Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Senin, 4 Maret 2012, esaiku tentang guru dimuat di Solopos. Esai ini emosionalitas. Aku bercuriga atas hajatan untuk guru tapi menggunakan ungkapan berbahasa Inggris: teacher. Orang-orang telanjur memuja bahasa Inggris. Aku pun menulis esai dengan pamrih mengusut makna guru: dari dulu sampai sekarang. Sekian referensi aku ajukan agar publik tak terjerat ke puja bahasa Inggris. Penggunaan istilah berbahasa Inggris memang mentereng meski sering mengaburkan identitas dan sejarah-kultural.

Esai waguku itu mendapat sekian tanggapan berkaitan tema, emosionalitas, kesopanan, kritik…. Aku menerima dan meladeni tanggapan dengan penjelasan-penjelasan kecil. Esai itu masih ada di tubuhku. Esai itu menggeliat saat aku memasuki kampus negeri di Solo. Ungkapan-ungkapan bahasa Inggris bertaburan di kampus. Aku jadi ragu dengan keberadaanku: di Solo atau di negeri asing. Baliho besar mengumumkan keinginan birokrasi kampus agar terwujud impian luhur: green campus. Lho! Kota Solo sudah terlalu ramai dengan bahasa Inggris malah ditambahi dengan kampus bermentereng diri menggunakan bahasa Inggris. Aku semakin terasing dan benci. Benci! Mataku bisa ternoda bahasa Inggris. Oh!

Aku berharap bisa berdebat dengan Sutan Takdir Alisjahbana (1908-mengenai puja bahasa Inggris dan keminderan menggunakan bahasa Indonesia. Aku menempatkan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai tokoh bahasa. Murid-murid dan mahasiswa-mahasiswa mungkin sekadar mengenali Sutan Takdir Alisjahbana sebagai tokoh Poedjangga Baroe. Sutan Takdir Alisjahbana memang pengarang kondang dan petarung ide. Sekian novel sajian Sutan Takdir Alisjahbana: Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940).

Sutan Takdir Alisjahbana juga pemikir bahasa Indonesia. Sekian buku telah diwariskan meski kehilangan pembaca: Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)… Puluhan buku telah dipersembahkan bagi pembaca. Sutan Takdir Alisjahbana mirip raksasa dalam kesusastraan dan studi bahasa di Indonesia. Aku menghormati dan mengakui tanpa kesangsian. Wah!

Aku pernah terpikat oleh buku tipis bersampul merah. Buku itu berjudul Ditengah-tengah Perdjuangan Kebudajaan Indonesia (Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakjat, 1949). Buku ini disusun oleh Gadis Rasid berasal dari percakapan-percakapan bersama Sutan Takdir Alisjahbana. Sekian percakapan semua terbit di majalah Siasat. Aku membaca buku ini tak hendak mengadu tapi mengingat otoritas Sutan Takdir Alisjahbana dalam urusan bahasa, sastra, filsafat, ilmu, kebudayaan.

Sutan Takdir Alisjahbana menjelaskan: “Sebelum ada gerakan untuk memadjukan bahasa Indonesia dengan sadar, bahasa ini sudah dipakai sebagai bahasa perhubungan dikalangan partai-partai politik, terutama Sarekat Islam, Partai Komunis dan lain-lainnja. Demikian djuga surat-surat kabar jang berpengaruh memakai bahasa Indonesia. Ini memang terdjadi dengan sendirinja, karena memang tidak ada golongan jang mempropagandakan atau mendesakkan bahasa Indonesia. Dan ketika pergerakan kebangsaan telah mendjadi giat, telah selajaknja pula segala kegiatan politik kebangsaan itu memakai bahasa Indonesia.”

Sejarah bahasa Indonesia itu mendebarkan. Aku justru tergoda untuk melacak sejarah kegandrungan pejabat, rektor, mahasiswa, artis menggunakan bahasa Inggris untuk kemonceran. Lacakan sejarah bisa membuatku paham mengenai puja bahasa Inggris di dunia politik, hiburan, pendidikan, ekonomi, periklanan, seni…. Bahasa Inggris sering digunakan mahasiswa dan birokrat kampus dalam pelbagai acara. Pameran seni rupa sering berjudul dengan kata-kata asing. Aduh! Judul buku-buku dengan istilah-istilah bahasa Inggris juga menggoda calon pembaca. Aku juga sering menemukan ungkapan-ungkapan asing di sekolah, kampus, warung makan, bank…. Aku mengira Sutan Takdir Alisjahbana bakal menulis buku tebal berkaitan puja bahasa Inggris. Zaman telah berubah. Bahasa Indonesia perlahan diabaikan dan ditepikan.

Sutan Takdir Alisjahbana melanjutkan keterangan tentang Indonesia merujuk ke dunia pendidikan: Kita mesti ingat, bahwa tiap-tiap peladjaran itu ditjotjokkan dengan keperluan tiap-tiap negeri. Sebagai bangsa jang baru mulai, boleh djadi pada umumnja peladjaran dinegeri kita ini agak rendah dari dinegeri-negeri lain, tetapi kita tak boleh lupa, bahwa peladjaran-peladjaran jang diberikan dinegeri ini lebih tjotjok dengan kebutuhan dan keadaan negeri kita. Kalau kita ingatkan, maka beladjar keluar negeri itu, hanja tinggal pada hal-hal jang istimewa atau luar biasa sadja.”

Sutan Takdir Alisjahbana hidup di masa silam. Agenda belajar ke luar negeri adalah kelumrahan. Orang-orang berebut beasiswa untuk bisa kuliah ke luar negeri. Aduh! Orang-orang juga belajar keras agar menguasai bahasa Inggris. Sekian kampus terkenal di Eropa, Amerika, Australia, Singapura menggunakan bahasa Inggris. Ah! Mereka adalah orang-orang ampuh! Aku tak ingin iri meski bodoh dan tak bisa berbahasa Inggris.

Buku bersampul merah ini juga memuat pendapat bijak dari Sutan Takdir Alisjahbana: “Dari kaum terpeladjar-prijaji-birokrat mendjadi kaum terpeladjar-budiman.” Pendapat itu tercantum sebagai kalimat dalam buku tapi sulit jadi referensi untuk manusia-manusia ampuh di abad XXI. Begitu.

Iklan