Tag

,

Bandung Mawardi

Menulis ibarat berdoa untuk terang. Aku berpengharapan memiliki buku Taman Siswa (Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, 1952) garapan W. L. Febre dengan pamrih ingin mengerti tentang Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa di masa lalu. Keinginan itu mengacu ke Daftar Buku Indonesia (1954). Aku membaca keterangan tentang buku Taman Siswa dan melihat gambar sampul depan: perempuan menari. Aku menulis doa sekian hari lalu di tulisan berjudul Buku… Doa itu terkabulkan. Jumat, 25 Januari 2013, aku telah mendapatkan dan mengkhatamkan buku Taman Siswa.

Buku ini ditulis oleh orang Belanda. Penerjamahan ke bahasa Indonesia dikerjakan oleh P. S. Naipospos. Febre menulis tentang Taman Siswa menggunakan sumber-sumber tertulis dan percakapan dengan tokoh-tokoh Taman Siswa: Ki Hadjar Dewantara, Sarmidi Mangunsarkoro, Mohamad Said. Buku setebal 70 halaman ini bisa membuatku terharu. Aku sudah sering membaca biografi dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Aku terharu saat membaca kisah M. Said sebagai penggerak Taman Siswa. Buku ini memang pantas ada di pelukanku.

Halaman pertama mengandung keterangan di bawah judul: “… ialah kepertjajaan kepada kekuatan sendiri untuk tumbuh…” Febre menganggap keterangan ini menjadi dalil hidup Taman Siswa sejak masa kolonialisme. Taman Siswa (1922) terus hidup dan mempengaruhi sejarah pendidikan di Indonesia. Taman Siswa adalah “pemula” di urusan pendidikan dan sangkalan terhadap politik kolonial. Agenda pendidikan menjadi rujukan untuk pemerdekaan, pembebasan, peradaban.

Nasib Taman Siswa usai kolonialisme dijelaskan oleh Mohamad Said: “Sungguh pekerdjaan kita mendjadi lebih sukar, sedjak kita mendjadi merdeka.” Perkara pendidikan ada dipersimpangan ideologis. Taman Siswa di masa kolonialisme memiliki “lawan” untuk ditanggapi. Situasi berubah di masa revolusi (1940-an dan 1950-an). Taman Siswa mesti tanggap atas perubahan zaman dan arus ideologi di Indonesia.

Febre menganggap Taman Siswa dan Ki Hadjar Dewantara itu manunggal. Febre mengisahkan perjuampaan dan percakapan dengan Ki Hadjar Dewantara: “Ketika saja diperkenalkan kepadanja, bahasa saja membuatnja gugup sebentar, tetapi karena saja belum berapa lama tinggal disini, ia bersedia menjapa saja dengan bahasa Belanda dan perhatian jang tidak disangka-sangka itu kepada masa ia beladjar dinegeri Belanda membuatnja tertjengang. Tentang asal mulanja, pamflet itu, ia berkata dengan terus terang kepada saja: ‘Tuan lihat, saja waktu itu masih seorang anak jang berumur 23 tahun dan bahwa pamflet itu kemudiannja mendjadi demikian terkenal, saja sebenarnj agak malu.” Pamflet itu di sejarah Indonesia dianggap sebagai kritik telak untuk kolonial. Ki Hadjar mengandaikan diri sebagai orang Belanda berpamrih memberi serangan-serangan politik untuk kolonial. Pamflet itu menimbulkan hukuman: Ki Hadjar melakoni pembuangan ke Belanda. Ki Hadjar Dewantara justru menekuni studi pendidikan selama di negeri penjajah. Pendirian Taman Siswa (1922) memiliki keterkaitan dengan pamflet dan pembuangan di Belanda.

Hasrat Febre menulis tentang Taman Siswa dipengaruhi oleh novel Suwarsih Djojopuspito berjudul Manusia Bebas. Novel ini berlatar masa kolonial dan memberi ruang pengisahan tentang pendidikan di hadapan politik kolonial. Febre memberi keterangan: “Bagaimana dahulu eratnja selalu hubungan Taman Siswa dengan gerakan nasional, dapat kita batja dengan baik dalam roman Buiten het Gareel, karangan Suwarsih Djojopuspito, jang sebagai isteri pemimpin sekolah Taman Siswa Bandung dan sebagai guru bertahun-tahun turut mengalami hidup ‘disekolah liar’ sebelum perang.” Aku pun beruntung telah memiliki novel itu dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia meski belum khatam.

Aku paling terpikat dengan pengisahan Mohamad Said. Febre memang sering mengisahkan Ki Hadjar Dewantara tapi memberi halaman-halaman untuk Sarmidi Mangusarkoro dan Mohamad Said. Sejarah Taman Siswa turut ditulis oleh Mohammad Said. Febre mengisahkan: “Waktu itu ialah zaman bersiap jang berbahaja dan ketika bangkai anak-anak telah terapung-apung ikali Molenvliet, Said mengerti bahwa telah tiba waktunja untuk mendirikan lagi sebuah sekolah. Anak-anak jang dipungutnja dalam rumahnja merupakan murid-murid oertama tentu dan ‘sekolah’ ini masih tetap dalam rumahnja sampai bulan Djanuari ’46. Dalam segala lapangan Said mengambil initiatif dan dapat pula membentuk kembali korps pengadjar, jang selandjutnja terutama terdiri dari pemuda-pemuda jang menerima pimpinannja jang memberi semangat itu. Pengurus besar Taman Siswa memberikan kepadanja dispensasi peraturan tahun ’32, jang mengatakan, bahwa hanja guru-guru jang kawin dapat ditundjuk sebagai pemimpin sekolah. Tidak lama kemudia sekolah itu sudah memiliki seribu murid lagi.”

Aku mulai ingat cerita tentang Chairil Anwar, Affandi, Misbach Yusa Biran. Mereka memiliki kaitan dengan Taman Siswa di Jakarta. Mohamad Said tentu tokoh berpengaruh dalam dunia pendidikan di Jakarta masa 1940-an dan 1950-an. Aku cuma mengingat bahwa Affandi pernah jadi pengajar di Taman Siswa. Chairil Anwar sering dolan ke rumah Affandi di lingkungan Taman Siswa. Misbach Yusa Biran adalah murid di Taman Siswa. Ingatan-ingatan ini muncul untuk mengenang ketokohan Mohamad Said dan episode Taman Siswa di masa penjajahan dan revolusi.

Buku Taman Siswa adalah “doa terkabulkan.” Aku mendapatkan buku ini saat tubuh kedinginan dan lelah. Buku itu ada di rak jelek. Aku melihat dan lekas memeluk demi kelegaan. Buku ini pulang ke rumahku di desa. Aku membaca saat hujan deras dan tubuh kedinginan. Aku melanjutkan doa: “Sejarah tak lagi dingin saat buku ada di kalbuku.” Buku ini memberi rangsang literasi tak terperi. Begitu.

Iklan