Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Aku termasuk penganut sinisme terhadap partai politik. Sekian esai tentang partai politik telah aku ajukan ke koran-koran dengan bahasa-bahasa mengejek dan menghujat. Aku memiliki kebencian dan kemarahan jika berurusan dengan partai politik. Aku sering menggunakan tanda seru untuk kalimat-kalimat sarkastik. Esai-esaiku pernah mendapat balasan dari seorang penulis dengan tuduhan bahwa aku “keterlaluan” untuk mengumbar dusta dan kejelekan partai politik.

Partai politik memang tema besar di Indonesia. Urusan partai politik dan Pemilu 2014 menjadi berita-berita menggelitik dan ganjil. Aku sering membaca berita-berita dengan sangkalan-sangkalan. Partai politik menimbulkan geram dan gairah menulis secara emosional. Aku merasa partai politik adalah “penggoda” untuk tulisan-tulisan sinis.

Sejarah parati politik dan pemilu di masa lalu sering aku gunakan sebagai referensi untuk menghajar ulah sekian partai politik di masa sekarang. Informasi-informasi tentang partai politik dan pemilu di masa lalu aku dapati dari buku-buku lawas. Buku berjudul Kepartaian di Indonesia (Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1950) adalah bacaan penting berkaitan pengenalan partai politik ke publik dan ancangan ke Pemilu 1955. Buku ini bersejarah dan langka. Barangkali para elite di sekian partai politik di Indonesia masa sekarang belum pernah melihat atau mencumbu buku itu dengan pengharapan memiliki keinsafan berpolitik.

Buku ini memuat keterangan-keterangan tentang partai politik di Indonesia usai pemberlakuan Maklumat X (3 November 1945). Maklumat X memicu pendirian puluhan partai politik dengan pelbagai ideologi. Secuil isi Maklumat X: “Pemerintah menjukai timbulnja partai-partai politik, karena dengan adanja partai-partai itulah dapat dipimpin kedjalan jang teratur segala aliran paham jang ada dalam masjarakat.”

Penerbitan buku Kepartaian di Indonesia sebagai seri I terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia memuat keterangan: “Perlu kami terangkan, bahwa dalam seri I ini, diutamakan terlebih dahulu partai-partai politik jang telah berakar dalam masjarakat jang timbul selama ini didaerah Republik Indonesia. Jang dimuat hanjalah bahan-bahan jang kami dapat dari partai-partai itu sendiri dengan tidak memberikan komentar atau tambahan lainnja. Dengan demikian diusahakan memberikan gambaran dengan tjara jang objektif dan dokumenter.” Buku ini memang dokumentasi awal untuk melacak kesejarahan partai politik di Indonesia. Aku tak tahu buku ini dulu dicetak dengan jumlah ratusan dan ribuan. Jumlah dan model edaran menentukan pengaruh buku untuk edukasi politik ke publik.

Ada perkenalan 14 partai politik dengan 3 pembagian dasar: ketuhanan, kebangsaan, Marxisme. 4 partai dengan anutan ketuhanan: Partai Politik Islam Indonesia Masjumi, Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Katholik Republik Indonesia (PKRI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo). 4 partai menganut paham kebangsaan: Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR), Partai Indonesia Raya (Parindra), Partai Wanita Rakjat. 6 partai berpaham Marxisme: Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis, Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Murba, Partai Buruh Indonesia (PBI), Partai Buruh.

Aku paling tertarik mempelajari Partai Wanita Rakjat. Partai ini jarang disinggung dalam kesejarahan politik dan pemilu. Sejarah pendirian Partai Wanita Rakjat: “Terdorong oleh kejakinan kebenaran siasat perdjuangannja kearah 100 % kemerdekaan dan kearah keadilan sosial, maka pada tanggal 6 September 1946 atas initiatief Nji Sri Mangunsarkoro bersama dengan Nj. M. D. Hadiprabowo dan N. Sri Umyati (sekarang Nj. Malelo Siregar) dari Barisan Buruh Wanita berdirilah Partai Wanita Rakjat di Jogjakarta jang satu azas dan tudjuan dengan Perwari.” Perwari adalah Persatuan Wanita Rakjat Indonesia (17 Desember 1945). Organisasi pernah terlibat di perseteruan politik antara kubu Sjahrir dan Tan Malaka. Pendirian Partai Wanita Rakjat dengan rujukan ke sejarah dan peran Perwari menghendaki ada otonomi ke jalan politik kebangsaan.

Pendiri Partai Wanita Rakjat suguhkan seruan moralitas politik: “Partai Wanita Rakjat sebagai partainja kaum ibu, kamu pendidik, jaitu bahwa kemerdekaan 100 % dan keadilan sosial hanja dapat tertjapai kalau segala tipu muslihat politik kita itu diberi fundament kedjudjuran dan keichlasan sebagai hasil budi manusia.” Seruan ini mengingatkan publik: berpolitik mesti etis. Seruan mulia ini tentu “terhapus” di ingatan kaum elite politik di Indonesia abad XXI.

Partai Wanita Kerakjatan memiliki tujuan: “Mentjapai susunan masjarakat jang sosialistis atas dasar peri-kemanusiaan jang berkebudajaan dan ber-Tuhan.” Penjelasan menarik terdapat dalam pasal mengenai keanggotaan. Aku ingin menampilkan kutipan ini untuk ingatan sejarah peran perempuan di arus politik Indonesia. Pasal keanggotaan memiliki 3 penjelasan: “(1) Tiap-tiap wanita warga-negara jang menjetudjui azas-tudjuan Partai Wanita Rakjat dan berumur 18 tahun keatas dapat mendjadi anggauta; (2) Tiap-tiap pemudi warga negara dari 12 – 17 tahun mendjadi tjalon anggauta; (3) Tiap-tiap laki-laki warga negara dan bangsa lain jang menjetudjui haluan Partai Wanita Rakjat dapat mendjadi anggauta penderma.”

Aku berharap orang-orang politik menilik penjelasan ini agar ada pemahaman historis tentang perempuan berpolitik. Polemik tentang kuota perempuan di partai politik atau perempuan di parlemen seolah mengabaikan episode-episode masa lalu. Partai Wanita Rakjat adalah rujukan untuk membaca lakon perempuan berpolitik. Aku penasaran dengan sebutan “anggauta penderma.” Kaum lelaki dipersilakan bergabung ke Partai Wanita Rakjat dengan status “anggauta penderma”. Lelaki tak lagi mendominasi urusan politik jika merujuk ke Partai Wanita Rakjat.

Susunan pimpinan pusat Partai Wanita Rakjat: Nji Hadjar Dewantara (Penasehat), Nji Sri Mangunsarkoro (Ketua I), Nji M.D. Hadiparbowo (Ketua II), Nji Said (Ketua III), Nji Surip (Penulis), Nji Hardjosubroto (Bendahari), Nji Satriowibowo (Pebantu), Nji Samawi (Pembantu), Nji Sunjoto (Pembantu). Aku masih harus  memerlukan informasi untuk mengisahkan perempuan berpolitik di masa lalu. Begitu.

Iklan