diperlukan untuk mengalami “zaman buku” di masa lalu.
Aku penasaran dengan buku-buku di halaman 48 – 50. Sekian buku di daftar itu telah aku miliki sejak lama: Dr. H. Th. Fischer, Pengantar Anthropologi Kebudajaan Indonesia; Dr. N. J. Krom, Zaman Hindu; M. Radjab, Tjatatan di Sumatera; Mr. Dr. Soekanto, Sekitar Djogdjakarta; M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo-Demokrat Sedjati; Ki Hadjar Dewantara, Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan, Imam Soepardi, Dr. Soetomo-Riwajat Hidup dan Perdjuangannja; Mr. M. Yamin, 6000 Tahun Sang Merah Putih…. Aku masih berpengharapan bisa menemukan dan memeluk buku-buku tentang Indonesia dan sejarah Indonesia: Adnan Sjmani, Sumatera Pulau Harapan; E. Doellah, Negeri Kita; W. L. Febre, Taman Siswa; Rosihan Anwar, Ramalan Perdjuangan Republik Indonesia dalam Karikatur…
Daftar buku politik di halaman 74 – 76 juga mengundang penasaran. Jumlah buku politik membuktikan publik melek politik. Sekian buku telah aku miliki dan khatam sebagai bacaan penting. Dua buku Roestam Effendi berjudul Revolusi Nasional dan Sedikit Pendjelasan tentang Soal-soal Trotskisme menjadi referensi untuk mengenangkan edaran gagasan politik di masa 1940-an dan 1950-an. Aku merasa dua buku itu mengikatku dengan masa lalu melalui persembahan kata.
Aku paling penasaran dengan buku-buku di halaman 77 – 82: puisi dan roman. Puluhan buku memang berhasil aku kumpulkan selama puluhan tahun. Sekian buku memikat masih harus aku dapatkan. Buku-buku itu menggodaku tak mengenal waktu. Aku merasa ada gandrungisme buku. Gandrung tak terbendung meski melarat dan rajin mengucap seribu doa. Aku selalu ingin bertemu buku-buku lawas itu agar gandrung tak mengatarku ke “rindu terlarang”. Sekian buku dambaanku: Roestam Effendi, Pertjikan Permenungan; M. Radjab, Semasa Ketjil di Kampung; Kotot Sukardi, Bende Mataram …
Informasi-informasi dalam Daftar Buku Indonesia halaman 10-11 masih membuatku termenung tanpa jam dinding. Aku tidak pernah mengira Pramoedya Ananta Toer rajin menerjemahkan buku di ranah agama. Halaman 10 memuat keterangan: “Pramudya Ananta Tur, Albert Schweitzer…. Rp. 9,80” dan “Pramudya Ananta Tur, Sang Pendukung Kristus…. Rp. 7,50”. Halaman 11 juga memuat keterangan: “Leo Tolstoy dan Pramudya Ananta Tur, Perdjalanan Djemaah jang Aneh… Rp. 2,80.” Tiga buku itu termauk di bagian daftar buku “Agama Kristen Protestant”. Aku belum pernah melihat buku-buku lawas dengan keterangan “penerjemah” oleh Pramudya Ananta Toer seperti tercantum di Daftar Buku Indonesia.
Aku mesti menganut tawakalisme untuk mendapati “panggilan” buku. Waktu terus berlalu dan buku-buku tak jemu menggodaku. Aku seolah mengalami gandrungisme tanpa jeda dan lelah. Oh, buku…
Daftar Buku Indonesia mengandung episode-episode gairah literasi di Indonesia. Penerbitan ratusan buku di saat Soekarno mengumandangkan gerakan melek-huruf mengartikan ada kehendak mewujudkan Indonesia berliterasi. Suguhan tema dan pengaruh buku turut menentukan agenda-agenda politik, pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, seni, sastra. Indonesia adakah negeri buku. Sip!
Aku menganjurkan pada sekian orang untuk memiliki Daftar Buku Indonesia agar memiliki rujukan gandrungisme buku-buku lawas di masa 1950-an. Buku dengan tampilan bersahaja tapi menggoda. Aku sering menaruh doa di halaman-halaman Daftar Buku Indonesia. Doa itu mungkin terkabulkan.
Aku pun mengandaikan tentang kerja tokoh atau institusi untuk menerbitkan  daftar buku di Indonesia setiap tahun. Penerbit memang sudah mengedarkan katalog. Penerbitan daftar buku di Indonesia tentu memerlukan ribuan halaman. Pembaca bakal mendapati rujukan untuk mengetahui situasi penerbitan buku dan gairah literasi terus membara. Begitu.

Iklan