Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Sejarah sekolah itu sejarah Indonesia. Aku mengerti perkara ini di saat sudah tak bersekolah atau kuliah. Aku jarang mengingat masa sekolah. Sekian tahun bersekolah jarang membuatku girang. Aku terlalu enggan untuk membuka lembaran-lembaran kenangan bersekolah. Diriku di masa sekolah adalah serpihan dari sejarah sekolah sejak masa kolonialisme. Aku sekadar imbuhan tak berarti.

Aku memang malas mengenang saat bersekolah tapi sering menulis esai tentang sekolah. Buku berjudul Sedjarah Bangsaku (Ganaco, 1962) susunan R. Moh. Ali S. S. membuatku tergoda mengurusi sekolah. Aku cuma ingin mengenang sejarah sekolah di Hindia Belanda. Janganlah berharap untuk kenangan diriku saat bersekolah. Buku ini digunakan bagi para murid di sekolah rendah dalam mata pelajaran “sedjarah nasional”. Buku  setebal 168 halaman mengurusi babak-babaj sejarah di Indonesia sejak ratusan tahun silam.

Tujuan pengajuan materi-materi dalam buku: “… melukiskan perkembangan kehidupan kebangsaan bangsa Indonesia.” Motif kehadiran buku: “Sedjarah bangsaku memberikan rangkaian-rangkaian peristiwa jang dipandang sebagai garis besar sedjarah nasional. Setjara lebih tegas maksudnja ialah memberikan fundamental history atau dasar sedjarah Indonesia, jaitu suatu minimum jang harus dikuasai oleh setiap anak Indonesia.”

Sejarah amat penting untuk nasib negara. Sejarah menentukan kelanggengan dan martabat rezim penguasa. Penerbitan buku Sedjarah Bangsaku di masa 1960-an tentu beraroma revolusi. Buku ini diakui belum selesai alias buku untuk “percobaan”. Aku mengakui bahwa buku pelajaran sejarah mengandung anjuran-anjuran ideologis dan membentuk ingatan kolektif tentang Indonesia di masa lalu untuk ditafsirkan di masa sekarang. Penguasa berpihak atas narasi sejarah. Penguasa berpamrih bahwa pengetahuan sejarah melalui buku pelajaran bisa menopang orientasi bangsa.

Aku tergoda membaca bab VI tentang Tjita-tjita Indonesia Raja. Penulis memberi uraian-uraian pendek sejarah di masa awal abad XX. Bab ini mengisahakan tiga tokoh revolusioner: Kartini, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara. R. Moh. Ali menulis: “Ibu Kartini adalah seorng pahlawan kita jang istimewa. Ia menjerbu benteng musuh dengan… pena.” Pengetahuan tentang Kartini sering mengingatkan tentang surat, pingitan, sekolah, emansipasi, politik etis. Kartini menghendaki penguasa kolonial mendirikan sekolah bagi perempuan. Hak-hak pendidikan bagi kaum perempuan harus dipenuhi demi kemodernan dan “kemadjoean”. Nasib Kartini selesai di usia muda meski sekian impian terejawantah: sekolah.

Sosok Kartini terlalu akrab dengan para murid di Indonesia. Pengenalan melalui buku pelajaran, lagu, gambar telah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Peringatan Hari Kartini semakin menjelaskan makna Kartini untuk Indonesia. Aku juga mengagumi dan sangsi pada Kartini. Aku mengenali melalui tulisan-tulisan. Sekian esai tentang Kartini telah aku suguhkan ke publik melalui koran. Aku merasa belum memiliki pengetahuan utuh meski masih rajin membaca buku-buku tentang Kartini.

Aku terkejut saat membaca uraian tentang Tan Malaka. Tokoh ini kontroversial dan masih belum terjelaskan di arus sejarah politik dan pendidikan. Tan Malaka adalah nama ampuh dalam ingatan publik saat masa kolonialisme dan revolusi. Tan Malaka menulis dan membuat gerakan-gerakan politik demi Indonesia meski “kalah” dan “terluka.” Tan Malaka bukan lelaki cengeng atau lelaki picisan. Biografi Tan Malaka justru menguak kesejarahan intelektualitas dan politik di Indonesia. Warisan tulisan-tulisan Tan Malaka memberi api tak pernah padam. Tan Malaka sulit disingkirkan dari episode-episode menentukan dalam pembentukan Indonesia.

R. Moh. Ali menempatkan Tan Malaka dalam latar sejarah pendidikan. Tan Malaka adalah tokoh kunci pendirian Sekolah Rakjat (1917) di Semarang. Gairah mengajar dibuktikan dengan mendirikan sekolah dan menjadi guru. Tan Malaka memerankan diri sebagai “guru rakjat”. Penulis menjelaskan: “Pada tahun 1917, Tan Malaka mendirikan Sekolah Rakjat jang pertama. Sekolah itu teristimewa dibuka untuk anak-anak rakjat-djembel. Tan Malaka mendidik anak-anak supaja tjinta kepada bangsa dan supaja setiap anak kelak suka bekerdja untuk bangsanja. Sekolah Rakjat Tan Malaka achirnja ditutup oleh pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda tidak suka melihat orang Indonesia bekerdja untuk bangsanja. Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah Belanda. Ia dikeluarkan dari Indonesia, diusir dari tanah air sendiri!”

Aku belum pernah mendapat penjelasan tentang Tan Malaka dan sekolah saat masih di SD, SMP, SMA. Rezim Orde Baru tentu menghapus ingatan atas Tan Malaka. Pengakuan atas sejarah sekolah pun jarang menampilkan Tan Malaka. Guru dan buku pelajaran cuma menampilkan sekian tokoh: Kartini, Dewi Sartika, Ki Hadjar Dewantara, Mohamad Sjafei. Nama Tan Malaka tak ada dalam arus sejarah pendidikan. Peran mendirikan Sekolah Rakjat di Semarang tak pernah mendapat pengakuan. Aduh! Aku pun mengerti bahwa Tan Malaka itu manusia kontroversial di mata Seokarno dan Soeharto. Pengetahuanku tentang Tan Malaka justru terpenuhi di buku-buku garapan Harry A. Poeze.

Aku patut memberi penghormatan pada Tan Malaka sebagai tokoh pendidikan. Ikhtiar mendidik melalui Sekolah Rakjat memberi penguatan atas intelektualitas dan kesanggupan Tan Malaka menggerakkan ide Indonesia. Aku merasa beruntung menemukan buku Sedjarah Bangsaku: memuat penjelasan pendek berkaitan Tan Malaka dan sejarah sekolah di Indonesia. Tan Malaka memang guru! Begitu.

Iklan