Tag

,

Bandung Mawardi

Sejarah Jawa berkaitan dengan adegan bertanda tangan dan bersulang menimun anggur. Alur kekuasaan bermula dari pertemuan para raja di bawah pohon besar dan rindang. Mereka mengadakan rapat untuk membagi tanah dan kekuasaan. Pembagian pun berlaku menurut kalkulasi ekonomi dan kepatuhan atas dominasi asing: kompeni. Sejarah itu bergerak sejak abad XVIII.

Aku cuma sanggup menata penggalan-penggalan imajinasi mengacu ke buku-buku sejarah dan novel tentang Perang Jawa atau Perang Diponegoro di masa silam. Imajinasi Mataram dan Pangeran Diponegoro ada di sejumlah bait pahit. Aku menganggap sejarah Jawa terlalu dramatis. Peran para raja, ulama, petani, intelektual, pedagang membuat Jawa bergerak ke dilema-dilema kekuasaan dan identitas. Jawa bergerak di jalan tak berlampu. Jalan serupa kalimat di buku kuno.

Aku pernah mengumbar ocehan-ocehan ganjil saat percakapan bersama Peter Carey sekian tahun lalu. Pengarang buku tebal tiga jilid berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855) terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (2012). Aku menjadi moderator untuk obrolan buku fantastis setabal 1000-an halaman  itu di Balai Soedjatmoko Solo. Aku tak ingin minder untuk mengurusi sejarah meski tak pernah kuliah di jurusan sejarah. Aku mengantarkan Peter Carey ke obrolan bersama publik merujuk ke hal-hal biasa dan sepele. Peter Carey tampil sebagai pengisah fasih atas biografi Pangeran Diponegoro dan sejarah Jawa. Aku terpana dan rikuh.

Aku membaca buku itu bersama waktu-waktu berjatuhan. Hasrat mengkhatamkan buku ibarat menengok sejarah di tubuh sendiri. Buku itu selalu ada di kalbu. Aku menemukan ada pengacuan sekian informasi ke buku Soekanto berjudul Sekitar Jogjakarta 1755 – 1825 (Perdjandjian Gijanti – Perang Dipanegara) terbitan Mahabarata (1952). Aku membaca dan mengkhatamkan buku itu sekian tahun lalu sebelum memeluk buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855). Aku dan Peter Carey tentu memiliki perspektif berbeda saat membaca buku Sekitar Jogjakarta 1755 – 1825 (Perdjandjian Gijanti – Perang Dipanegara). Aku kadang menggunakan buku ini untuk referensi esai-esai wagu mengenai pohon, minuman, pakaian, aksara, meja-kursi, tanda tangan. Peter Carey cenderung memahami sebagai referensi bandingan atas publikasi tulisan-tulisan sejarah Jawa.

Soekanto adalah penulis buku-buku sejarah merangsang gairah. Publikasi buku tentang Raden Saleh dan Sentot membuktikan ketekunan menelusuri sumber-sumber sejarah dan mengisahkan ke publik. Soekanto menghadirkan buku Sekitar Jogjakarta 1755 – 1825 (Perdjandjian Gijanti – Perang Dipanegara) dengan pengharapan publik melek sejarah. Soekanto menjelaskan: “Banjakkah orang jang mempunjai minat terhadap sedjarah? Saja kira tak sedikit. Tetapi, mereka jang mempunjai minat dan jang saja minta djuga supaja menundjukkan perhatian istimewa pada isi buku ini, orang-orang itu tidak begitu banjak. Jang saja maksud ialah para guru, para pengadjar, para pendidik, golongan jang penting bagi masjarakat menurut pendapat saja.” Kehadiran buku ini di masa 1950-an tentu memberi godaan ziarah sejarah berpiajak ke Jawa.

Buku ini merangsang pembaca mengimajinasikan situasi Jawa masa silam. Kekuasaan di Jawa terpecah oleh pamrih-pamrih ekonomistik dan dendam-politik. Biografi para raja mengandung persengketaan tak berujung. Jawa mirip ruang semrawut. Jawa berjalan letih dan perih. Kompeni menghendaki Jawa adalah sumber hidup dengan mengagendakan politik-kepatuhan bagi raja-raja di Jawa.

Perjanjian Gianti (13 Februari 1755) adalah bukti luka di Jawa. Pembagian kekuasaan berdalih hak dan laba merujuk ke nalar-kolonial. Adegan rapat para raja Jawa di bawah pohon merepresentasikan Jawa di keteduhan tapi mengalami kegaduhan saat kompeni “mengajarkan” sengketa demi kekuasaan dan keberlimpahan uang. Para raja membubuhkan tanda tangan dan bersulang mirip tubuh-tubuh Eropa. Mereka tampil sebagai simbol “politik modern” di ruang kekuasaan Jawa.

Soekanto memberi keterangan bahwa ambisi-ambisi politik dan ekonomi mengakibatkan sengketa-sengketa berdalih kejawaan, iman, identitas, kekuasaan, tanah. Perjanjian Gianti perlahan membuat Jawa menjadi peta retak. Jawa memang bergerak tapi berdarah. Ribuan orang sengsara, terluka, sekarat, mati atas nama Jawa. Pangeran Diponegoro pun muncul dengan seribu pamrih demi martabat Jawa di mata para raja dan penguasa-kolonial. Perang Jawa adalah teater surealis selama puluhan tahun. Jawa menjelma lakon sengit. Jawa adalah puisi seribu bait bergelimang darah dan tak habis gairah melintasi waktu.

Buku Sekitar Jogjakarta 1755 – 1825 (Perdjandjian Gijanti – Perang Dipanegara) adalah memori Jawa. Aku membaca menggunakan imajinasi-imajinasi untuk mengalami sejarah berdarah. Jawa pernah memiliki memori luka dan sengsara selama sekian abad. Aku merasakan Jawa saat membaca buku setebal 204 halaman di bawah terpaan sinar lampu. Jawa di masa lalu sering kelam dan suram tapi aku memerlukan lampu agar sejarah tak musnah dari tatapan mata. Begitu.

Iklan