Bandung Mawardi

Aku memiliki kegandrungan membaca Tempo sejak lama. Agenda membaca merangsang impian untuk melihat tulisanku suatu hari ada di halaman-halaman Tempo. Impian terkabulkan setelah sepuluh tahun. Tulisanku berjudul Bahasa, Politik, dan Hoesni Tahmrin tampi di Tempo (4-10 Februari 2013) edisi “Suap Sapi Berjanggut”. Tulisan itu merujuk ke bacaan-bacaan buku lawas.

Aku tidak ingin melanjutkan cerita tentang tulisan-tulisan waguku di Tempo. Aku justru ingin mengurusi sajian memoar Remy Sylado di Tempo (21-27 Januari 2013). Nama ini aku temukan sejak SMA. Aku mengenal Remy Sylado dari novel-novel lama. Gairah mencari dan mengoleksi buku-buku Remy Sylado berlanjut sampai sekarang. Puluhan buku lawas dan baru ada di rumahku.

Memoar di Tempo memberi keterangan bahwa novel pertama Remy Sylado berjudul Inani Keke. Novel ini ditulis saat usia Remy Sylado belum genap 16 tahun. Ampuh! Keterangan lanjutan: “Dari hari ke hari, dia bergulat melawan waktu untuk menulis, yang seolah-olah telah menjadi bagian dari setiap tarikan napasnya.”Aku pun segera menghampiri rak di kamar buku. Aku ingin menimang kembali novel wagu itu sejak aku dapati sekian tahun lalu. Remy Sylado memang pengarang ampuh. Aku harus mengakui sebelum ada dusta di kepalaku. Aku menimang novel Inani Neke sambil mendengarkan lagu-lagu lawas Remy Sylado: Orexas, Bromocorah dan Putrinya, Urusan Lingga, Mabuk Pu Tao.

Novel Inani Keke diterbitkan oleh B.P. C.V. Alliance di tahun 1966. Novel setebal 112 halaman ini tampil bersahaja. Foto-foto turut ditampilkan di sampul di halaman-halaman isi. Pengarang menginginkan pembaca tak sekadar menghadapi kata-kata. Sekian foto disajikan dengan niat menguatkan adegan-adegan di gambaran kata. Remy Sylado menjadikan diri sebagai model bersama Rima Melati, Ayu Trisna, Yvonne Craig… Foto-foto di halaman novel seolah menjelaskan gairah Remy Sylado di jagat sastra dan teater. Foto-foto mirip adegan di pertunjukan teater.

Keterangan di halaman depan: “Sekalipun buku ini mengisahkan kedjadian-kedjadian didaerah Minahasa pada permulaan abad ke-16 jang lalu, namun dalam arti jang sebenarnja bukanlah sebuah roman sedjarah. Selain daripada itu, tokoh-tokoh jang disebut dalam buku ini semuanja adalah fiktif dan persamaan nama dengan orang-orang jang hidup pada waktu itu adalah setjara kebetulan semata-mata.” Pengarang sudah memberi peringatan bahwa Inani Keke bukan roman sejarah!

Kegandrungan menggarap cerita berlatar sejarah memang khas Remy Sylado. Manusia ampuh ini tekun mempelajari buku-buku dan dokumen sejarah. Tulisan-tulisan tentang bahasa juga biasa merujuk ke referensi sejarah. Aku sering terpikat dengan tulisan-tulisan Remy Sylado. Aku tak berniat menandingi tapi berkehendak mengurusi sejarah melalui tulisan-tulisan wagu saja.

Remy Syalado menggunakan buku De Minahasa garapan Graafland. Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya (Pustaka Utama Grafiti, 1991). Penerjemahan dikerjakan oleh Lucy R. Montolalu. Aku merasa beruntung bahwa menggenapi membaca novel Inani Keke dengan buku Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Buku-buku ini menggodaku!

Remy Sylado dalam kata pengantar menerangkan tentang penggunaan sekian referensi untuk garapan novel: De Minahasa (Graafland), Versuch Einer Anthropologie der Insel Celebes (Paul dan Frits Sarasin), Encyclopaedia Brittanica. Aku sempat curiga: pengarang terlalu serius membaca buku-buku ampuh untuk menggarap novel. Remy Sylado memang bukan pengarang murahan. Agenda menelusuri dan menekuni referensi menjadi modal menggarap novel adalah etos! Aku pantas menghormati Remy Sylado.

Pengarang melanjutkan keterangan: “Buku ini bukanlah sebuah ilmu pengetahuan. Buku ini adalah sebuah tjerita. Tapi didalam tjerita ini, pengarang telah mengetengahkan sedikit mengenai latarbelakang historis, sosiologis dan segalanja jang mentjakup dalam kehidupan di Minahasa….” Aku mengerti maksud pengarang untuk memberi aksentuasi bahwa Inani Keke adalah “buku tjerita.” Aku masih ingin mengutip keterangan sambungan: “Mudah-mudahan dalam buku ini, selain ia dibatja sebagai tjerita, dapat djuga ia dianggap sebagai sumbangsih ketjil dari pengarangnja untuk perbendaharaan pengetahuan mengenai kehidupan di Minahasa dengan masjarakatnja jang lazim dikenal dengan sebutan-sebutan orang Manado atau Kawanua.”

Aku sengaja tidak menampilkan sinopsis novel Inani Keke. Aku telanjur malu untuk membuat sinopsis. Aku tak ingin menjadi murid lagi: menerima dan mengerjakan tugas dari guru untuk meresensi novel. Penerbitan Inani Keke di masa lalu mungkin memberi rangsang literasi bagi Remy Sylado menempuhi jalan sastra tanpa putus asa. Publik pun menerima dan membaca novel-novel kondang Remy Sylado meski sekian orang tak mengetahui novel-novel lawas. Mereka mungkin tak pernah memegang dan membaca. Aku tak ingin pelit meski memiliki puluhan buku Remy Sylado: lawas dan baru.

Siapa saja boleh membaca novel Inani Keke tapi harus di rumahku. Siapa saja juga boleh minta untuk difotokopikan asal tidak pelit untuk meminjamkan pada orang lain. Aku merasa pengenalan terhadap pengarang-pengarang di Indonesia memerlukan kelengkapan dokumentasi.  Pusat Dokuentasi Sastra HB Jassin adalah ikhtiar besar agar pembaca tak kehilangan jejak biografis dan jejak buku para pengarang. Aku ingin pembaca juga mengenali dan membaca Inani Keke sebelum terlena membaca buku-buku garapan Remy Sylado di masa 1990-an dan 2000-an. Begitu.

Iklan