Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku membaca dengan terharu buku “biografi hampir novel” berjudul Burung-Burung Cakrawala (2013) garapan Mochtar Pabottingi. Buku berjudul Bahasaku diakui oleh Mochtar Pabottingi mengantar kesadaran menggapai pengetahuan dan merasakan arus kehidupan. Buku pelajaran Bahasa Indonesia itu memberi pikat untuk Mochtar Pabottingi masih bocah. Nalar dan imajinasi bergerak oleh rangsangan kata dan cerita. Aku merasa iri saat SD tak pernah mendapati buku pelajaran-bacaan seperti Mochtar Pabottingi.

Aku memang mengoleksi puluhan buku Bahasaku saat tergoda menilik semaian imajinasi bocah di buku pelajaran masa lalu. Aku membaca Bahasaku dengan pengandaian sebagai bocah naif dan berhasrat mengerti lakon dunia. Aku tak pernah menduga bahwa koleksi buku-buku Bahasaku bakal menemukan rujukan ke pengakuan Mochtar Pabottingi. Intelektual moncer ini amat dipengaruhi oleh Bahasaku sebelum mengarungi lautan kepustakaan.

Ingatan atas buku Bahasaku juga mengantarkan diriku untuk mengurusi buku sangar berjudul Merombak Tjara Berfikir Seperti Belanda dalam Menentukan Didaktik Peladjaran Bahasa Indonesia (Sanggabuwana, 1962) susunan Oejoeng Soewargana dan Muhd. Kasim Mangkuto Basa.  Buku ini bagian dari propaganda revolusioner di dunia literasi pendidikan. Aku belum berhasil mengoleksi sekian buku serial untuk generasi revolusioner.

Di sampul buku bagian dalam tercantum keterangan: Generasi revolusioner menuntut….  Tuntutan berkaitan ketersediaan buku-buku revolusioner untuk mengubah atau merombak cara berpikir. Penerbit Banaco-Masa Baru-Sanggabuwana menerbitkan sekian buku demi memenuhi tuntutan. Sekian judul buku: (1) Merombak Tjara Berfikir Seperti Belanda dalam Menjusun Methode Membatja dan Methode Menulis; (2) Merombak Tjara Berfikir Seperti Belanda dalam Menentukan Urutan Pengerdjaan dalam Berhitung; (3) Merombak Tjara Berfikir Seperti Belanda dalam Menentukan Didaktik Peladjaran Bahasa Indonesia. Sekian ini ditujukan untuk para ahli pendidikan dan pengajaran, para bapak-ibu inspektur, penilik dan kepala sekolah rendah. Revolusioner!

Aku mengira bahwa usai keruntuhan rezim Orde Baru tentu bakal ada penerbitan serial buku dengan slogan: “Merombak Cara Berpikir Seperti Orde Baru dalam …” Hal ini tak terjadi. Rezim Orde Baru memang jatuh tapi warisan buku-buku pelajaran masih memberi pengaruh besar di dunia pendidikan. Ikhtiar merevisi dan mengubah muatan materi buku-buku pelajaran memang dilakukan tapi tak revolusioner. Lho! Aku malah meniru nalar sloganistik: revolusioner.

Buku ini bermula dengan pengajuan kausalitas: “Apa sebabnja orang merasa kurang puas dengan methode-methode peladjaran bahasa Indonesia jang sampai sekarang dipakai disekolah rendah?” Pertanyaan ini masih pantas diajukan untuk SD di abad XXI. Para penulis buku melanjutkan nalar kausalitas: “Oleh karena methode peladjaran bahasa Indonesia jang sampai sekarang disusun untuk S.R. semuanja ditulis dengan pandangan jang digeneralisasikan.” Keterangan terus berlanjut ke akibat-akibat buruk: “Sekali-kali tidak diindahkan kesukaran-kesukaran tiap-tiap suku-bangsa jang disebabkan pengaruh bahasa ibunja; Seolah-olah tidak ada bahasa daerah jang mempengaruhi djalan fikiran anak-anak waktu mereka mempeladjari bahasa Indonesia; Sehingga dimana-mana terdengar keluh-kesah guru dan murid jang menghadapi matjam-matjam kesulitan; Sehingga hasil peladjaran bahasa Indonesia di S.R. itu samasekali tidak memuaskan.”

Keterangan ini lupa tidak aku gunakan dalam suguhan esai di Koran Tempo bulan lalu berjudul Ambiguitas Bahasa Daerah. Aku sengaja mengusut persoalan bahasa Indonesia dan bahasa daerah di masa 1940-an dan 1950-an untuk dipahami mengacu ke konstitusi dan situasi zaman. Informasi di masa 1960-an belum aku gunakan sebagai referensi lanjutan. Aku mulai mengerti bahwa pelajaran bahasa Indonesia di masa lalu telah mengandung seribu ragu dan kepentingan bergantung otoritas rezim dan kompetensi penentu kebijakan pendidikan. Penerbitan dan penggunaan buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menjadi bukti “tertib” dan “kontrol” secara ideologis-dikdaktik. Ah!

Makna kehadiran buku Merombak Tjara Berfikir Seperti Belanda dalam Menentukan Didaktik Peladjaran Bahasa Indonesia mengarah ke kritik pada generasi tua dan anjuran-anjuran revolusioner bagi generasi muda.  Muhd. Kasim Mangkuto Basa menjelaskan: “Kita maklum pula, bahwa pada generasi tua jang ada sekarang sudah sukar melenjapkan kebiasaan mempergunakan bahasa Indoneia menurut pola-pola bahasa daerahnja masing-masing. Dapatlah dikatakan, bahwa generasi tua itu tidak dapat diperbaiki lagi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Oleh sebab itu lapangan usaha kita harus kita tjari pada generasi muda, jaitu anak-anak kita jang akan menggantikan tempat-tempat kita nanti didalam masjarakat.” Mereka diharapankan bisa menjadi warga negara dengan kompetensi “dapat mempergunakan bahasa Indonesia jang seragam.” Oh! Slogan revolusioner untuk mencipta keseragaman!

Aku semakin kesengsem mengurusi buku pelajaran bahasa Indonesia di masa lalu. Hasratku ingin menerangkan lakon kekuasaan dan kultural Indonesia melalui halaman-halaman di buku pelajaran bahasa Indonesia. Aku terlalu ingin meski tak harus dijalankan dengan kuliah di jenjang S-2 atau S-3. Aku takut dan malu untuk kuliah jika membebalkan. Hasratku harus diwujudkan tanpa beban penggarapan sebagai tesis atau disertasi. Begitu.

Iklan