Bandung Mawardi

Aku menerima majalah Surah, 2 Maret 2013. Majalah asal Jakarta. Aku membaca menjelang tidur. Udara dingin. Tubuh berselimut dan tubuh masih lelah. Aku usai jadi moderator untuk reriuangan novel Pulang garapan Leila S. Chudori. Malam tak biasa. Aku lelaki jarang begadang. Acara sastra dan santap malam di restoran membuatku harus melek. Gairah reriungan masih ada di tubuh. Aku ingin mengekalkan acara tanpa membuat adegan berfoto. Aku cuma ingin mengenang dengan kata. Acara santap malam di restoran membuatku bingung. Tubuhku kehilangan lapar dan kaku. Aku cuma memesan wedang ronde saja. Lho!

Adegan pulang ke rumah mesti bersentuhan angin dingin. Kelegaan sampai di rumah. Tubuh berbaring sambil membaca Surah. Jarum di jam dinding menunjuk angka 1. Aduh! Aku harus tidur. Surah selesai terbaca selama sekian menit. Aku menatap halaman 21: gambar sampul majalah Zenith (1951). Aku pun teringat dengan puluhan koleksi majalah di tumpukan kardus. Aku memiliki puluhan Zenith. Aku pantas berbagi cerita atau keterangan. Keinginan ini mesti tertunda oleh adegan tidur tak lelap.

Pagi berhujan. Aku tak ingin terlena oleh puitisasi hujan. Aku harus menulis. Zenith Nomor 1-2-3, Tahun IV, 1954 aku baca ulang. Majalah ini memang menakjubakan: memuat tulisan-tulisan ampuh. Majalah lawas tapi terus berkhasiat. Aku tergoda oleh tulisan pendek dari Iwan Simatupang berjudul Dan. Pengarang ini aku gandrungi sejak SMA. Aku telah membaca Ziarah, Merahnja Merah, Kering, Koong, Tegak Lurus dengan Langit…  Iwan Simatupang pengarang ganjil tapi menggerakan filsafat dalam arus kesusastraan Indonesia.

Tulisan berjudul Dan mengurai nasib sastra di Indonesia. Aku termenung lama sambil menikmati lagu-lagu Andrea Bocelli. Iwan Simatupang memang manusia kurang ajar. Aku terlalu memuja dan sering singgah di tulisan-tulisan Iwan Simatupang. Aku membaca sejak SMA sampai sekarang. Iwan Simatupang tak pernah menimbulkan bosan atau jera.

Iwan Simatupang menulis: “Kemana kesusastraan berbumi Indonesia ini mau dibawa, adalah tepi jang menari-nari diremang kedjauhan. Tepi, daerah terachir sebelum ketamatan. Sedang kesusastraan djustru penolakan akan segala jang tamat.” Alinea ini mirip pelukan perempuan tak berpakaian. Aku menggigil tapi bergairah. Ah! Kata-kata ganjil sanggup ditata untuk menerangkan nasib sastra di Indonesia. Sialan! Iwan Simatupang memang berkerja dengan kata untuk membuatku terpana selama seribu detik. Alinea ini percampuran esai, puisi, khotbah, celotehan…

Tulisan cuma sehalaman mesti dinikmati dengan 9 lagu Andrea Bocelli. Waktu melaju tapi kata-kata menghampiriku seperti adegan ajakan bersanggama. Oh! Ampun! Ampun! Aku tak ingin menggunakan ibarat-ibarat picisan. Aku lekas memilih lagu-lagu keras untuk menempatkan kata-kata Iwan Simatupang di depanku berjarak 1 cm. aku berhasil menemukan lagu-lagu Dolores Oriordan. Tulisan Iwan Simatupang semakin menampilkan sengatan-sengatan tak terbatas.

Iwan Simatupang melanjutkan: “Iklim jang mentjekik ini dapat dihalau dengan menempatkan diri djauh dari tepi itu. Sedemikian djauh, hingga pudar dari kemulaan, pudar dari ketamatan. Dengan menempa diri djadi ruas, tapi jang mutlak dalam satu ketaatan perturutan jang tanpa arah.” Alinea ini mirip khotbah di bukit tak berpohon. Aku merasa melihat ada lelaki kumal sedang mengumbar khotbah dan sinisme untuk manusia-manusia lengah. Iwan Simatupang adalah lelaki keparat!

Tulisan pendek ini berkaitan situasi sastra di masa 1950-an. Para pengarang berdebat kata di koran dan majalah mengenai sastra. Mereka juga bertarung di acara seminar atau diskusi. Tuduhan-tuduhan dituliskan secara emosional. Umpatan-umpatan muncul dari mulut-mulut pengarang. Ungkapan-ungkapan bersebaran tanpa sensor: krisis, tanggung jawab, romantik, revolusioner, berontak…. Iwan Simatupang berada di keramaian kata alias polemik. Masa 1950-an memang mengisahkan sastra bertaburan sengketa estetika dan ideologi.

Hujan telah reda. Jendela tampak masih basah. Daun-daun pisang mirip wajah perempuan usai mandi. Segar! Bening! Cantik! Aku harus meninggalkan situasi romantis untuk mengurusi tulisan si manusia keparat. Iwan Simatupang menulis: “Kesusastraan berbumi Indonesia jang kini barulah komentar-komentar kerdil sadja, belum tegas mengemukakan apa jang dimauinja, jang tak dimauinja. Kegelisahannja masih ditjari-tjari, romantis. Sedang pada achirnja, romantik hanjalah salah satu gaja, bukan tudjuan.” Aku tak ingin melanjutkan kalimat-kalimat Iwan Simatupang. Aku ingin tulisan itu kedinginan tanpa selimut.

Aku beralih ke suguhan puisi dari Kirdjomuljo. Pujangga kondang asal Jogjakarta ini sulit untuk diabaikan bagi para kritikus sastra. Aku memiliki koleksi buku-buku Kirdjomuljo. Nama ini jarang dipercakapakan dalam obrolan sastra atau tercantum di tulisan sastra. Para pengenang memang para pengarang tua. Pengarang-pengarang di abad XXI tampak sudah melupakan Kirdjomuljo. Aduh!

Aku mengutip puisi berjudul Maret Empat Lima. Puisi dengan tujuh bait. Aku sajikan bait awal: Sampai malam kemarin/ Bulan masih lewat/ Masih kuning sedikit merah/ Ditengah masih seperti beringin tua. Aku sajikan bait terkahir: Tapi sudah sama ketemu/ Dan itu akan diingatnja. Aku membaca puisi ini usai membaca tulisan Iwan Simatupang. Sinisme Iwan Simatupang seolah berjalan di atas puisi Kirdjomuljo. Begitu.

Iklan