Bandung Mawardi

Penemuan buku sering menimbulkan kejutan dan kelegaan. Sekian tahun silam aku menemukan buku kecil berjudul Pandangan Dostojewski tentang Manusia (Badan Penerbit Kristen, 1954) susunan J. Verkuyl. Aku telah lama mengenal nama pengarang Rusia itu meski belum mengoleksi lengkap semua novel dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Aku membaca sekian novel Fyodor Dostoyevski: Catatan dari Bawah Tanah, Kejahatan dan Hukuman, Impian Pamanku… Aku kagum dan kagum.

Aku sering menemukan nama Dostojevski (1821-1881) tak sekadar di jagat sastra. Buku-buku tentang filsafat menampilkan nama dan novel Dostoyevski sebagai referensi eksistensialisme. Aku menganggap Dostoyevski tak cuma nama. Gagasan-gagasan besar bermula dari tokoh ampuh itu melalui suguhan-suguhan novel dan cerpen. Sastra bergelimang ajaran filsafat. Ampuh!

Biografi Dostoyevski menentukan garapan tema-tema dalam novel. Dostoyevski lahir dan tumbuh di keluarga ganjil. Doestoyevski  ditinggalkan sosok ibu saat remaja. Hidup terus dijalani bersama bapak sebagai pemabok. Sosok bapak membuat Dostoyevski menimbulkan sikap-sikap oposisioner. Bapak adalah “manusia kejam” dan “kikir”. Dostoyevski justru membentuk diri sebagai manusia tandingan dari bapak. J. Verkuyl menulis: “Tjepatlah berkembang padanja sifat pengasih pada orang-orang jang terhina, tertindas, pada orang-orang miskin, budak-budak, petani-petani dan anak-anak serta binatang-binatang jang tersiksa.”

Pertentangan terhadap bapak berakhir saat Dostoyevski bertumbuh dewasa. Kabar tentang kematian bapak dalam insiden pembunuhan oleh petani membuat Dostoyevski berduka. Berita kematian bapak menggoncang jiwa.  J. Verkuyl menulis: “Pada hari dia menerima berita kematian ajahnja itu, untuk pertama kalinja nampak padanja penjakit jang menjiksa dia sampai mati: penjakit pitam (epilepsi).”

Aku belum mengerti utuh Dostoyevski. Persoalan mengutip dalam omongan dan tulisan memang sudah aku lakukan. Urusan biografis dan pengaruh Dostoyevski untuk dunia terus menggodaku. Aku berharapan bakal mendapatkan koleksi lengkap. Keajaiban mesti terjadi meski aku cuma bisa membaca dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia.

J. Verkuyl mengutip konklusi komparatif dari ahli sastra Rusia: “Tolstoj berdiri diketinggian sebuah gunung dengan tjita-tjita murni dan memberi andjuran pada chlajak didataran dibawah untuk ikut. Dostojewsky berdiri didataran ditengah-tengah chlajak dengan mata pengasih. Dia adalah salah seorang dari mereka dan dia berdiri disana sebagai saksi amanat rachmat.” Konklusi ini memukau dan mengejutkan. Dua tokoh besar sastra Rusia diperbandingkan. Aku juga membaca novel-novel Tolstoy meski tak semenggoda novel Dostoyevski.

Pesan-pesan moralitas mengental di garapan sastra Tolstoy. Aku merasakan dengan keterpanaan dan renungan-renungan panjang. Dostoyevski? Hasrat berfilsafat ada di buku-buku Dostoyevski. Tragedi, kegetiran, absurditas bisa ditemukan. Aku mendapatkan nama dan novel Dostoyesvki di uraian-uraian tentang eksistensialisme.

Buku Pandangan Dostojewski tentang Manusia setebal 77 halaman ini mempertemukan pemikiran-pemikiran filosofis Dostoyevski dengan agama Kristen. Aku memang sejak mula menduga. Aku mengenal J. Verkuyl menulis buku-buku agama Kristen. Buku ini juga diterbitkan oleh Penerbit Buku Kristen. Penerbitan buku ini lumrah jika berkaitan dengan ajaran-ajaran dalam agama Kristen. Aku merasaobrolan atau tulisan-tulisan tentang Dostoyevski di Indonesia jarang menggunakan buku Pandangan Dostojewski tentang Manusia sebagai referensi. Orang-orang mungkin jarang atau tidak pernah mengetahui buku ini masih bisa ditemukan. Aku menemukan sebagai keajaiban!

Nuansa Kristen tampak dalam kutipan di halaman akhir: “Suara Dostojewsky adalah djuga suara orang jang lemah dan tidak luput dari kechilafan. Djuga perkataannja harus diudji dengan firman Tuhan. Perlu djuga ditundjukkan berbagai anasir-anasir jang tidak benar dan berbahaja dalam pandangan-pandangannja. Tetapi djanganlah hendaknja kita menutup mata untuk hal-hal jang baik dan bersih dalam buku-bukunja itu.” Tafsiran atas novel-novel Dostoyevski menguak lakon dunia bergelimang persoalan. Tafsiran juga mengarah ke lacakan kebenaran ajaran agama.

Aku jadi tergoda untuk membaca ulang novel Dostoyevski berjudul Catatan dari Bawah Tanah (Pustaka Jaya, 1919). Novel ini diterjemahkan oleh Asrul Sani. Aku mungkin sudah membaca novel ini empat kali. Novel berfilsafat. Novel tak membosankan. Aku ingin menampilkan kutipan tak klise mengenai testimoni tokoh: “… aku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah, membaca. Aku berusaha menekan semua yang tak henti-hentinya menggeledak dalam diriku dengan bantuan kesan-kesan lahir. Dan satu-satunya kesan lahir sampai padaku melalui bacaan. Membaca tentu saja bantuan yang besar sekali–ia menimbulkan kegairahanku, memberikan kenikmatan dan keperihan padaku. Tapi kadang-kadang ia membosankan aku dan mengkhawatirkan sekali.”

Kutipan ini mempengaruhiku dan memberi rujukan dari peristiwa-peristiwa membaca buku. Aku menghendaki berumah di buku. Adegan membaca mirip ritual: mengantarkan diri ke kubangan huruf. Dostoyevski pun menjadi referensi dan refleksi. Aku selalu ingin berumah di buku. Begitu.

Iklan