Tag

,

Bandung Mawardi

Indonesia adalah negeri cerewet. Para penggembala bahasa bersemangat membela dan menggugat kebijakan-kebijakan pemerintah. Agenda pemberlakuan kurikulum baru masih memicu polemik. Aku anggap polemik pelik adalah nasib bahasa daerah dalam pemberlakuan kurikulum. Nasib bahasa Indonesia dan bahasa Inggris masih ada: “dimanjakan” dan “dibesarkan”. Bahasa daerah mirip bocah terlantar di jalan tak berlampu.

Aku tidak sedang mengurusi bahasa daerah. Urusan itu ditaruh di aliena awal sebagai pengingat zaman. Aku malahan ingin mengurusi bahasa Indonesia. Keberpihakan ini tidak bakal menempatkanku sebagai penggembala tak bertanggung jawab atas bahasa daerah. Tulisan ini secuil dari ingatan atas bahasa Indonesia di masa lampau: bahasa di ruang kesejarahan Indonesia. Aku merasa perlu mengurusi bahasa Indonesia dengan argumentasi naif: “Aku pernah kuliah di jurusan bahasa Indonesia.” Oh! Argumentasi genit tapi dimaklumi saja.

Aku tak pernah meramalkan bakal kuliah di jurusan berurusan bahasa Indonesia. Orang-orang menganggap itu bukan jurusan mentereng. Ejekan dan sinisme bakal muncul saat orang mengenalkan diri kuliah di jurusan bahasa Indonesia. Orang-orang itu memang pencemburu. Kita mesti berdoa agar mereka tak mendapat kutukan Tuhan.

Aku kuliah atas anjuran simbok dan mbak-mas. Anjuran itu dituruti dengan jawaban sopan. Aku pun kuliah di jurusan bahasa Indonesia meski kebingungan. Buku-buku perkuliahan menimbulkan bosan tak berujung. Aku malas untuk membaca buku-buku linguistik tapi rajin masuk ruang perkuliahan. Buku-buku jadi jaminan bisa mengerjakan soal-soal saat ujian. Aku jarang membaca buku-buku itu meski nilai hasil ujian jarang berhuruf A. Aku tak ingkar bahwa berkehendak jadi penggembala bahasa tapi enggan hidup bersama buku-buku perkuliahan. Masa lalu…

Perkuliahan telah terlampaui sekian tahun lalu. Aku tak meninggalkan uruan bahasa Indonesia. Aku tak tega. Lho! Argumentasi ini cuma untuk menguatkan iman agar pantas menjadi penggembala bahasa.

Aku mulai membaca dan mengoleksi buku-buku tentang bahasa Indonesia. Aku cenderung memilih buku-buku lawas. Pilihan mengarah ke buku-buku di masa 1920-an sampai 1960-an. Aku sering takjub mendapati buku-buku lawas. Aku pun sering membuat tulisan bermula dari buku-buku tentang bahasa Indonesia di masa silam.

Buku menggoda dan mengesankan: Djalan Bahasa Indonesia (1952) susunan Sutan Muhammad Zain. Penulis berpesan: “Kitab ini dikarangkan untuk sekolah menengah, sekolah guru dan untuk mereka jang hendak mendalamkan pengetahuannja dalam bahasa Indonesia.” Aku menuruti saja pesan Sutan Muhammad Zain. Buku ini aku simak dengan imajinasi tempo dulu.

Pilihan judul tampak mengesankan kelihaian metafora. Jalan digunakan sebagai metafora untuk pelajaran mengenai bahasa Indonesia. Aku merasa ada kepekaan penulis mengantarkan buku itu ke sidang pembaca dengan judul naif. Judul menandai situasi zaman dan peran bahasa Indonesia di masa lalu.

Uraian tentang sejarah bahasa Indonesia pantas disimak: “Bahwasanja bahasa Indonesia mula-mula ialah bahasa asli sebagian besar penduduk Sumatera serta pulau-pulau jang sekelilingnja, seperti pulau-pulau Riau dan Lingga dan Bilitung, bahasa sebagaian besar anak negeri dipantai laut pulau Kalimantan (Borneo); akan tetapi sekarang ialah bahasa persatuan seluruh Indonesia.” Penjelasan ini asing untuk terbaca melalui bahasa Indonesia di abad XXI.

Uraian kesejarahan penting untuk mengetahui peran bahasa Indonesia di suatu zaman. Sutan Muhammad Zain melanjutkan keterangan perkembangan bahasa Indonesia di masa 1950-an: “Maka jang dimaksud dengan bahasa Indonesia sekarang bukanlah logat Riau dan Djohor, bukan pula logat Minangkabau, melainkan bahasa jang biasa dipakai oleh pemimpin-pemimpin jang terpeladjar dalam madjallah-madjallah, atau dalam rapat-rapat umum, jakni pemimpin-pemimpin jang ada mempeladjari bahasa kebangsaannja sendiri, bukan pemimpin-pemimpin atau kaum terpeladjar jang mengenal bahasa-bahasa asing, tetapi tak mau mempeladjari djalan bahasanja sendiri.”

Aku lekas mengerti: penggembala bahasa Indonesia adalah para pemimpin dan kaum terpeladjar. Mereka menjadi teladan penggunaan bahasa Indonesia. Model ini mengesankan bahasa Indonesia hidup di ranah elitis. Referensi pembelajaran bahasa melalui majalah dan rapat umum juga mengesankan ada olahan tindakan berbahasa: tulisan dan lisan.

Situasi bahasa Indonesia di masa 1950-an memiliki dilema saat ada keterpengaruhan dari bahasa-bahasa asing. Barangkali para pemimpin dan kaum terpelajar di masa itu tidak segenit elite politik dan kaum intelektual di abad XXI. Mereka mungkin masih ada di persimpangan bahasa: menggembala bahasa Indonesia tapi tergoda oleh bahasa asing. Sutan Muhammad Zain menjelaskan bahwa bahasa Indonesia (1950-an) dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Simaklah: “Karena orang sudah terbiasa kepada bahasa asing itu, maka kalau ia bertjakap bahasa Indonesia, bukan sadja banjak memakai kata-kata Belanda atau Inggeris itu, bahkan djalan bahasanja berturut-turut pula matjam djalan bahasa Belanda atau bahasa Inggris. Banjak kata-kata Belanda dan kata-kata Inggeris terpakai pula sekarang dalam bahasa Indonesia.”

Sutan Muhammad Zain hidup di masa 1950-an. Aku mengandaikan Sutan Muhammad Zain hidup di masa 2000-an. Kalimat-kalimat itu bakal diubah dengan argumentasi mengandung sinisme. Para pemimpin dan kaum intelektual di Indonesia justru fasih berbahasa Inggris atau bahasa asing tinimbang bahasa Indonesia. Kefasihan itu terbentuk melalui sistem pendidikan dan politik. Mereka mesti mengerti bahasa Inggris untuk sekolah dan kuliah. Bahasa Inggris juga jadi ketentuan mendapati pekerjaan bergengsi. Mereka mesti fasih melafalkan bahasa Inggris untuk meraih kekuasaan. Ah! Aku memiliki jadi penggembala bahasa Indonesia saja. Begitu.

 

Djalan Bahasa Indonesia

Iklan