Bandung Mawardi

Tulisan wagu ini ingin membuka halaman-halaman kenangan saat SD. Aku pernah merasa sombong dengan mata pelajaran Matematika. Lembaran hasil EBTANAS menjadi saksi kesombonganku: tercantum angka 10 di kolom nilai Matematika. Aku cuma ingat bahwa angka 10 membuatku tertawa sebelas detik. Selesai.

Pihak sekolah menganjurkan-mewajibkan agar para murid kelas 6 mengikuti acara piknik berdalih pengumuman hasil ujian. Teman-teman senang bisa piknik. Aku melihat wajah-wajah sumringah dan mendengar celotehan-celotehan menggoda. Piknik itu kegembiraan dan hiburan. Aku jadi saksi. Aku tak mungkin jadi pelaku alias turis.

Simbok dan bapak berpesan: sekolah memang mewajibkan piknik tapi tak ada uang untuk memenuhi kewajiban. Pesan orangtua menjadi modal ingkar atas perintah kepala sekolah dan guru. Aku diperkenankan tidak mengikuti piknik. Bocah miskin memang tak pantas berpiknik. Aku pun menjadi bocah rumah. Aku jarang memiliki sesalan jika berkaitan piknik.

Teman bercerita bahwa piknik itu suka cita. Aku malas mendengar cerita-cerita tentang piknik. Aku memperhatikan omongan temanku saat mengabarkan bahwa saat ada di Pantai Parangtritis (Jogjakarta) diumumkan hasil EBTANAS: pengumuman tak resmi. Peraih nilai tertinggi adalah Bandung Mawardi. Namaku diucapkan di depan teman-teman dan guru-guru. Aku tak ada di Pantai Parangtritis. Jumlah nilaiku 45 untuk 5 mata pelajaran. Aku jadi juara. Pengumuman itu tanpa kehadiran sang juara. Aku sulit mengingat bentuk tanggapan atas omongan temanku.

Hari pengambilan pengumuman kelulusan dan lembaran nilai tak ada kesan. Aku menerima ijazah-lembaran nilai tanpa teriak. Sekolah tak memberi hadiah untuk sang juara meski sebungkus nasi berisi bebek goreng. Simbok dan bapak juga tak memberi hadiah. Kenangan tak impresif. Aku sering menaruh kenangan itu di lemari tak berpintu. Aku cuma ingin menebus kemuraman masa silam dengan menceritakan tentang matematika. Aku memang tidak ikut piknik ke Pantai Parangtritis tapi meraih nilai 10 untuk mata peljaran Matematika!

Aku pun bisa melihat Pantai Parangtritis saat berusia 19 tahun. Aku diajak oleh teman-teman di kampung naik truk pergi ke Pantai Parangtritis. Aku ikut tapi tak berbekal uang. Teman-teman bertanggungjawab: membelikan makan-minum dan memberi jatah rokok. Aku ragu pengalamanku itu pantas diakui sebagai piknik?

Lupakan cerita-cerita picisan tentang bocah melarat dan piknik! Aku ingin mengingat matematika adalah buku pelajaran. Dua buku lawas serial berjudul Gemar Berhitung III A dan III B (1950) pantas diingat sebagai masa lalu bernalar. Matematika itu nalar. Masa lalu pun bernalar jika berkaitan matematika. Buku Gemar Berhitung ditujukan untuk murid kelas 3 di sekolah rendah. Aku tak pernah menggunakan buku itu selama belajar di sekolah dasar. Aku mendapatkan buku itu sebagai bacaan untuk lelaki berhuruf. Aku menikmati halaman-halaman di buku Gemar Membaca karangan J. Bijl sambil mengenang masa silam saat SD dan kebodohanku dalam mata pelajaran Matematika saat di SMP dan SMA. Matematika juga membuatku gagal berkuliah di universitas negeri. Soal-soal Matematika di ujian seleksi membuatku muak!

J. Bijl memberi peringatan bagi guru dalam urusan pelajaran berhitung: “Tentulah ada djuga diantara guru-guru jang sudi memakai buku hitungan ini, tetapi segan menengok buku pemimpinnja. Terpaksa kami peringatkan disini, bahwa tjara jang demikian itu kurang baik. Guru akan berlelah pajah dengan sia-sia sadja, lagi pula mungkin merugikan peladjaran berhitung seluruhnja.” Aku tidak mengerti dengan tiga kalimat buatan J. Bijl. Tiga kalimat terbaca tapi tak terpahami.

Halaman-halaman buku bertaburan angka. Buku Gemar Berhitung pantas jadi bacaan pecandu angka dan penggemar rumus. Aku sulit tergoda. Aku melihat angka-angka serupa kenangan di pintu berkarat. Puluhan tahun aku jarang bermesraan dengan mata pelajaran Matematika. Angka-angka sebagai soal dan jawaban sering menimbulkan perasaan benci dan malu.

Kutipan tentang gambar, cerita, angka: “5 orang, seseorang memikul 2 buah kerandjang. Tiap-tiap kerandjang berisi periuk 5 buah. Periuk jang dipikul oleh kelima orang itu ada … buah.” Pembaca mesti bernalar atau berpikir untuk mengisi titik-titik dengan angka. Aku memang bisa menaruh angka dengan benar. Aku justru membiarkan tak ada angka di titik-titik agar tak kembali menjadi murid. Malu.

Aku kaget saat membaca halaman dengan gambar perempuan dan sekotak cerutu. Ada juga angka-angka dan cerita-cerita. Ilmu berhitung atau Matematika berarti jika digunakan untuk membeli! Ada cerita memerlukan jawab: “Tabungan Didi 148 sen. Dibelinja sebatang potelot, harganja 8 sen. Wangnja tinggal… s. Djaminah wangnja 236 s. dibelinja sebatang anak batu tulis, harganja 6 s. wangnja tinggal… s”

Cerita berangka ini berkaitan pengalaman bocah membeli alat-alat belajar. Bocah mungkin lekas memahami maksud cerita dan sanggup memberikan jawaban. Cerita tak lazim muncul di halaman sebelah: “Sebatang tjerutu harganja 6 s. 3 batang harganja… 8 batangan harganja… 6 batang harganja…” Bocah bisa menjawab meski pengalaman membeli cerutu adalah keganjilan.

Buku Gemar Berhitung adalah kenangan miliki bocah-bocah di masa 1950-an. Kenangan itu mungkin masih ada di abad XXI. Aku malahan enggan mengenang buku pelajaran Matematika saat SD meski memiliki nilai 10 di EBTANAS. Aku pernah pintar angka di masa silam. Begitu.

Iklan