Bandung Mawardi

Soeharto mengaku sebagai “anak desa”. Pengakuan ini diberikan sebagai ikhtiar mencari pijakan politik-kultural. Penguasa Orde Baru itu mengartikan desa di ranah imajinasi kekuasaan. Ungkapan “anak desa” mengesankan keluguan, kesantunan, kearifan. Pengertian-pengertian desa pun dimunculkan untuk memberi aksentuasi kekuasaan di masa Orde Baru. Soeharto sanggup menempatkan desa sebagai tematik besar di Indonesia.

Aku juga mengaku anak desa. Biografi sejak kecil terbentuk di desa bernama Blulukan. Desa itu menjadi ruang cerita masa silam. Blulukan sudah berubah di abad XXI. Aku memang anak desa. Pengisahan desa mirip dengan halaman-halaman di buku pelajaran. Desa adalah sawah, sungai, kerbau, pohon, … Desa Blulukan memenuhi deksripsi-dekripsi di buku pelajaran. Aku pernah jadi penggembala kerbau dan kambing. Aku sering mengikuti dan melihat simbok berkeringat di sawah sebagai buruh tani. Teman-teman sering mengajakku mencari belut di sawah dan sungai. Teman-teman juga suka mandi di sungai. Aku takut mandi di sungai. Pohon-pohon besar ada di Desa Blulukan. Suasana desa sejuk. Orang-orang di desa ramah dan lugu.

Nostalgia desa bisa menjadi tanda seru di masa sekarang. Biografi di masa lalu lekas jadi halaman-halaman kusam. Aku ingin terus hidup di desa meski sulit untuk menetap di Blulukan. Aku ingin ada di Blulukan tapi pamrih mendirikan rumah masih ada di imajinasi. Harga tanah mahal. Desa Blulukan telah berubah oleh hotel, perkantoran, rumah makan, sekolah, perumahan, ….

Aku ingin bernostalgia desa melalui buku setebal 413 halaman berjudul Desa (1965) susunan Soetardjo Kartohadikoesoemo. Buku ini terbit pertama di tahun 1953 oleh Penerbit Sumur Bandung. Aku memiliki edisi cetakan kedua. Aku tak sekadar kagum. Penghormatanku untuk penulis mungkin melebihi penghormatanku atas O.G. Roeder selaku penulis buku Soeharto: Anak Desa (1990).

Soetardjo Kartohadikoesoemo menerangkan: “Perkataan desa, dusun, desi (ingatlah perkataan swa-desi), seperti djuga halnja dengan perkataan negara, negeri, negari, nagari, asalnja dari perkataan Sanskrit, jang artinja tanah-air, tanah-asal, tanah-kelahiran.” Pengunaan kata “desa” khas ada di Jawa, Madura, Bali.

Aku pernah menganggap “desa” adalah sakral. Anggapan sakralitas ada di nalar-imajinasi saat melihat kota-kota bergerak cepat dan ramai. Ketenangan, keheningan, kenaifan masih teringat di desa. Aku mengartikan desa tak sekadar “tanah-asal” tapi “tanah cerita”. Cerita-cerita di desa mengandung kegaiban dan keajaiban saat ditututkan oleh orang-orang desa. Bercerita mirip nafas hidup di desa. Hajatan bercerita ada di pinggiran sawah, rumah, kebun, jalan, warung, … Desa juga sering memiliki mitos-mitos: awet selama ratusan tahun untuk diceritakan dari masa ke masa.

Soetardjo Kartohadikoesoemo menjelaskan bahwa identitas desa terbentuk dari bahasa. Kepemilikan dan penggunaan bahasa menentukan nasib desa sesuai dengan latar alam dan perubahan zaman. Desa agraris tentu memiliki bahasa-bahasa khas untuk menjadi alat komunikasi. Bahasa pun menjadi modal dan pikat pengisahan tentang segala hal. Soetardjo Kartohadikoesoemo mengutip laporan pegawai kolonial di masa silam: “Menurut surat laporan duta Belanda ke Keradjaan Mataram bernama Rijklof van Goens dalam tahun 1656, pada waktu itu di Djawa katanja hampir setiap orang, lelaki dan perempuan, pandai membatja dan menulis dalam bahasa dan dengan huruf Djawa.” Aku belum bisa membuktikan kebenaran laporan Rijklof van Goens.

Nostalgia desa sulit menghampiri para manusia-parlemen dan elite politik di Jakarta. Mereka sibuk mengurusi RUU Desa meski sering mengabaikan usulan-usulan dan protes dari publik. Aku cuma menduga bahwa orang-orang politik di Jakarta tidak pernah memiliki atau membaca buku berjudul Desa susunan Soetardjo Kartohadikoesoemo. Perpustakaan di kompleks gedung parlemen mungkin belum mengoleksi buku Desa susunan Soetardjo Kartohadikoesoemo. Aku ingin mengajak mereka untuk membaca kembali dan mengobrolkan segala hal tentang desa. Mereka tentu sibuk. Aduh!

Soetardjo Kartohadikoesoemo memberi uraian-uraian impresif tentang desa. Buku setebal 314 halaman membahas bahasa, ritual, seni, politik, ekonomi, identitas. Aku pernah berpengharapan ada orang meneruskan ketekunan Soetardjo Kartohadikoesoemo dalam membahasa desa. Buku-buku tentang desa terus aku lacak: membaca dan mengoleksi. Sekian buku telah aku gunakan untuk referensi tulisan-tulisan di koran dan majalah. Aku justru prihatin bahwa penerbitan buku-buku mengenai desa tampak menurun. Desa telah menjadi tema usang.

Agenda membaca dan menulis tentang desa hampir terpinggirkan oleh tema-tema besar. Kaum terpelajar dan elite politik jarang mengurusi desa dengan pelbagai dalih. Aku cuma berikhtiar mengoleksi buku-buku desa di masa silam: membaca dan mengartikan sesuai latar zaman. Buku-buku mengajak bernostalgia meski memunculkan ratapan atas biografi diri. Aku pernah menangis saat pergi ke Jakarta sendirian. Aku takut dan bingung ada di ruang ramai dan asing. Ingatan tentang desa di senja hari saat hujan pun membuat air mata menetes deras. Lelaki cengeng. Memalukan!

Buku berjudul Desa memberi rujukan-rujukan tentang kegandrunganku membaca novel-novel berlatar desa. Aku tak ingin selalu menganggap desa adalah imajinatif. Gairah membaca buku Desa menjadi argumentasi tak melupakan desa. Begitu.

Iklan