Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Buku lawas janganlah dilupakan! Berita tentang penggerebekan sekian orang di rumah artis tampil di sekian koran. Berita menjadi obrolan di jalan, sekolah, rumah, warung. Publik memiliki tanggapan-tanggapan berbeda untuk “meramalkan” nasib sekian artis. Aku memang membaca berita-berita itu di koran dan majalah tapi sulit meramalkan nasib Indonesia. Lho!

Aku justru ingin mengurusi buku lawas berjudul Oesada Njirnaaken Madat susunan M. Joedadibrata dan M. Joedakoesoema (Bale Poestaka, 1923). Buku kecil setebal 53 halaman mengingatkan puja madat di masa lalu. Buku ini semula terbit dalam bahasa “Melajoe”. Edisi terjemahan ke bahasa Jawa dikerjakan oleh S. Darmaprawira. Aku ingin buku ini dibaca oleh artis, politikus, hakim, polisi, jurnalis, pengarang… Buku penting meski lawas.

Gambaran tentang pecandu atau pemadat: “Tijang ingkang ketagihan: boten patos ngraosaken loewe toewin arip, mangka neda lan tilem poenika, toemrap ngagesang perloe sanget. Tijang ingkang kados makaten poenika, bilih pinoedjoe melek, kenging dipoenwastani: pikiranipoen tilem; sarta manawi pinoedjoe tilem, pikiranipoen melek. Poenika kalebet bangsanipoen sesakit, ingkang nama morphinist.”

Pecandu tak mengenal lapar. Pecandu ingin meraskan nikmat tak rampung. Kondisi tubuh dan pikiran-imajinasi pecandu jauh dari kewarasan. Julukan sebagai “sesakit” alias morfinis mengandung hal-hal ironis. Pecandu berada di situasi tak terjelaskan.

Buku ini berisi kisah para pecandu dan ikhtiar mencari “obat-petuah” untuk kesembuhan. Sajian kisah tentu mengandung ajaran-ajaran moralis. Pembaca dipersilakan merenungi nasib para pecandu. Mereka memerlukan sentuhan agar tak jatuh ke titik paling nista. Nasib mereka seperti judul novel Merari Siregar: azab dan sengsara. Pecandu memang merasakan kenikmatan-ilusif tapi bakal jatuh ke kubangan azab dan sengsara.

Penulis memberi peringatan: “Manawi dipoen manah pandjang, tijang ingkang ketagihan poenika pantjen tjilaka sanget, awit boten ngemoengaken nradjang wewalaring agami kemawon, nanging oegi ngrisaaken badan, bandanipoen goesis, telas kadamel toembas madat.” Para pecandu di Jawa abad XX adalah kalangan elite dan rakyat biasa. Buku-buku sejarah malah menerangkan bahwa pembentukan kaum pemadat telah berlangsung sejak abad XVII. Puja madat di abad XX melibatkan pelbagai orang dari sekian profesi dan kelas sosial.

Pemerintah dan ulama berikhtiar menanggulangi kaum pemadat dengan segala cara. Pemberlakuan ordonansi, pemenjaraan, sinisme tak mempan sebagai jurus memusnahkan madat dan pecandu di Hindia Belanda. Mereka memerlukan siasat meski dilematis. Candu atau opium adalah sumber laba. Bisnis ini berlangsung ratusan tahun. Kaum kolonial tentu tak ingin kehilangan uang. Sejarah di Hindia Belanda memang turut digerakkan oleh perdagangan candu di kalangan kolonial, peranakan Tionghoa, penguasa-penguasa di Jawa.

Pemberlakuan peraturan tentang pembatasan pembelian-konsumsi madat oleh pemerintah kolonial ditanggapi secara optimis oleh penulis: “Sarana reka-daja ingkang makaten poenika waoe, kenging kaadjeng-adjeng itjalipoen tijang njeret ingkang awon sanget poenika, makaten waoe manawi tijang njeret ingkang sapoenika taksih gesang, sampoen sami pedjah sedaja.” Pemerintah belum mau melarang peredaran candu. Pemerintah masih memiliki pamrih mendapati laba di bisnis candu. Peraturan diberlakukan sekadar untuk mengurangi jumlah pemadat. Lho!

Buku ini pantas dibaca ulang agar tak kehilangan jejak referensi ikhtiar-ikhtiar meladeni puja madat di Indonesia. Aku terlalu sering membaca berita penanggulangan narkoba dilakukan dengan penandatanganan di kertas sakti, pengenaan kaos, lagu, film,  demonstrasi, stiker, poster. Penulisan dan sebaran buku tentang narkoba memang ada tapi jarang merangsang pikat publik untuk melawan narkoba. Buku-buku itu sering berisi petunjuk-petunjuk teknis bagi murid, orangtua, guru, aparat pemerintah, polisi.

Aku menganggap propaganda literasi untuk melawan narkoba perlu menggunakan bentuk puisi, cerita pendek, novel, drama. Kaum pengarang memiliki peran besar dalam garapan-garapan sastra bertema narkoba. Taufik Ismail sudah berikhtiar menghadirkan puisi-puisi moralis. Buku tentang narkoba juga sudah disuguhkan ke publik. Taufik Ismail mesti rajin mengajar dan mengajak publik menulis sastra bertema narkoba. Lho!

Buku Oesada Njirnaaken Madat (1923) adalah warisan masa lalu. Penghadiran kisah-kisah para pemadat untuk sembuh dan bertobat pantas jadi referensi literasi dalam melawan puja narkoba. Buku ini jangalah terlupakan! Penulis memberi konklusi atas sajian kisah-kisah para pemadat: “Tjarijos-Tjarijos ingkang sampoen sami kaseboet poenika, nerangaken kados poendi awonipoen tjandoe ingkang nggegirisi saha adamel tjilaka toewin sangsaranipoen para ingkang ahli njeret, poenapa malih kedadosaning koela warganipoen.” Aku pun tak ingin jadi pemadat agar tak jatuh ke lembah azab dan sengsara. Begitu.

Iklan