Bandung Mawardi

Aku pernah berairmata saat membaca buku biografi lawas. Airmata kelelakian berdalih intelektualitas, ideologi, asmara. Buku itu sering aku membuatku merasa sebagai pengisah sejarah. Aku sering menggunakan untuk referensi obrolan dan tulisan. Buku itu menampilkan tokoh realis tapi ironis.

Tujuh tahun silam aku menemukan buku memikat: Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati susunan M. Balfas. Buku itu terbitan Djambatan (1952). Gambar di sampul adalah wajah lelaki wagu: tatapan mata sendu dan kejawaan mengeras. Aku melihat lelaki itu ksatria tak berpedang. Wajah mengandung huruf-huruf perlawanan. Mata memendarkan biografi tanpa putus asa.

Aku pernah memberi puja atas lakon hidup Tjipto Mangoenkoesoemo melalui esai-esai wagu di Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara Merdeka, Solopos. Esai tentang etos politik dan pandangan hidup Tjipto Mangoenkoesoemo aku suguhkan ke pembaca Kompas sekian tahun lampau. Esai itu sengaja aku garap dengan “kemarahan” terhadap elite politik sebagai “manusia picisan”. Nama dan sekian gagasan Tjipto Mangoenkoesoemo terus ada di mulut dan tulisanku. Aku terlalu mengingat dan terikat!

M. Balfas mengingatkan: “Kalau kemanusiaan adalah utjapan kosong belaka maka Pak Tjip (Tjipto Mangoenkoesoemo) tidak mendapat tempat dalam sedjarah, atau ia adalah satu tokoh sedjarah jang tragis.” Aku mafhum bahwa Tjipto Mangoenkoesoemo memang manusia ampuh meski tragis. Aku tak pernah melihat gambar Tjipto Mangoenkoesoemo di dinding kelas atau tampil sebagai tokoh dalam uraian pelajaran oleh guru. Tokoh itu jarang ada di ingatan publik. Aku pun terlambat untuk menaruh Tjipto Mangoenkoesoemo di “rumah ingatan”.

Tjipto Mangoenkoesoemo mengaku: “Aku adalah anak dari rakjat, anak si kromo….” Sebutan kromo adalah representasi rakjat alias kaum jelata di negeri terjajah. Tjipto Mangoenkoesoemo berperan sebagai intelektual-rakyat, jurnalis-rakyat, dokter-rakyat. Biografi diri selaku “anak si kromo” di jalan politik dan intelektual bertumbuh sejak masa remaja. M. Balfas mengisahkan: “Sebagai anak jang baru belasan tahun usianja (dia masuk Stovia umur 13 tahun, 1-3-1899, dan keluar umur 19 tahun, 28-10-1905) pustaka sudah menduduki tempat penting dalam djiwanja. Jang paling disukainja djuga kalau disekolah diadakan tjeramah; dia selamanja hadir.” Gairah belajar melampaui detik-detik usia. Ampuh!

Kegandrungan pada buku dan kefasihan berpidato membuat Tjipto Mangoenkoesoemo menjelma murid pembawa obor pengetahuan. Tjipto Mangoenkoesoemo pun mulai membuat perlawanan terbuka: menggugat dominasi kolonialisme. Tjipto Mangoenkoesoemo tak sekadar melawan dengan kata Tjipto Mangoenkoesoemo dan pakaian. Perlawanan impresif justru ditampilakan dengan mata. M. Balfas membahasakan: “… guru-gurunja bangsa Belanda dilawan dengan matanja.” Tjipto Mangoenkoesoemo memang lelaki-ksatria. Deskripsi lanjutan mennampilkan Tjipto Mangoenkoesoemo sering mengenakan pakaian Jawa ala kaum miskin: “Dengan pakaian ini, agak dekil dan kumal, berambut gondrong jang kelihatan keluar dari songkoknja, sambil mengisap rokok kemenjan dan mata menentang….”

Aku mirip Tjipto Mangoenkoesoemo saat remaja: berpakaian kumal dan merokok. Aku memang hidup di keluarga melarat. Aku pantas mengaku sebagai “anak si kromo”. Tjipto Mangoenkoesoemo cerdas dan menggandrungi buku. Aku di saat remaja adalah lelaki jelek dan tolol. Persamaan cuma ada di urusan pakaian dan merokok. Percayalah!

Buku ini sering aku khatamkan seperti membaca novel. M. Balfas adalah penulis sastra. Penggunaan bahasa dan buaian imajinasi-fiksionalitas turut menguatkan buku Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati sebagai sajian biografi-sastrawi. Aku merasa penulisan biografi tokoh tentu memerlukan sentuhan imajinasi agar tak klise. Pembaca bakal memberi mata meski tiga malam terlampaui.

Model penulisan biografi Tjipto Mangoenkoesoemo jarang berulang di Indonesia. Buku-buku biografi tokoh pergerakan sering disuguhkan tanpa impresi. Buku biografi sering mirip “buku pelajaran”. Rezim Orde Lama dan Orde Baru rajin menerbitkan buku biografi tapi hampir terpinggirkan di ingatan publik. Buku-buku biografi cenderung  berperan untuk mengesahkan pamrih penguasa dalam membentuk “narasi sejarah” dan “pemitosan tokoh”. Buku garapan M. Balfas adalah pengecualian di deretan panjang buku biografi di rak perpustakaan tanpa pengunjung.

Tjipto Mangoenkoesoemo adalah manusia fenomenal: pemuja nalar modern-Barat tapi berjiwa Jawa. Peristiwa ganjil terjadi saat para sarjana pribumi dan asing berkumpul di Solo untuk menggagas Java Instituut (1918). Tjipto Mangoenkoesoemo membuat ulah: “Kainnja merah, djasnja hitam, memakai sawit kemerah-merahan, dan ia berdjalan mundari-mandir dengan memakai sandal sambil memakan sirih dan menjandangkan saputangan madras, ketika para sardjana sedang memperdengarkan keahliannja masing-masing dan hadirin pada sama tertib dan chusjuk duduk dikursi masing-masing.” Deskripsi lanjutan: “Sikap itu  mempunjai arti pedagogis atau suatu matjam kesukaan untuk menjerang bentuk hidup palsu jang ditemuinja pada setiap upatjara resmi atau setengah resmi dalam masjarakat kolonial dewasa itu.”

Episode-episode ke-mbeling-an Tjipto Mangoenkoesoemo jadi perbincangan publik dan menggoncang kaum kolonial. Tjipto Mangoenkoesoemo terus melawan sampai usia menua. Penjara, kecaman, pembuangan tak menamatkan gagasan dan ulah perlawanan.   

Kematian pun tiba. Tjipto Mangoenkoesoemo (1943) meninggal dalam kesepian dan kebersahajaan. M. Balfas menulis alinea terakhir tentang kematian dan warisan Tjipto Mangoenkoesoemo. Alinea mengharukan: “Warisan barang jang ditinggalkan Pak Tjip terdiri dari buku-buku  jang sudah banjak dimakan rajap…” Aku tak sanggup mengimajinasikan detik-detik terakhir lakon ksatria mbeling dari Jawa. Begitu.

Gambar

Iklan