Bandung Mawardi

Aku menginsafi diri sebagai lelaki cakep dan manis. Sejarah diriku sebagai lelaki tak sehebat Rhoma Irama, Rano Karno, Nicholas Saputra. Aku tak pernah menggandrungi atau digandrungi perempuan-perempuan cantik seperti dalam film-film mereka. Aku cuma sering mengimpikan bakal diperkenankan bertemu dan bercakap dengan artis pujaanku: A. Soebandono. Aku pun meminta teman-teman untuk mengusahakan agar impianku tak sekadar puisi di selembar kertas.

Aku ingat A. Soebandono saat memandang halaman sampul majalah Varia No. 169, Tahun IV, 12 Juli 1961. Lukisan perempuan di sampul itu menebar puisi tanpa kata. Aku memandang terpana. Majalah itu pernah aku taruh di sampingku saat rebah memejamkan mata. Aku justru bermimpi A. Soebandono. Perempuan di sampul itu bukan A. Soebandono tapi aku masih terikat impian untuk bertemu A. Soebandono. Aduh!

Majalah Varia memang kondang di garapan sampul. Pembaca bakal sering menatap foto atau lukisan perempuan-perempuan menakjubkan. Aku melacak jejak dan maksud kehadiran majalah Varia di jagat bacaan hiburan di Indonesia masa 1950-an. Jawaban ada di buku Rahasia Dapur Majalah di Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 1995) susunan Kurniawan Junaedhie. Keterangan: “… 23 April 1958, di Jakarta terbit majalah hiburan bernama Varia. Majalah ini didirikan oleh orang bernama Anjar Asmara. Anjar Asmara adalah orang yang diketahui pernah menerbitkan majalah Doenia Film yang terkenal di tahun 1930-an dan karenanya punya pengalaman dalam mengelola majalah… Varia setiap terbit menyajikan tulisan dan pilihan foto-foto memikat, umumnya tentang gadis-gadis cantik. Dengan itu majalah ini dengan cepat menjadi salah satu majalah hiburan terkemuka dan populer di zamannya…”

Keterangan ini menjadi pengesahan atas minat mengoleksi dan membaca majalah Varia. Majalah ini memang menghibur tapi memiliki suguhan-suguhan tak picisan. Varia No. 169, Tahun IV, 12 Juli 1961 di halaman 4 dan 6 memuat artikel berjudul Hemingway, Pengarang Kenamaan tentang Maut dan Kekerasan. Pembaca diajak mengakrabi dunia sastra saat membuka halaman-halaman majalah Varia. Pemuatan materi-materi sastra membuktikan majalah hiburan ala Varia tak sekadar mengumbar godaan-godaan murahan.

Kurniawan Junaedhie menginformasikan: “Sesuai karakternya sebagai majalah untuk umum, majalah hiburan ini memuat 1001 tulisan beraneka ragam. Ada cerpen, cerita bersambung, artikel tentang artis film, reportase, TTS, berita politik, ruang remaja, cerita silat…” Majalah Varia malahan pernah menjadi “kiblat majalah hiburan di tanah air.”

Aku menatap lama tulisan dan foto di halaman 20 berjudul Pakaian Berasas USDEK. Keterangan: “Dalam Gelanggang Dagang Wanita ke-X, salah satu atjara pameran ialah pertunjukkan pakaian-pakaian jang oleh pentjiptanja, R Suprapto, dikatakan Pakaian Pria Berasas USDEK.” Aku mesti mengimajinasikan bahwa majalah Varia itu terbit di tahun 1961 saat Soekarno mengobarkan Manipol-USDEK ke segala lini kehidupan di Indonesia. Pakaian pun di-USDEK-kan. Fantastis! Aku mengingat pidato Soekarno (1960): “Manifesto Politik adalah pemantjaran daripada Pantjasila! USDEK adalah pemantjaran daripada Pantjasila!” Indonesia di masa itu berlimpah slogan berkaitan Manipol-USDEK.

Aku mulai mengerti alasan sebutan “Pakaian Berasas USDEK”. Aku temukan ada imbuhan keterangan: “Menurut keterangan dari buku atjara Gelanggang, pakaian ini terbuat dari ‘lurik kampung’, hasil tenunan orang didusun, bahan pakaian jang sudah berabad-abad lamanja kita miliki. Pun hiasan pada pinggiran-pinggiran badju ini adalah batik jang djuga milik pusaka bangsa Indonesia turun temurun.” Agenda membaca Varia mirip agenda menilik sejarah berdalih menghibur diri.

Majalah-majalah lawas adalah sumber kesaksian zaman. Aku sering terpana saat mencari jejaring informasi berkaitan dengan materi-materi di majalah lawas. Tulisan, lukisan, foto, iklan merangsang imajinasi bergerak ke masa silam: merekonstruksi situasi zaman. Varia adalah rujukan untuk “memiliki” masa lalu dalam peristiwa membaca.

Aku tak pernah memiliki kebiasaan membaca majalah hiburan di masa lalu. Perjumpaan dengan majalah Varia sekadar kelegaan bagi pembaca bermerek lawas. Aku tak memiliki pengalaman membaca majalah-majalah di masa lalu saat usia bocah sampai remaja. Aku pun merasa malu jika bercakap dengan orang-orang dengan referensi bacaan majalah Bobo, Ananda, Intisari, Hai, Kartini, Anita, Aktuil… Aku bisa membaca majalah-majalah itu setelah puluhan tahun diterbitkan. Pembaca terlambat tapi enggan mengutuk diri. Aku membaca dengan penasaran-penasaran. Aku pembaca di waktu terpaut jauh saat majalah-majalah itu terbit.

Pembacaan atas majalah Varia pantas jadi tebusan keterlambatan mengetahui bacaan publik di masa lalu. Aku pantas mengoleksi majalah-majalah lawas dengan misi “mengerti” masa silam. Aku cuma ingin membuktikan kesaksian-kesaksian zaman di Indonesia melalui penerbitan majalah. Varia telah mengingatkan “zaman hiburan” di masa lalu. Begitu.

Iklan