Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku sulit mengingat tentang gairah belajar tentang pertanian. Simbok dulu cuma buruh tani. Di desaku memang ada sawah tapi keluargaku tak memiliki sawah. Ingatan masa kecil: aku menggembala kambing. Hamparan sawah memberi pandangan tak terlupakan. Aku juga sering menunggang kerbau. Sawah jadi ruang bermain dan mempertemukanku dengan petani, buruh tani, hewan, padi, rumput, …

Aku pernah membaca novel Pulang garapan Toha Mohtar (1958). Novel ini menceritakan tentang kehidupan keluarga petani. Hasrat mengolah sawah jadi ejawantah kebahagiaan dan harga diri: pemaknaan hidup. Novel Pulang tak cuma mengisahkan derita batin tokoh utama saat dilanda rasa bersalah atas biografi diri. Aku tertarik untuk mengurusi bagian-bagian cerita tentang sawah atau pertanian di desa. Aku pun pernah membaca novel Max Havelaar garapan Multatuli. Novel ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh H.B. Jassin. Fragmen kecil tentang Saidjah-Adinda memberi pengertian tentang derita petani di masa kolonialisme. Novel-novel menimbulkan rangsang untuk mempelajari pelbagai hal terkait pertanian.

Aku mengoleksi sekian buku mengenai pertanian susunan Soetan Sanif. Penulis ini rajin menulis buku-buku pertanian sejak masa 1940-an. Aku belum mengetahui biografi penulis tapi sering tergoda membaca buku-buku pertanian untuk mengenang sejarah agraris di Indonesia. Petani, sawah, padi, kerbau, sungai adalah tema-tema puitis. Aku memang belum jadi petani tapi sering merujuk ke pertanian untuk bermenung diri.

Soetan Sanif mempersembahkan buku berjudul Harta Benda jang Terpendam (W. Versluys Uitgevers Maatschappij N.V., Amsterdam-Batavia, 1947). Buku ini termasuk dalam seri “Pertanian: Pokok Pentjaharian”. Buku setebal 100 halaman ini semula diterbitkan pada tahun 1945. Buku bersampul hijau mengesankan warna tanaman alias aroma pertanian. Gambar di sampul buku: petani mencangkul, petani membajak, gunung, kerbu, pohon kelapa… Aku melihat sampul buku dengan mata-puisi. Wah!

Buku bacaan ini ditujukan untuk murid kelas VI di sekolah-sekolah Boemipoetera. Sutan Sanif berpesan: “Pengarang berharapan, sopeaja moerid-moerid itoe djangan hendaknja hanja pandai membatja tjeritera-tjeritera itoe dengan lantjar sadja. Tetapi perloe soenggoeh, mereka itu memahamkan isinja, serta maoe mentjantoemkan kedalam hati sanoebarinja segala didikan jang terkandoeng dalam peladjaran itoe. Kami berharap soenggoeh moga-moga oleh karangan-karangan itoe tjinta kasih mereka itoe kepada pertanian makin bertambah djoega.”

Penggunaan ungkapan “tjinta kasih” membuatku terkejut. Pertanian memerlukan “tjinta kasih.” Puitis dan romantis! Pertanian memang dunia puitis meski orang-orang memandang sebagai prosa. Buku Harta Benda jang Terpendam bisa disandingkan dengan buku-buku puisi terbitan 1940-an. Aku merasa membaca buku pertanian di masa 1940-an menimbulkan jeda agar tak melulu mengurusi sastra propaganda,  revolusi, partai politik…. Tema pertanian adalah “puisi terpendam” dalam penulisan sejarah di Indonesia.

Cerita berjudul Oelat Disangka Hantoe mengandung komedi dan ironi. Bertani adalah sikap hidup tapi memerlukan pembelajaran. Kehadiran cerita ini memperantarai murid untuk mengenali pelbagai hal tentang persoalan-persoalan pertanian. Tokoh bernama Pa’ Minan bingung saat melihat ada hewan aneh di sawah. Kupu-kupu hidup dan berterbangan di sawah. Kupu-kupu itu memakan daun padi. Pa’ Minan resah dan gelisah melihat nasib padi.

Aku sajikan kutipan adegan Pa’ Minan dan dukun: “Pada malam itoe djoega, Pa’ Minan memanggil seorang doekoen jang chbaranja ahli dalam penjakit tanam-tanaman. Kemenjan dibakar, laloe doekoen itoe meminta air santan semangkoek. Mangkoek itu dipegang doekoen diatas pendoepaan sambil dimenterakan. Kemoedian ia berkata kepada Bapa’ Minan: ‘Inilah obat penjakit padi itoe. Besok pagi tjoerahkan perlahan-lahan air santan ini ditempat air masoek kedalam petak pesemaian. Sebagai Bapa’ Minan tahoe, hantoe jang menggoda pesemaian itoe poetih warnanja. Koelit badannja poetih, matanja poetih dan ramboetnjapoen poetih. Bila ia melihat air santan jang poetih itoe, ta’ dapat tiada akan hilang lenjaplah  ia.”

Pembaca dipersilakan tertawa atau berpikir tentang hal-hal mistik dalam pertanian. Cerita ini memang ingin mengajarkan pada murid tentang pemberantasan hama secara bernalar tanpa mistik. Pa’ Minan meminta bantuan dukun dengan pengharapan “hantu-hantu putih” bisa lekas hilang dari sawah. Bagian akhir dari cerita memunculkan tokoh ahli pertanian: menerangkan tentang ulat dan tindakan petani untuk menanggulangi tanpa mantra dukun. Cerita ini bernalar modern. Pertanian  pun memerlukan modernisasi. Lho!

Sekolah pertanian ada sejak masa kolonial. Orang-orang mungkin cuma mengetahui sekolah kedokteran, sekolah teknik, sekolah guru, sekolah hukun. Pendirian sekolah-sekolah pertanian dimaksudkan merangsang “kemadjoean” bereferensi adab agraris tapi mengamalkan ilmu-ilmu modern. keberadaan sekolah-sekolah pertanian juga disokong dengan penerbitan surat kabar, majalah, almanak tentang pertanian. Penerbitan buku Harta Benda jang Terpendam berperan mengajarkan tema-tema pertanian bagi murid. Buku ini membuktikan ada narasi pertanian di masa kolonialisme dan masa revolusi di Indonesia.

Aku terpikat pada halaman berpuisi. Soetan Sanif menghadirkan 16 bait tentang pertanian. Puisi ini gubahan seorang murid asal Sumatera. Bab berjudul Tjita-tjita Saja Kalau Telah Keloear dari Kelas Masjarakat Pertanian mengandung pengharapan puitis:

 

Anak negeri moeda belia,

Masoek sekolah sangat ramainja,

Serta beladjar dengan radjinnja,

Soepaja pandai achir kelaknja.

 

Maksoed semoea soedahlah pasti,

Apabila keloear disekolah ini,

Akan bekerdja mendjadi tani,

Mentjari penghidoepan anak isteri.

 

Aku tentu sulit mencari pengakuan itu jika diajukan ke murid-murid di Indonesia abad XXI. Mereka tentu berkehendak menjadi dokter, guru, polisi, pengusaha, arsitek, bupati, presiden…. Aku mengangeni jawaban bocah saat mengucap cita-cita: …. ingin menjadi petani. Begitu.

Iklan