Bandung Mawardi

Armijn Pane adalah nama besar di jagat kesusastraan Indonesia. Aku mengenang Armijn Pane merujuk ke novel Belenggoe. Buku-buku pelajaran di SMP dan SMA mengesahkan Armijn Pane sebagai tokoh gerakan Poedjangga Baroe. Novel Belenggoe dianggap menjelaskan emansipasi perempuan dan pandangan hidup modern. Armijn Pane adalah pengisah zaman.

Aku enggan melupakan Armijn Pane saat menekuni halaman-halaman sastra di Indonesia. Murid-murid sering mengenal Armijn Pane sebagai pengarang novel atau cerpen. Aku justru ingin mengenali Armijn Pane sebagai pujangga melalui buku kumpulan sajak berjudul Gamelan Djiwa (1960). Buku terbitan Bagian Bahasa-Djawatan Kebudajaan-Departemen Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan ini jarang dibicarakan oleh kritikus sastra dan mendekam di ingatan guru atau dosen.

Aku juga tak pernah meramalkan bakal memiliki buku Gamelan Djiwa. Buku ini aku dapatkan lima tahun silam. Aku membaca dengan perlahan: menghasrati kenikmatan puitis. Puisi-puisi Armijn Pane memang terbaca tapi jarang merangsang dan terkenang. Aku tetap menganggap buku Gamelan Djiwa adalah “pantjaran sastra” dari tokoh besar di jagat kesusastraan Indonesia.

Armijn Pane mengungkapkan: “Sastra Indonesia mewudjudkan rasa dan pikiran bahasa Indonesia jang sedang dalam perkembangan, karena itu bahasa sastra Indonesia dapat djuga mempeladjarinja mendjadi bahan perkembangan bahasa Indonesia. Ada lebih mudah bagi angkatan-angkatan jang akan datang mentjurahkan rasa dan pikirannja, karena sudah pasti bahasa jang dipergunakannja sudah djauh lebih sedia menerima rasa dan pikiran itu.”

Penjelasan Armijn Pane berkaitan penggunaan bahasa dalam sajak. Buku Gamelan Djiwa memuat puisi-puisi Armijn Pane di masa 1930-an dan 1940-an saat bahasa Indonesia sedang “bertoemboeh”.  Armijn Pane sadar diri atas dugaan resepsi pembaca atau rasa bahasa Indonesia di masa silam. Armijn Pane melanjutkan: “Kumpulan sadjak-sadjak ini, pretensinja tidak lain dari mendjadi bahan perbandingan, peladjaran sedjarah perkembangan sastra Indonesia dan sedjarah perkembangan bahasa, terutama djika dipandang dari alat menjampaikan rasa dan pikiran.”

Andries Teeuw menganggap puisi-puisi Armijn Pane tak memikat: “… lebih-lebih sadjak-sadjak jang pandjang-pandjang, kekurangan itu amat terasa sekali, di situ tidak ada kekuatan bentuk dan oleh sebab itu sadja sudah datang rasa bojak, timbul kebosanan sehingga kita merasa pajah hendak menamatkannja.” Kritik ini adalah kebalikan dari pujian terhadap garapan novel Belenggoe.

H.B. Jassin (1939) turut memberi kritik pedas untuk puisi-puisi Armijn Pane. Kritikus sastra itu berkata: “… dengan sadjak-sadjak jang gagal… sukar menerima Armijn Pane sebagai pelopor angkatan baru penjair Indonesia.” Dua manusia ampuh itu sulit mengakui puisi-puisi Armijn Pane. Mereka mungkin ingin mempengaruhi publik pembaca agar berpaling dari kepujanggan Armijn Pane. Mereka cuma ingin mengesahkan Armijn Pane di dunia prosa.

Aku merasa kasihan tapi juga sungkan untuk memberi pembelaan. Tiga orang itu hidup di masa lampau. Aku membaca tulisan mereka di abad XXI. Armijn Pane tetap pujangga meski tak dipuji oleh dua kritikus sastra. Aku masih ingin membaca puisi-puisi Armijn Pane agar merasasi bahasa dan sastra di masa 1930-an dan 1940-an.

Armij Pane memberi sajian puisi berjudul Dalam Dunia Ribut. Puisi pernah dipublikasikan di majalah Peodjangga Baroe Th. VII, No. 9 Maret 1939.

 

Dalam dunia baru, penuh gelisah ini,

Penuh tjela dan pudji, duka dan ria,

Tiada berhenti suara ribut gembira.

Membuat hati ribut gelisah lupa didjiwa.

 

Petikan puisi ini mungkin sesuai dengan kritik A. Teeuw dan H.B. Jassin. Aku enggan ikut memberi kritik. Puisi ini aku anggap merekam zaman saat orang-orang menghasrati kemodernan alias “dunia baru”.

Armijn Pane juga menulis puisi wagu tapi romantis: Sinar Matamu. Puisi ini pernah terbit di majalah Kebudajaan Timur No. III Tahun 1944. Puisi romantis di masa penjajahan Jepang.

 

Adinda, hatiku rindu terkenang,

Kubuka djendela diwaktu malam,

Bintang bertaburan bertepikan kelam,

Terbajang adinda, sinar matamu,

Diwaktu kelam djiwa kalbuku,

Datang memanah djendela djiwaku.

Angin malam mengembus membelai-belai,

Djiwaku berkembang melingkupi alam,

Menari gembira diirama abadi.

 

Puisi pantas dilantunkan sebagai lagu cinta di abad XX. Aku mengira lirik lagu-lagu picisan di masa sekarang juga sederajat dengan puisi Armijn Pane. Aku berharap ada orang mau melagukan puisi Armijn Pane. Aku bakal memberi telinga dengan merebahkan tubuh dan menatap jendela saat gerimis membawa pesan kerinduan.

Armijan Pane memang pujangga romantis. Aku merasa terpilih untuk memiliki dan membaca buku Gamelan Djiwa. Buku ini mendendangkan perasaan-perasaan dengan bahasa melenakan meski tertulis di masa silam. Armijn Pane mengakui: “Perkembangan sastra disuatu masa menandakan perkembangan bahasa dimasa itu. Begitu djuga sebaliknja perkembangan dan perubahan bahasa menandakan adanja perubahan rasa dan pikiran, saja dahulu bukan sadja merasakan kesusahan tiap-tiap pengarang, tetapi djuga, dan mugkin terutama, saja menghadapi dan mengalami kesusahan menempa bahasa.”

Armijn Pane dengan buku Gamelan Djiwa sanggup mengesahkan diriku sebagai lelaki romantis meski malu memberi puisi untuk…. Begitu.

Iklan