Tag

, ,

Bandung Mawardi

Penulisan sejarah di Indonesia turut mencatat Muhammad Yamin sebagai tokoh penting dan kontroversial. Suguhan buku sejarah tentang Gadjah Mada dan Pangeran Diponegoro merangsang pembaca untuk mengurusi sejarah beraroma imajinasi dan sakralisasi tokoh. Rangsang ziarah sejarah berlanjut dengan penerbitan buku berjudul 6000 Tahun Sang Merah Putih (Siguntang, 1951). Muhammad Yamin tampil sebagai ahli sejarah dan “pujangga”. Uraian sejarah pun menebar pikat dan curiga. Sejarah seolah tak melulu “kebenaran” tapi “dramatisasi.” Muhammad Yamin menjelaskan pamrih di bawah judul: “… jaitu hasil penjelidikan sedjarah dan arti jang dikandung Sang Merah-Putih sebagai warna-kebangsaan dan bendera negara Republik Indonesia.”

Aku mengoleksi buku-buku garapan Muhammad Yamin. Buku-buku itu sering menggoda meski mengundang seribu hasrat memeluk keterangan. Aku menghormati Muhammad Yamin sebagai intelektual, pujangga, politisi. Persembahan puisi, drama, risalah sejarah, risalah politik seolah mengesahkan laku hidup Muhammad Yamin mengarah ke puja Indonesia. Muhammad Yamin menulis dengan jutaan kata untuk menguatkan keindonesiaan.

Penjelasan-penjelasan tentang bendera merah putih bergerak di arus waktu ribuan tahun. Menakjubkan! Muhammad Yamin melakukan pembacaan-pembacaan masa lalu bermaksud mencari titik-titik persesuaian dengan politisasai bendera merah putih di awal abad XX. Lacakan itu memerlukan ketekunan dan spekulasi makna untuk mengelak dari fiksi atau “bualan”. Kronologi di abad XX mungkin bisa memberi rujukan “kebenaran” meski sulit mengajukan bukti-bukti otentik.

Muhammad Yamin menerangkan maksud penulisan dan publikasi buku 6000 Tahun Sang Merah Putih untuk jutaan orang di Indonesia: “Penjiaran pengetahuan tentang bendera Sang Merah-Putih dengan hal menerbitkan buku ini mengandung maksud, bahwa pendjelasan jang bersandar kepada pengetahuan akan lebih merapatkan warga negara Republik dengan tudjuan pemeliharaan kemerdekaan Indonesia dan kedaulatan rakjat Indonesia. Tjinta tanah air dan tjinta kepada bangsa akan bertambah berisi dan lebih berseri-seri, djikalau rasa tjinta itu tertanam atas persemaian buah fikiran jang berdasar ilmu pengetahuan.” Penulis tampak memerankan diri sebagai ahli dan memiliki otoritas menebar ilmu pengetahuan.

Aku menganggap buku ini mengandung makna politis jika menilik situasi politik di masa 1940-an dan 1950-an. Bendera tak cuma kain. Bendera adalah nasionalisme, heroisme, patriotisme. Pemaknaan itu telah disusun sejak ribuan tahun. Makna bendera mulai terang dan tergenggam mulai awal abad XX. Peristiwa-peristiwa politik di Indonesia pun bergerak bersama bendera. Muhammad Yamin mencatat bahwa kehadiran bendera menentukan ideologi dari pergerakan-pergerakan politik di Indonesia pada abad XX: Perhimpunan Indonesia (1922) memakai bendera merah putih kepala kerbau, Partai Nasional Indonesia (1928) memakai merah putih kepala banteng, Kongres Pemuda II (1928) memakai merah putih garuda terbang, Partindo (1933) memakai merah putih banteng. Pilihan-pilihan itu memuncak pada konsensus politik untuk memutuskan bendera merah putih sebagai bendera resmi Negara Indonesia. Legitimasi politik itu ada dalam konstitusi UUD 1945 dan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 mengenai bendera Indonesia.

Pengisahan dan pemaknaan bendera juga pernah disampaikan oleh pujangga dan tokoh perfilman Indonesia: Usmar Ismail. Puisi berjudul Merah-Putih (1944) ditulis menjelang kemerdekaan. Usmar Ismail menulis: Merah-putih!/ Dulu, sebelum kau berkibar di tiang tinggi/ dibelai, dipeluk angin merdeka,/ Engkau hanya lambang harapku. Bendera adalah simbol kekuasaan, nasionalisme, heroisme, revolusi, patriotisme, pemberontakan, subversif. Keterangan Muhammad Yamin bisa disandingkan dengan kerja para pujangga dan penggubah lagu untuk memaknai bendera dalam episode-episode sejarah politik di Indonesia.

Saridjah Bintang Soedibjo alias Ibu Soed (1908-1993) juga memiliki pengalaman dan pemaknaan bendera untuk disajikan dalam bentuk gubahan lagu. Ibu Soed mengenang ulah tentara Belanda saat memerintahkan penurunan bendera merah putih di depan RRI Jakarta. Perintah tak dituruti oleh para pejuang. Peristiwa itu menimbulkan geram dan haru. Ibu Soed dalam bara nasionalisme lekas menggubah lagu berjudul Berkibarlah Benderaku. Nukilan lirik lagu: Berkibarlah benderaku,/ lambang suci gagah perwira… Siapa berani menurunkan engkau,/ serentak rakyatmu membela./ Sang merah putih yang perwira,/ berkibarlah selama-lamanya. Lagu ini fasih dilantunkan sepanjang masa.

Muhammad Yamin memang menghendakai pemaknaan bendera tak sekadar dalam lagu dan puisi. Sajian buku 6000 Tahun Sang Merah Putih setebal 236 halaman ini adalah gairah sejarah untuk Indonesia. Aku pernah melacak dan mencatat sekian puisi, cerpen, novel, lagu berkaitan dengan bendera. Aku pun melacak dan mengoleksi buku-buku bertema bendera. Ikhtiar dokumentatif ada di sisipan kegairahan membaca-menafsirkan sejarah Indonesia. Aku merasa buku 6000 Tahun Sang Merah Putih garapan Muhammad Yamin belum mendapati sambungan atau bantahan serius. Penulisan sejarah di Indonesia seolah tak menempatkan tema bendera sebagai tema penting. Publikasi buku-buku sejarah Indonesia jarang mengurusi bendera. Muhammad Yamin tetap tampil sebagai “pengisah” tak tertandingi meski pantas mendapati bantahan. Begitu.

Iklan