Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah mendengar cerita dari teman tentang koran dan lelaki tua terlalu alim. Temanku bekerja sebagai penjual koran. Niat menjual koran batal saat menghadapi seorang lelaki berdalil ajaran-ajaran dalam agama. Temanku menawarkan koran tapi lelaki tua itu memberi jawab: “Membaca koran adalah perbuatan tidak baik.” Aku lupa kalimat-kalimat lanjutan. Temanku cuma turut menjelaskan maksud si lelaki tua: membaca koran itu membuat waktu jadi mubadzir, membaca koran mendekatkan orang pada dosa karena “bergunjing”, membeli-membaca koran itu membuang rezeki. Aku diam mendengar keterangan-keterangan itu di saat wedangan bareng di hik pinggiran kota. Aku harus percaya! Zaman telah berubah tapi masih ada orang menampik koran dengan pelbagai dalih.

Kisah penjual koran dan seribu petuah dari lelaki tua itu mengingatkanku pada buku berjudul Kritis Mengupas Surat Kabar (1970) terbitan Cipta Loka Caraka. Buku ini disusun oleh tim beranggotakan 8 orang. Buku sederhana dengan ketebalan 92 halaman. Buku ini penting bagiku tapi bisa tidak penting untuk orang lain. Aku membaca koran setiap hari. Buku ini mengingatkanku agar membaca koran tak berlanjut ke cinta buta.

Halaman awal buku mencantumkan kutipan dari Thomas Jefferson: “Seandainja saja disuruh memutuskan mana jang harus dipilih, pemerintahan tanpa koran ataukah koran tanpa pemerintahan, maka saja tanpa ragu-ragu akan memilih jang tercahir.” Kutipan ini terlalu intelektual dan politis. Aku juga tertarik dengan ilustrasi kebermaknaan koran dengan latar dan tokoh lokal: “Djalan Djohar sembilan. Djam tudjuh pagi. Tjemberut muka Bu Djoko, seperti biasa. Anak-anak sudah lenjap ditikungan djalan, masuk sekolah. Kini tinggal sang suami. ‘Heran! Kenapa sih, mesti adegan jang ini djuga? Tiap hari sarapan bersama suami bisu! Kawin sama orang apa sama koran?’ Pak Djoko terus sadja sarapan sambil mendekapi suratkabar.” Ilustrasi ini merupakan petaka. Aku berharap petaka itu tidak terjadi pada pembaca tulisan wagu ini.

Aku hidup bersama koran. Hidupku kadang cemas oleh berita-berita buruk. Aku pun sering terkejut saat mendapat berita-berita ganjil. Halaman-halaman koran seperti catatan hidup untuk terbaca dan tergantikan di hari-hari lain. Koran ibarat sapaan bagiku agar mengerti dunia meski aku sering mendekam di rumah.

Buku ini memuat keterangan sejarah surat kabar: “Sewaktu mingguan Bataviasche-Nouvelles pada tanggal 7-8-1744 memperlihatkan paras untuk pertama kalinja, dapatlah dikatakan bahwa sedjarah persuratkabaran di bumi Nusantara ini mulai. Sesudah itu, puluhan adik dan saudara telah mengikuti djedjaknja.” Nusantara bersurat kabar. Kehidupan ditulis dan diwartakan melalui surat kabar. Indonesia di abad XXI masih bergerak bersama surat kabar.

Keterangan lanjutan: “Djumlah suratkabar di Indonesia bertambah dan berkurang menurut iklim politik dan kemasjarakatan. Iklim masjarakat panas, suratkabar ikut panas. Iklim masjarakat sedjuk, suratkabar ikut sedjuk. Sampai achir  tahun-tahun limapuluhan, hampir segala matjam aliran mempunjai suratkabar. Setiap sekian bulan, beberapa lenjap dari peredaran, entah karena tertjekik dari dalam, atau tergorok dari luar, akibat kurang serasinja pemberitaan mereka dengan ragam dan irama kerdja pemerintah pada waktu dan ditempat itu, sehingga dibelenggu atau dibreidel.” Penggunaan ungkapan “tertjekik” dan “tergorok” membuatku ada di suasana horor. Aku masih tertarik untuk menulis arti koran di Indonesia masa 1950-an. Aku juga ingin menulis tentang koran mengubah desa melalui program koran masuk desa. Aku harus menulis!

Hidup bersama surat kabar atau koran memang berkaitan ingatan. Koran itu terbit dengan ajakan ingatan meski diriku tak bisa memuat semua isi koran setiap hari. Aku menuruti anjuran H.N. Casson: “Manusia pendek ingatan. Hidupnja dibimbing oleh koran pagi dan koran sore…” Penerbitan koran adalah bermisi ingatan. Aku menerima keterangan ini dengan sangsi: ingatan sekejap atau ingatan untuk seribu tahun.

Koran-koran terus bertumpuk di rumah. Aku sering memandang dengan tatapan terpana. Peristiwa dan tokoh ada di tumpukan lembaran koran. Aku juga masih berharap tentang kesanggupanku membuat dokumentasi untuk sekian tulisanku di pelbagai koran. Aku merasa turut ada di halaman-halaman koran: menghadirkan kata-kata. Tulisan-tulisanku di koran selalu wagu. Aku tidak malu tapi…

Buku Kritis Mengupas Surat Kabar memuat petikan misi penerbitan surat kabar di abad XIX. Charles Dickens menerbitkan harian Dally News (1864) dengan misi: “Peniadaan segala kesalahan dan kekurangan-kekurangan masjarakat, penegakan keadilan dan terdjaminnja kebahagiaan serta kemakmuran seluruh rakjat.” Misi ini terlalu hebat!

Aku hidup di abad XXI. Aku sering membaca koran dan majalah ketimbang memberi mata untuk halaman-halaman di internet. Aku pun belum bosa. Adegan membaca koran mirip adegan berdoa harian dengan keberlimpahan kata. Begitu.

Iklan