Tag

, ,

Bandung Mawardi

Ahad, 27 Januari 2013, aku dan sekian orang mengobrolkan novel garapan Mo Yan: Big Breasts and Wide Hips (Serambi, 2011). Peraih Nobel Sastra 2012 asal Cina itu mengisahkan perempuan bernama Shangguan Lu sebagai epos. Aku menulis esai kecil untuk novel Mo Yan dengan judul Epos. Esai wagu tapi menghendaki tafsiran-tafsiran panjang. Aku terlalu mengurusi Shangguan Lu sebagai epos Cina. Perempuan itu tak mau takluk. Hidup dijalani dengan kehendak dan keberserahan tanpa sesalan memuncak. Aku ingin terus mengingat Shangguan Lu dan mengisahkan untuk siapa saja.

Novel setebal 700-an halaman itu menampilkan perempuan-perempuan tangguh. Aku merasa menjadi lelaki lembek dan memalukan jika membandingkan diri dengan tokoh-tokoh perempuan ciptaan Mo Yan. Perempuan memang rahim kehendak hidup. Lelaki justru sering menanggungkan nasib tak keruan meski arogan merujuk ke seribu argumentasi picisan. Novel Mo Yan bisa membuat lelaki menangis. Aku tak ingin menangis. Aku cuma menunduk saat ada teman mengisahkan novel itu dalam suara sendu dan wajah hampir berairmata.

Aku jadi mengingat buku lawas terbitan 1950-an. Buku ini berjudul Wanita dalam Tingkatan Masjarakat (Pustaka Baru, 1950) susunan Nj. Sry Umyaty. Buku sederhana tapi mempesona. Aku semula tergoda oleh deretan kata di halaman sampul: “socialisme, kapitalisme, feodalisme, urkomunisme.” Aku terpancing untuk menemukan penjelasan-penjelasan ideologis. Buku ini terbit di masa 1950-an saat Indonesia sedang menari di pusaran ideologi.

Daftar isi bakal mengikat pembaca ke gagasan-gagasan besar: “wanita di masa lampau, 1001 matjam rantai pengikat, wanita dalam perdjoangan, wanita dan masjarakat baru, berdjoang lebih meluas.” Aku membaca tanpa curiga berlebihan meski merasa ganjil jika membaca buku itu melalui perspektif-perspektif feminisme abad XX dan XXI.

Penulis memberi peringatan terhadap lelaki berlatar sejarah perempuan dalam peradaban manusia. Kritik terbuka: “Demikian djuga terhadap kaum laki-laki. Banjak kita kupas rahasia-rahasia kekolotan mereka, jang tidak mau membimbing dan menghargai wanita sebagai manusia. Padahal mereka tahu bahwa ‘manusia’ itu termasuk djuga golongan wanita.” Aku mafhum maksud penulis memberi peringatan bagi kaum lelaki. Tuduhan terhadap lelaki merupakan warisan dari abad-abad lampau.

Penulis juga memberi pesan untuk kaum perempuan: “Selain dari pada itu, dalam buku ini diterangkan pula adanja kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan wanita, terutama jang masih banjak ragu-ragu, isin-isin, bergaul dengan lelaki, dengan alasan-alasan jang tidak masuk diakal. Demikian djuga tentang tjara berpikirnja mereka masih statis, masih dialam premitif dan lain-lain sebagainja.”

Buku ini tentu terlalu menggoda di masa lalu. Aku merasa perlu mengusulkan agar buku ini dibaca oleh para intelektual di kampus saat mengadakan perkuliahan tentang feminisme dan gender. Buku dengan tampilan sampul perempuan mengenakan kebaya membebaskan diri dari belenggu-rantai bisa jadi referensi episode-episode diskursus feminisme di masa silam. Aku mengusulkan tapi ragu jika dituruti oleh kaum intelektual di kampus. Aku cuma menanti kehadiran siapa saja demi keinginan membaca buku berjudul Wanita dalam Tingkatan Masjarakat.

Simaklah penjelasan mengenai peran perempuan di masa kolonialisme. Penulis memberi keterangan ringkas tapi mengena: “Kalau dahulu dizaman pendjadjahan Belanda, keadaan wanita sangat statis, akan tetapi setelah fascisme Djepang masuk mendjadjah Indonesia, mulai kelihatan wanita kita ingin dan aktif dibeberapa lapangan, mitsalnja bekerdja di kantor-kantor sebagai gantinja wanita-wanita Indo.” Perempuan bekerja adalah tema besar untuk Indonesia di masa kolonialisme dan revolusi. Keterangan ini bisa jadi rujukan bandingan untuk memandang perempuan bekerja di abad XXI.

Buku ini pantas dibaca oleh para politikus dan pengamat politik. Mereka bakal tahu diri makna perempuan di jagat politik. Penulis menganjurkan perempuan masuk ke jagat politik: “Memasuki partai politik bersama-sama lelaki itulah sudah semestinja. Djanganlah terlalu takut kepada momok, jang hanja bajangan sadja, disebabkan mitsalnja adanja kedjadian-kedjadian pelanggaran jang tidak diingini, diantara lelaki dan wanita sesama pergerakan. Djangan pula tergantung pada adat-adat kolot, jang terlalu membatasi pergaulan wanita. Karena segalanja itu, tergantung kepada kekuatan iman kita sendiri-sendiri. Lagi pula seperti sudah kebiasaan rupanja, bahwa pada tiap-tiap permulaan pertjobaan itu, selalu mendjumpai godaan-godaan dalam perdjalanannja.”

Alinea ini membuatku ingin menulis esai wagu beraroma masa lalu. Aku memang masih mengenang Shangguan Lu di novel Mo Yan. Aku masih memiliki haru tapi tergugah membuat esai demi perempuan. Begitu.

Iklan