Bandung Mawardi

Aku pernah menulis 2 esai tentang gamelan sekian tahun lalu. Esai itu tampil di dua koran terbitan Jakarta dan Solo. Esai sesak kutipan-kutipan mengenai gamelan dari pelbagai buku. Aku memang sering menghadirkan kutipan-kutipan sebagai ikhtiar mengabarkan dan mengingatkan. Aku tak ingin bersombong memiliki keberlimpahan pengetahuan. Esai itu cuma aku sajikan demi memori kejawaan. Gamelan menjadi rujukan mengenang Jawa dan menata jejak-jejak biografisku.

Kartini mengaku terlena oleh lantunan gamelan. Imajinasi Jawa berpendaran dari gamelan. Kartini mencatat kebermaknaan gamelan dalam surat. Aku juga mencatat persentuhan imajinasiku dengan gamelan dalam bentuk esai kecil. Gamelan seolah representasi jiwa Jawa. Jiwa itu mengalun dan mendekam di kalbu.

Kuntowijoyo (1985) menganggap gamelan tidak sekadar urusan melodi, harmoni, dinamik. Keharmonisan dan keteraturan dalam gamelan merupakan representasi dari perjalanan suci menuju Tuhan. Aku menerima penjelasan ini tanpa memberi curiga meski ada ahli Indonesia menuduh gamelan adalah alat “kepatuhan” dan mencipta “publik pasif”.

Aku menemukan kutipan-kutipan impresif tentang gamelan dalam tulisan-tulisan Soetomo dan Ki Hadjar Dewantara. Dua tokoh pergerakan politik di masa kolonialisme itu mengartikan gamelan di ranah spiritual, politik, seni, kultural. Mereka menggunakan penjelasan-penjelasan simbolik dan reflektif. Gamelan adalah lantunan tak paripurna sepanjang masa. Lantunan gamelan pun masih bisa menghampiri kita saat dolan ke Solo saat ada agenda Sekaten. Suara gamelan mengalun dan menghampiri kalbu para pengunjun Sekaten di Alun Alun Lor.

Aku semakin ingin mengerti gamelan melalui buku-buku lawas. Buku berjudul Gamelan Djawa Dilihat dari Segi Dunia Musik (Badan Penerbit Kedaulatan Rakjat, 1958) garapan Mantle Hood memberi rangsang mengimajinasikan gamelan di Jawa. Mantle Hood adalah pecinta gamelan asal Amerika Serikat. Pembelajaran musik ditempuh di Amerika Serikat, Belanda, Jogjakarta. Perjalanan studi mengantar Mantel Hood jatuh di pelukan Jawa: mempelajari dan mengandrungi gamelan.

Mantle Hood menjelaskan: “… gamelan Djawa adalah sebuah pernjataan musikal jang komplex dan madju.” Uraian tentang gamelan diajukan dengan latar musik di Jawa dan musik di Barat. Mantle Hood perlu menampilkan nama komponis dunia untuk menjelaskan pengaruh gamelan di khazanah musik Eropa. Komponis itu bernama Claude Debussy. Komponis tenar mendapat ilham musik saat menikmati lantunan gamelan di Paris. Peristiwa itu terjadi di abad XIX.

Aku mengira sumber pengaruh kompoisi musik garapan Claude Debussy adalah gamelan asal Jawa. Keterangan-keterangan penting tentang gamelan dan Calude Debussy telah ada di buku Joss Wibisono berjudul Saling Silang Indonesia-Eropa: Dari Diktator, Musik, hingga Bahasa (Marjin Kiri, 2012). Gamelan di Paris itu gamelan asal Sunda. Informasi-informasi Joss Wibisono turut memberi terang sejarah gamelan di Eropa. Aku semakin ingin mengerti gamelan. Joss Wibisono tak sekadar memberi tulisan tentang gamelan di buku. Joss Wibisono pernah dolan ke rumahku untuk mengobrol bersama teman-teman. Obrolan sekian tema: gamelan, Ki Hadjar Dewantara, bahasa, politik. Joss Wibisono juga berkenan memutar garapan-garapan musik di Eropa dengan pengaruh gamelan.

Buku Mantle Hood cuma setebal 23 halaman tapi menggugah keinginan mengartikan gamelan di masa lalu dan masa sekarang. Uraian biasa tapi mengingatkan: “Gamelan telah mempunjai sedajarh jang pandjang dan seperti musik dari kebudajaan lain, musik Djawa djuga mengalami perubahan dan perkembangan jang masih berlangsung sampai saat ini. Musik Djawa tadi  mempunjai arti jang sangat dalam dan penting dalam kehidupan orang-orang jang memupuknja tari Djawa, teater Djawa (seperti wajang wong, wajang kulit, ketoprak dll.), kesusasteraan, adat istiadat, kepertjajaan dan naluri sangat erat hubungannja dengan musik Djawa. Dan kesemuanja itulah jang membentuk watak masjarakat Djawa.”

Aku merasa mengerti maksud dari penjelasan Mantel Hood selaku ahli musik meski tidak lahir dan tumbuh di Jawa. Kepekaan menembus kalbu Jawa memberi terang atas makna gamelan di Jawa dan dunia. Aku terus ingin mencari dan menemukan penjelasan-penjelasan memikat mengenai gamelan di pelbagai buku dan majalah. Aku tidak memiliki keahlian musik tapi menghasrati musik sebagai referensi biografi kultural.

Buku Gamelan Djawa Dilihat dari Segi Dunia Musik telah berperan mengimbuhi referensi untuk mengerti gamelan. Aku menganggap tulisan-tulisan tentang gamelan mesti terus diajukan ke publik agar tak melupakan gamelan. Agenda menikmati lantunan gamelan memang “melenakan” tapi membaca dan menulis tentang gamelan adalah ejawantah amalan kultural. Begitu.

Iklan