Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Selasa, 29 Januari 2013, esaiku tentang “menguburkan partai politik” tampil di Jawa Pos. Aku menulis esai itu dengan wajah mendung dan emosional. Kebencianku pada partai politik seolah tak bisa disembuhkan. Benci! Aku tak mengartikan benci seperti lelaki picisan merindukan perempuan tanpa jawaban. Aku juga sulit mengartikan benci seperti perempuan menanggung pengkhianatan lelaki. Percayalah!

Aku membaca buku-buku tentang partai politik dan pemilu di masa lalu dengan seribu penasaran. Buku berjudul Waspadalah Menghadapi Pemilihan Umum (1954) terbitan Pusat Komite Aksi Pemilihan Umum MASJUMI membuatku ingin mengenang siasat-siasat politik di masa 1940-an dan 1950-an. Ingatan ke masa silam mungkin meredakan benci ketimbang mengurusi ulah partai politik menjelang Pemilu 2014. Penggunaan kata “waspadalah” di judul buku mengesankan ada kondisi darurat atau kondisi mengkhawatirkan. Kata ini malah pernah terlafalkan secara enteng oleh penonton acara kriminal di televisi: Waspadalah! Waspadalah!

Waspadalah bertanda seru memang pantas disematkan di jagat politik. Buku ini diawali dengan penjelasan tentang makna Pemilu 1955: “(1) Rakjat jang berdjuta-djuita itu akan mengeluarkan suaranja menjatakan kehendaknja; (2) Rakjat kita nanti akan menentukan sendiri siapa-siapa jang sesungguhnja baik dan tepat mendjadi wakil-wakilnja; (3) Rakjat kita akan menentukan sendiri nanti pemerintahan jang matjam apakah, jang mereka kehendaki.” Buku ini disuguhkan saat jumlah buta-aksara masih jutaan di Indonesia. Penerbitan buku tentang pemilu menjadi “keganjilan” saat Indonesia ingin berdemokrasi meski disokong oleh jutaan orang buta-aksara. Buku ini justru menjadi siasat politik-literasi demi hajatan demokrasi.

Seruan diajukan: “Kita dahului peringatan ini karena pentingja soal pemilihan umum ini akan menentukan nasib rakjat Indonesia, nasib ummat Islam di Indonesia, nasib saudara, nasib kita berama, untuk berabad-abad dimasa jang akan datang!” Aku sangsi bahwa pemilu itu menentukan nasib. Oh! Nasib Indonesia? Pilihan kata nasib itu keterlaluan. Aku mencoba mengimajinasikan nasib di semantik-politik masa lalu. Ah! Aku belum bisa mengartikan nasib meski ada kamus-kamus lawas.

Persaingan partai politik di masa lalu juga seru. Aku merasa ada serangan-serangan historis dan ideologis untuk memunculkan klaim-klaim partai politik. aku cuma mengutip uraian di buku tanpa pemihakan. Uraian ini bisa jadi representasi situasi politik di masa 1940-an dan 1950-an: “Partai Komunis Indonesia, singkatnja PKI, memandang lahirnja Negara Republik Indonesia bukan sebagai kurnia Ilahi, tetapi sebagai akibat dari pengumuman perang Sovjet-Rusia terhadap Djepang pada 8 Agustus 1945. Sebagai kaum jang tak pertjaja Tuhan dan hanja berkiblat ke Moskow, pendapat mereka itu sepantasnjalah demikian.” Aku belum pernah membaca keterangan ini di buku-buku sejarah garapan orang asing atau ahli sejarah Indonesia. Aneh! Aku mungkin harus membaca seribu buku lagi untuk memastikan keterangan sejarah pendirian Negara Republik Indonesia.

Politik di masa lalu emosional dan “berdarah”. Aku menduga bahwa perang ideologis bisa berubah ke konflik-konflik tak keruan. Ada penjelasan mengagetkan di halaman 12 mengenai ajakan untuk mewaspadai PKI: “Pertama, terang dari riwajat itu bahwa PKI adalah njata seteru kita, musuh kita, musuh agama kita. Kedua, PKI itu bertekad teguh hendak mengkomuniskan Republik Indonesia, djika perlu dengan penumpahan darah sekalipun. Ketiga, PKI tidak akan ichlas rela dengan pemerintahan Masjumi ataupun Masjumi duduk didalamnja. Keempat, PKI dalam perdjuangannja meng-komuniskan Indonesia itu, selalu berhubungan dengan Sovjet-Rusia. Kelima, dalam keadaannja lemah PKI menggunakan ‘kenasionalan’ untuk memikat golongan-golongan lainnja. Ummat Islam Indonesia: WASPADALAH!” Aku tak berharap seruan-seruan historis dan ideologis ini terulang di Indonesia. Politik mesti beradab dan dialogis! Keterangan-keterangan ini tentu berkaitan dengan nasib Indonesia. Nasib?

Pemilu itu ajang persaingan dan konflik. Pemilu 2014? 10 partai politik telah mengumpulkan modal dan bersaing jurus untuk memikat ratusan juta orang di Indonesia. Aku ingin 10 partai politik tak usah mengumbar seruan-seruan mengandung konflik. Aku juga menduga Pemilu 2014 bakal jadi sinetron picisan jika partai politik adalah sumber dusta dan kepicikan.

Persaingan 10 partai politik masih mengesankan perbedaan paham: nasionalis dan Islam. Partai-partai berhaluan Islam dikabarkan mengalami penurunan minat dari publik. Partai nasionalis juga rawan diabaikan oleh kasus-kasus korupsi dan arogansi. Aku jadi ingin mengutip uraian propaganda di halaman 26. Propaganda untuk memperoleh minat dan mempengaruhi pandangan politik: “Bagi ummat Islam Indonesia, laki-laki dan wanita, tidak ada djalan lain selain berdiri berbaris bersaf-saf dibelakang Partai Politik Islam Indonesia Masjumi, jang konsekwen berdjuang untuk ketinggian kalimah Allah. Masjumi mengharapkan supaja ummat Islam dengan tidak ada ketjualinja merupakan satu blok.”

Aku membaca ini dengan sangkaan-sangkaan mengacu ke ideologi, agama, sejarah. Politik di Indonesia memang ruwet. Segala hal bisa menjadi dalih untuk menggapai kekuasaan. Nasib Indonesia ada di pemilu bernalar absurd! Aku pun meragu atas kebermaknaan pemilu. Begitu.

Iklan