Bandung Mawardi

Aku jarang melantunkan lagu-lagu merdu saat masih bocah. Simbok mengisahkan aku di masa lalu adalah pemalu. Aku memang belajar dan bermain di TK tapi sebagai bocah wagu. Masa itu sulit untuk diceritakan dengan mata imajinasi sekarang. Aku merasa malu. Aku tentu pendiam dan sulit melantunkan lagu-lagu seperti teman-teman. Suaraku mirip seng berkarat tertimpa batu. Ah! Aku selalu malu. Biografiku pun cuma berisi suara-suara guru dan teman. Memori lagu dalam hidupku mirip kaset pita di timbunan piring dan gelas.

Masa lalu itu memang tentang malu. Aku sekarang adalah pelantun lagu-lagu cengeng. Aku tak malu untuk melantunkan lagu-lagu asmara picisan dan berairmata. Lagu telah mengajarkan sentimentalitas dan imajinasi picisan. Aku tak ingin malu oleh lagu. Kebiasaan melantunkan lagu-lagu cengeng aku genapi dengan melacak lagu-lagu bocah. Aku berikhtiar bisa melantunkan dengan imajinasi bocah meski aku sudah berambut panjang, berkumis, berjengggot. Aku adalah lelaki cakep tapi ingin merasai imajinasi bocah melalui lagu-lagu bersahaja.

Hasrat itu perlahan terpenuhi dengan membaca dan mengoleksi buku-buku lagu gubahan Ibu Sud, A.T. Mahmud, Pak Kasur,… Buku-buku itu merangsang ingatan masa silam meski memunculkan ragu atas identitas diri. Aku tentu bertumbuh dengan lagu-lagu bocah. Lagu tak sekadar penghiburan. Lagu juga berperan sebagai referensi pengetahuan, perasaan, identitas. Aku pun meniatkan diri untuk menekuni dunia lagu bocah dan menggarap esai-esai tentang lagu. Esai wagu tentang Ibu Sud, lagu, bahasa pernah tersaji di majalah Tempo setahun lalu.

Aku pernah menangis dan merenung saat menemukan buku Glatikku: Njanjian Kanak-Kanak (Pembangunan, 1958). Buku berisi lagu-lagu gubahan Ibu Sud ini mengingatkan tentang biografi perempuan di jalan nasionalisme dan keretakan asmara-keluarga. Ibu Sud adalah menggerakkan nasionalisme dengan risiko berpisah dari suami. Kehidupan pribadi dan keluarga ada di kemuraman.  Saridjah Bintang Soedibjo (1908-1993) alias Ibu Sud menjadi referensi kesedihan seorang perempuan tapi mewartakan pengetahuan dan penghiburan melalui gubahan lagu-lagu bocah. Aku mungkin cenderung mengerti biografi Ibu Sud tak sekadar sebagai pencipta lagu. Ada sentimentalitas dan ironi tak terperi. Aku tak ingin melanjutkan pengisahan Ibu Sud. Aku takut jika berairmata di depan kata-kata.

Penemuan buku itu digenapi dengan buku berjudul Ketilang: Njanjian Kanak-Kanak (Pembangunan, 1963). Buku ini cetakan ke sepuluh. Buku ini memuat lagu-lagu gubahan Ibu Sud dan Nj. R. Sutisno. Aku semakin terharu mengacu ke hasrat menekuni lagu-lagu bocah. Dua buku bakal mengantar diriku ke biografi bocah dan imajinasi keluguan. Aku memang sudah tidak lugu tapi menginginkan ada sentuhan-sentuhan perasaan kebersahajaan. Hidup mesti bisa dijalanai menggunakan imajinasi tak agung. Aku ingin mengembalikan diri ke dunia keterpanaan dan ketakbjuban.

Lirik dalam lagu berjudul Waktu jang Silam membuatku termenung.

 

Tahun jang lam silamlah segra

Tidak mudah kami lupakan

Banjak jang kukenangkan jang tak kembali pula

Sukatjita dan duka telah kami derita

Itu semuanja djadi riwajat kita

 

Lirik ini mungkin tak terasa bocah. Lagu ini memang jarang aku dengar dilantunkan orang. Aku cuma terpikat oleh keklisean mengartikan waktu. Lagu ini turut membawaki menziarahi diri di masa lalu.

Lagu berjudul Bunga Tandjungku memberi panggilan imajinasi impresif.

 

Kembang tandjung, kembang tandjung jang harum

Djatuhlah, djatuhlah ke pangkuanku

Kutusukan, kurangkaikan bungamu

Untuk mengharum konde ibuku

 

Angin sedjuk, angin sedjuk tiuplah

Tabur, tabur bunga ke bawah

Trima kasih sang anginku jang lutju

Segra kupungut hiasan ibu

 

Aku tak bisa melantunkan lagu ini tapi merasa ada kenikmatan mendapati imajinasi tentang kembang dan sosok ibu. Lagu-lagu Ibu Sud mungkin sudah “dimuseumkan” di keheningan. Aku jarang mendengar lagu-lagu Ibu Sud terdengar di radio atau tampil di televisi. Aku masih mungkin menikmati lagu-lagu Ibu Sud melalui kaset pita. Aku masih mengoleksi puluhan kaset lagu-lagu bocah dan sandiwara bocah. Kaset-kaset lawas tapi mengandung panggilan hidup.

Indonesia adalah negeri lagu tapi abai terhadap sejarah lagu bocah. Nama-nama para penggubah lagu bocah sering tak tercatat di halaman sejarah dan terucap di mulut kaum terpelajar. Aku tak mengerti risiko pelupaan mereka untuk agenda-agenda peradaban di Indonesia. Ibu Sud memang sering menggubah lagu-lagu bocah dengan imajinasi alam dan peristiwa keseharian. Ibu Sud pun tak melupakan diri sebagai perempuan pergerakan di masa 1920-an. Lagu-lagu bernafas nasionalisme dan keindonesiaan pun digubah dan diwariskan untuk dilantunkan demi martabat Indonesia.

Aku sulit mengimajinasikan jika presiden melantunkan lagu-lagu Ibu Sud dengan adegan memetik gitar. Presiden tentu bisa. Aku menganggap lagu-lagu Ibu Sud tak boleh dilupakan oleh presiden. Lho! Aku malah mengurusi presiden. Aku menghormati Ibu Sud sebagai pengisah dunia bocah dan pengisah Indonesia. Aku bakal terus menulis tentang Ibu Sud dan lagu-lagu bocah. Begitu.

 

 

 

Iklan