Bandung Mawardi

Penggunaan kata “cabul” masih bisa kita temukan di koran dan majalah. Kata ini biasa ada di berita kriminal. Cabul mengajak kita ke perkara-perkara berkaitan seks, pendidikan, hukum, adab, pers. Perdebatan tentang cabul pernah heboh di masa 1950-an. Aku belum berani membandingkan kehebohan “cabul” dan kehebohan omongan tentang “perkosaan” di gedung parlemen sekian hari lalu.

Haksan Wirasutisna selaku Dewan Redaksi Organisasi Pengarang Indonesia menulis: “Banjak orang, baik dari kalangan instansi-instansi, perseorangan, ataupun organisasi-organisasi, merasa ketjewa sekali karena tidak mendapat kesempatan untuk menghadiri malam diskusi jang diselenggarakan OPI pada tanggal 26 Oktober 1956, jakni diskusi tentang masalah hangat mengenai pengertian batjaan/lukisan tjabul serta usaha pemberanterasannja.” Tulisan di halaman “pendahuluan” buku Apakah Batjaan Tjabul? (Balai Pustaka, 1957) ini menandakan ada kehebohan tentang “tjabul” di Indonesia.

Diskusi mengahdirkan Sutan Takdir Alisjahbana , Hamka, Gajus Siagian. Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan: “… soal ketjabulan ini sebenarnja hanja merupakan satu bagian jang ketjil sadja daripada soal jang lebih besar, jang dihadapi oleh seluruh peri-kemanusiaan sekarang ini, jaitu tuntuhnja nilai-nilai jang mengakibatkan–boleh dikatakan–krisis kebudajaan dalam arti jang seluas-luasnja, jang dapat kita katakan melingkupi segala bangsa pada waktu sekarang ini.” Omongan Sutan Takdir Alisjahbana ini tampak biasa saja. Aku merasa ada kelembekan ketimbang percik gagasan di masa 1930-an.

Hamka selaku pengarang dan ulama memberi penjelasan: “Diantara pendapat kami jang sama, ialah bahwasanja buku tjabul dan madjadlah tjabul hanjalah satu ranting sadja daripada satu pohon besar, jaitu krisis etik jang ada sekarang dalam seluruh masjarakat.” Aku adalah pengagum tulisan-tulisan Hamka. Pendapat itu membuatku pantas menghormati kesantunan Hamka dalam mengarang sastra. Aku pernah terlena dengan novel gubahan Hamka berjudul Tenggelamnja Kapal Van Der Wijck. Novel itu mengantarkau ke jagat sastra tanpa ada “tjabul”.

Sutan Takdir Alisjahbana dan Hamka menggunakan ungkapan sama: krisis. Peredaran bacaan cabul menguak krisis di Indonesia. Aku menduga pengertian cabul di masa itu mengandung perdebatan panjang ketimbang di masa sekarang. Urusan cabul saat ini sudah diartikan menggunakan konstitusi, fatwa MUI, seruang partai politik, perda.

Gajus Siagian tampil dengan anjuran-anjuran untuk mengatasi perkaran cabul: (1) memperluas terbitan-terbitan sehat, jang sedapat mungkin djuga menarik sebagai pengganti batjaan tjabul; (2) mendirikan perpustakaan-perpustakaan dimana pemuda-pemudi dapat membatja buku-buku dan madjalah-madjalah jang sehat; (3) meningkatkan honorarium penulis-penulis jang djudjur, agar djangan mereka terpaksa melatjurkan djiwanja seharga seratus duaratus rupiah dan meratjuni berdjuta-djuta djiwa dengan karangan-karangan tjabul.

Aku tertarik dengan anjuran ketiga berkaitan honor pengarang. Penulisan dan penerbitan karangan-karangan cabul telah turut memunculkan “krisis etik” dan “krisis kebudajaan”. Gajus Siagian seolah ingin meminta pertanggungjawaban pengarangan tentang hasil karangan dan uang-pendapatan. Pengarang memiliki peran penting dalam  sebaran gagasan adab di Indonesia. Anjuran meningkatkan honor pengarang memang membuatku kaget. Cabul pun bersinggungan dengan peran dan honor pengarang!

Aku jadi penasaran ingin mencari dan membaca buku-buku atau majalah-majalah cabul di masa 1950-an. Agenda Organisasi Pengarang Indonesia (OPI) mengadakan dikusi tentang cabul dipicu oleh kasus majalah Bikini. Tuduhan untuk majalah Bikini: mempertontonkan gambar tjabul. Aku tidak tahu keterangan utuh mengenai kasus cabul di masa 1950-an. Aku cuma merenung tentang keberanian orang menamai majalah dengan ungakapan menggoda: Bikini.

Pengadilan tentang kasus Bikini memunculkan tiga orang bersalah berinisial T.S. (28 tahun), E. Fx. (29 tahun), I.S. (26 tahun). Mereka dianggap harus bertanggung jawab atas publikasi majalah Bikini No. 1 Tahun I. Ada pemuatan tulisan di majalah Bikini: “… Dan ketika sekali…. dan kepuasan jang memabukkan.” Gambar-gambar pun ada di majalah Bikini dengan anggapan cabul.

Buku setabal 92 halaman ini mendokumentasikan diskusi tentang cabul selama 3,5 jam. Perdebatan sengit dan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi berdalih sastra, adab, etik, hukum. Aku membaca buku ini dengan pengimajinasian tak sempurna. Aku masih penasaran ingin melihat majalah Bikini di masa 1950-an. Majalah ini telah membuat geger. Aku pun mengerti tentang polemik cabul belum rampung sampai masa sekarang. Penerbitan majalah, novel, tabloid masih sering mendapat tuduhan cabul dengan pembahasaan canggih dan hiperbolik.

Aku ingin lekas menulis tentang cabul di ranah kebahasaan dan kesastraan. Cabul telah mengingatkan tanggung jawab pengarang di masa silam. Kehadiran dan seruan-seruan dari Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, dan Gajus Siagian tentu menguatkan peran pengarang dalam agenda peradaban di Indonesia. Mereka mengurusi cabul berpamrih literasi. Begitu.

Iklan