Tag

, , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Peristiwa menemukan buku lawas adalah ajakan menguak misteri. Aku sering harus mencari informasi-informasi untuk merasai lega dan takjub. Buku lawas tak cuma untuk dipandang atau dipeluk dengan memejamkan mata. Buku lawas itu bisa mengantarku ke masa tak teralami tapi terimajinasikan. Aku pun sering berjanji agar buku lawas memiliki referensi sejarah di masa lalu.

Buku berjudul Babah Tjo dan Njonjah Bing (Stoommdrukkerij Siedhianho & Sons, 1922) gubahan Oeij Siauw Tjong masih mengandung misteri tak terungkap. Buku berisi “sair dan pantoen” ini terbit di masa novel-novel produksi Bale Poestaka menghampiri publik pembaca. Pelajaran sastra di sekolah tak pernah mencantumkan keterangan-keterangan tentang semaian sastra peranakan Tionghoa. Murid cuma mendapat informasi kecil tentang novel Salah Asoehan, Sitti Noerbaja, Azab dan Sengsara. Pengetahuan terbatas ini masih berulang saat diajarkan di perkuliahan.

Buku Babah Tjo dan Njonjah Bing berisi berisi 203 bait. Aku membaca perlahan dengan penasaran. Buku ini terbit di Solo? Aku mengimajinasikan bahwa Solo di masa awal abad XX adalah “kota pustaka” atau “kota literasi”. Solo memiliki sekian pengarang ampuh dan sekian penerbitan. Toko-toko buku turut menebar kata. Pikat literasi juga muncul melalui penerbitan surat kabar. Solo bergelimang kata. Aku memerlukan informasi tentang peran penerbit Stoommdrukkerij Siedhianho & Sons bagi pertumbuhan Solo ke arah “kemadjoean”. Keinginan ini belum pernah terkabulkan. Aku juga penasaran dengan biografi Oeij Siauw Tjong asal Tegal.

Nio Joe Lan dalam buku Sastera Indonesia-Tionghoa (Gunung Agung, 1962) menjelaskan: “Di Indonesia, penerbit Tionghoa peranakan mempunjai suatu tjara penerbitan jang bersahadja… Tjeritera jang amat pandjang barulah diterbitkan dalam lebih dari satu djilid… Penerbit Tionghoa-Peranakan menerbitkan buku tjeritera dengan memetjahnja dalam djilid-djilid jang masing-masing terdiri atas 80 halaman.” Keterangan ini cukup merangsang peran penerbit dalam mengeluarkan buku-buku sastra Indonesia-Tionghoa. Penerbitan itu berbeda dengan kebijakan penerbitan Bale Poestaka. Aku menduga ada ratusan penerbit Tionghoa-Peranakan sejak awal abad XX.

Buku sastra Indonesia-Tionghoa sering ditulis berdasarkan kenyataan. Nio Joe Lan menerangkan: “Kenjataan ini kebanjakan didapatkan penulisnja dalam berita harian-harian atau perslah pemeriksaan pengadilan. Apa jang diketahuinja dengan tjara demikian direkonstruksikan dan dirangkainja mendjadi sebuah hasil-sastera jang dramatis. Selain harian-harian dan sidang-sidang pengadilan, pengarang jang bersangkutanpun dapat mengumpulkan kenjataan itu dengan melakukan sendiri penjelidikan.” Buku Babah Tjo dan Njonjah Bing adalah bukti dari klaim-klaim mengacu ke kenyataan. Keterangan di bawah judul: “Soeatoe hal jang sesoenggoehnja telah kedjadian.” Aku seperti “dipaksa” untuk mengakui keterangan tanpa bantahan.

Aku merasa ada memori masa lalu terasakan saat membaca “sair dan pantoen” gubahan Oeij Siauw Tjong. Kisah percintaan memang klise tapi bisa memberi rangsang imajinasi asmaranisme meski picisan.

Babah Tjo itoe namanja,

Berparas tjakep aken roepanja,

Lagi moeda aken oemoernja,

Serta pelente dari pakeannja.

Tjepet berdjalan sigera mengampiri,

Pada seboeah roemah jang berdiri sendiri,

Lantas djoega ija berperi,

Angkat alis omong sembari.

Tatkala masoek di roemah itoe,

Sigera terkedjoet di itoe waktoe,

Kerna terliat orang prampoean satoe,

Jang soenggoe elok sebagai ratoe.

Dekripsi ini lazim muncul di cerita-cerita asmara. Aku cuma mengimajinasikan pembaca di masa lalu tentu terlena saat membaca cerita dengan pembukaan adegan pertemuan lelaki dan perempuan. Pertemuan berlanjut ke “tatapan mata” dan “hati berdebar”. Cerita terus mengarah ke rintangan dan pengharapan. Asmara!

Aku memang tergoda dengan percintaan Babah Tjo dan Njojah Bing. Ada getar tak biasa. Ada gairah tak terlunaskan. Asmara memang memberi bara tanpa seribu doa terkabulkan. Aku justru masih penasaran dengan informasi-informasi untuk menempatkan pengarang dan buku itu di latar sejarah sastra masa lalu.

Aku menelusuri halaman-halaman buku Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu (Balai Pustaka, 1985) susunan Claudine Salmon. Aku mendapat informasi tentang perkembangan sastra Cina Peranakan periode 1911-1923: “Kira-kira 40 syair dapat ditelusuri untuk periode ini; kira-kira separuh di antaranya tidak menyebutkan nama pengarangnya. Di antara mereka yang membubuhkan namanya pada karyanya terdapar pengarang-pengarang yang namanya kita sudah kenal, seperti Kho Tjoen Wan, Njoo Cheong Seng, Oei Soei Tiong, Tan Boen Kim…”

Pengetahuan tentang pengarang-pengarang itu memang terbatas. Aku telanjur mengisi catatan-catatan diri dengan nama-nama Abdoel Moeis, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana….

Buku Babah Tjo dan Njonjah Bing menambahi koleksi bacaan sastra Indonesia-Tionghoa. Aku mafhum bahwa membaca dan mempelajari buku-buku sastra Indonesia-Tionghoa memerlukan “keajaiban” dan lacak informasi tanpa berputus asa. Aku mesti terus mendapati dan membaca. Aku ingin mencari buku-buku seperti tercantum di halaman belakang buku Babah Tjo dan Njonjah Bing. Ada daftar buku-buku menggoda: Si TjoenatTan Bie HongTian A SamTan Djie IngAchirnja Menjesal…  Buku-buku itu bakal lekas ada di pangkuanku. Begitu.

Iklan