Bandung Mawardi

Aku memiliki memori panjang tentang kemiskinan. Label miskin menjadi sah dengan tampilan diri dan jenis menu untuk santapan harian. Kemiskinan juga bisa terasa dari bahasa. Adegan-adegan diri sebagai orang miskin merangsang optimisme hidup dan memunculkan humor 5 menit.

Biografi miskin paling tampak saat kuliah. Aku cuma bisa mengenakan pakaian bekas dari orang-orang. Kuliah menggunakan sepeda berkarat. Sepeda pemberian untuk menggerakkan diriku agar mau dan bergairah kuliah. Teman-teman memarkir sepeda motor. Aku memarkir sepeda onthel. Biografi ini berkaitan dengan ketidaksanggupanku untuk jajan, pamer diri, membeli rokok bermerek kondang. Kemiskinan memang mesti dilakoni dengan tabah alias tawakalisme.

Orang miskin biasa kaget dan bingung. Aku mengalami saat biografi kemiskinan dihadapkan pada peristiwa tak biasa. Peristiwa ini terjadi sekian tahun lalu. Seseorang menghubungi untuk meminta diriku berkenan jadi pembicara di acara televisi. Aku mau jika berurusan dengan ocehan. Segala hal telah disepakati agar aku tampil di Mata Najwa – Metro TV dengan obrolan bertema Sumpah Pemuda. Aku merasa tak bakal minder merujuk ke referensi dan perspektif Sumpah Pemuda.

Keminderan muncul saat ada kiriman tiket pesawat. Aku dipersilakan berangkat ke Jakarta naik pesawat. Oh! Aku bingung dan ragu. Bepergian ke Jakarta naik pesawat! Imajinasiku bergelembung dan bergelombang. Aku memerlukan orang agar mengantar dan menemaniku naik pesawat. Adegan-adegan wagu pun terjadi beruntun. Temanku mengantarku ke dalam bandara: ikut mengurusi tiket dan memberi keterangan tentang sekian hal. Seorang teman juga memanduku melalui pesan-pesan singkat di telepon genggam. Aku naik pesawat.

Perjalanan cuma ditempuh sekitar 1 jam. Cepat! Aku tentu tidak lelah jika cuma duduk selama 1 jam. Pesawat memang alat transportasi hebat. Keminderan masih muncul saat aku duduk di pesawat. Diam dan berdoa. Aku merasa ingin kencing tapi takut menggerakkan tubuh ke toilet. Petugas di menit-menit awal telah mengabarkan bahwa di pesawat ada toilet: depan dan belakang. Aku merasa sakit tapi malu dan bingung. Aku tidak tega jika kencing di toilet pesawat. Tindakan kencing di dalam pesawat saat ada di langit bagiku adalah adegan tidak sopan. Aku memilih menahan dengan rasa sakit ketimbang kencing di langit. Imajinasiku mengabarkan bahwa di bawah langit ada orang-orang sedang berdoa. Aku tak mau mengencingi mereka saat menjadi pendoa. Aku bakal berdosa jika kencing di atas langit!

Memori itu telah berlalu. Aku teringat peristiwa-peristiwa itu saat membaca buku R.J. Salatun berjudul Sedjarah Penerbangan (Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakjat, 1950). Keterangan di bawah judul: “Melukiskan tjita-tjita, perdjuangan, pengorbanan dan kemenangan manusia untuk menaklukkan angkasa raya.” Buku ini hampir tak pernah terpikirkan olehku untuk dibaca dan disantap dengan kelaparan kata.

Halaman-halaman awal mengisahkan tentang tokoh-tokoh di pelbagai mitos dan hikayat. R.J. Salatun memperkenalkan tokoh-tokoh imajinatif di peradaban India, Yunani, Arab. Tokoh-tokoh bernama Gatotkaca, Ikarus, Perseus, Andromeda adalah representasi dari peristiwa manusia terbang di langit. Imajinasi tentang burung garuda dan karpet terbang juga masih mendekam di ingatan publik. Semua memberi rujukan imajinatif tentang kehendak dewa, manusia, makhluk terbang di langit.

Perwujudan angan-angan atau imajinasi manusia terbang berlangsung selama ratusan tahun. R.J. Salatun menjelaskan: “Tulisan-tulisan Roger Bacon, paderi Inggris jang hidup dalam abad ke-13, bolehlah kita anggap sebagai tulisan-tulisan jang pertama jang memuat pandangan jang tadjam tentang soal terbang. Misalnja, ia membajangkan sesuatu pesawat terbang sebagai sebuah alat dengan sebuah motor jang menggerakkan sepasang sajap.” Roger Bacon adalah peramal ulung. Ramalan itu terbukti meski Roger Bacon tak pernah mengetahui bahwa ribuan pesawat terbang berseliweran di langit. Roger Bacon seolah memberi doa dari abad XIII.

Wilbur Wright (1867-1912) dan Orville Wright (1871-1948) adalah dua orang fenomenal dalam sejarah pembuatan pesawat terbang. R.J. Salatun menceritakan: “Achirnja, pada petang hari tanggal 16 Desember 1903, maka mereka sudah siap untuk melakukan pertjobaan jang pertama. Keesokan harinja, jaitu tanggal 17 Desember 1903, adalah hari jang dingin serta penuh angin, seperti biasa didalam musim es. Oleh sebab itu maka sebagian besar dari orang-orang jang diundang oleh persaudaraan Wright untuk menjaksikan pertjobaan mereka tiada datang. Hanja beberapa orang anggota pasukan pendjaga pantai hadir ketika itu….”

Peristiwa itu mengawali kesanggupan manusia membuat pesawat terbang. Gagasan-gagasan dan ekspresi teknik-mesin selama ratusan tahun menjadi rujukan pembuatan pesawat terbang. Sejarah dunia berubah. Pesawat memindahkan orang dari pelbagai tempat ke tempat-tempat lain. Pesawat jadi andalan untuk Perang Dunia I dan II. Pesawat menggerakkan orang untuk plesiran. Pesawat memunculkan cita-cita bagi anak di TK dan SD. Bocah-bocah itu ingin jadi pilot. Pesawat memicu penulisan puisi, cerpen, novel. Pesawat adalah mukjizat abad XX.

Aku jadi ingat novel berjudul Terbang Malam (Perpustakaan Perguruan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan-Djakarta, 1956) gubahan Antoine de Saint Exupery. Novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H.B. Jassin. Novel berbahasa Perancis itu terkenal di dunia. Edisi terjemahan baru juga sudah muncul di toko-tokoh buku. Aku ingat si penerjemah adalah dosen di Universitas Indonesia. Novel impresif mengenai dunia pilot dan pesawat. Pengarang menulis novel Terbang Malam dipengaruhi oleh dunia-kerja sebagai pilot di masa lalu.

Buku Sedjarah Penerbangan pun aku anggap sebagai bacaan berkhasiat. Buku ini hadir sebagai bacaan di Indonesia masa 1950-an. Indonesia tentu belum memiliki ratusan pesawat terbang untuk kepentingan politik, turisme, militer, perdagangan. Aku jadi ingat pengakuan-pengakuan Sjahrir, Soedjatmoko, Soekarno, Hatta saat mereka naik pesawat terbang dalam pelbagai kepentingan. Aku mengira mereka juga seperti diriku: tak bakal kencing di pesawat. Tindakan ini tidak sopan. Begitu.

Iklan