Tag

, ,

Bandung Mawardi

Lelaki melarat membaca Bhagavat Gita puluhan tahun silam. Percakapan-filsafat antara Kresna dan Arjuna memikat lelaki melarat untuk luruh ke pembahasaan hidup. Kitab kuno itu bersenandung di kalbu lelaki melarat. Bhagavat Gita telah menjadi rujukan mengenali diri sebagai lelaki bermartabat. Pengakuan ini tidak mengandung maksud bahawa Bhagavat Gita adalah kitab-lelaki.

Aku membaca Bhagavat Gita melalui terjemahan Amir Hamzah. Bahasa di kitab itu lembut meski sulit terpahami. Amir Hamzah gandrung dengan sastra Timur. Pilihan untuk menerjemahkan Bhagavat Gita membuktikan kiblat sastra. Amir Hamzah menerjemahkan kitab kuno itu berperasaan sastrawi. Aku membaca pelan-pelan dan termenung selama puluhan tahun.

Pikat Bhagavat Gita berlanjut sampai sekarang. Aku terus membaca kitab kuno itu ke detik-detik kehidupan. Hasil terjemahan Amir Hamzah masih mengandung misteri-misteri bahasa. Aku belum usai memahami. Gandrung pun mendapati imbuhan dengan penemuan terjemahan Bhagavat Gita dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa oleh Kwee Tek Hoay. Dua buku ini mengajak peziarahan ke masa lalu saat para pujangga di Indonesia merasa menemukan hikmah melimpah di Bhagavat Gita.

Terjemahan dan tafsiran Kwe Tek Hoay pernah dipublikasikan di majalah Mustika Dharma (1932) sebelum diterbitkan sebagai buku (1935). Kwe Tek Hoay menerangkan: “Sabenarnja njanjian Bhagavat-Gita seperti djuga sadjak Maha-barata, bukan ditulis untuk tuturkan satu hikajat jang betul telah terdjadi, melainkan tudjuannja untuk memberi peladjaran bagi manusia tentang pribadi dan kabeneran besar jang terbungkus didalam njanjian.” Penjelasan ini bekal pembaca untuk “terlena” di buaian bahasa mengandung ajaran-filsafat.

Aku merasa ada jiwa zaman saat membaca terjemahan dan tafsir Kwe Tek Hoay. Penerjemahan tampak mengarah ke “penerangan”. Kwee Tek Hoay tidak memunculkan terjemahan-terjemahan genit dan pelik. Keterbacaan pesan diajukan ketimbang pamer puisisasi. Kehendak itu sesuai dengan pilihan publikasi di majalah sebagai bacaan umum. Aku memang belum tahu wujud majalah Mustika Dharma tapi bisa mengangankan gairah pembaca di halaman terjemahan dan tafsir oleh Kwe Tek Hoay. Bhagavat Gita bisa “membumi” melalui bahasa terang.

Aku mengutip terjemahan Kwe Tek Hoay: “Ardjuna menanjak: Oh Guruku, kapan orang bersembahjang menjuguh dengan penuh kapertjaja’an atau sudjut dengan sungguh hati, tetapi kesampingkan segala aturan jang ditetapkan dalam kitab-kitab sutji, bagaimanakah ka’ada’annja? Apakah ia termasuk dalam kalangan orang berkelakuan sutji, atau jang terdjerumus dalam hawa nafsu, atau terliput dalam kagelapan?”

Kwe Tek Hoay memberi tafsiran: “Siapa siksa dirinja akan guna agama dengan berpuasa, bertapa, tidak tidur, rebah diatas paku, potong lidah dan sebagainja lagi, akan menundjukan ia punja sudjutdan sungguh hati, tapi kapan maksut dan tudjuannja ada sia-sia atau kurang bersih, jaitu akan guna kauntungan atau kasenengan dirinja sendiri sadja misalnja ingin masuk di sorga kapan sudah meninggal, orang jang demikian pun berbuatannja terhitung sebagai pekerdja’an iblis. Djadinja bukan kasudjutan setjara gila dan nekat, hanja maksud dan tudjuan jang bersih paling perlu bagai siapa jang hendak bersudjut akan guna agama.”

Aku bisa berterima dengan penggunaan bahasa itu untuk memberi penjelasan ke pembaca. Aku bukan pembaca di masa 1930-an. Aku membaca terjemahan dan tafsir Bhagavat Gita itu di abad XXI. Rasa-bahasa dan alam-pikiran tentu berbesa dengan pembaca di masa lalu. Aku sekadar merasa bisa turut “mengalami” ketakjuban membaca Bhagavat Gita meski berbeda waktu.

Hasil terjemahan dan tafsir Kwe Tek Hoay tak sekadar dibaca oleh publik berbahasa Indonesia. Buku Bhagavat Gita: Interpreted (1935) turut diterjemahkan ke bahasa Jawa oleh B.K. dengan judul Handaran Bhagavad Gita. Aku semakin takjub dan terlena. Buku itu memang laris: sering mengalami cetak ulang. Aku mendapatkan dua buku itu dan membaca dengan hasrat permenungan.

Kutipan dalam edisi terjemahan bahasa Jawa: “Perangipun Pandawa kalijan Kurawa punika namung dados pasemon lelampahanipun tijang gesang wonten ing ngalam donja, anggenipun ambudidaja nijat ngawonaken watak-watakipun pijambak ingkan asor, inggih punika nalikanipun tijang wiwit kraos sarta rumaos pelu kedah ngudi gesang kabatosan….”

Aku merasa menjadi lelaki pilihan untuk “mengasuh” 2 buku Bhagavat Gita. Dua buku lawas mengandung sakralitas. Aku pun menunduk dan memejam mata: berdoa dengan kegandrungan atas kata-kata. Begitu.

Iklan