Tag

, , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia itu negeri bermisteri. Peristiwa Supersemar (1966) alias surat perintah sebelas Maret tetap misteri tak terjawab. Soekarno dan Soeharto tak tuntas memberi penjelasan makna surat di lakon kekuasaan. Surat berisi perintah-perintah tapi menimbulkan polemik sejarah. Aku belum pernah menemukan ulasan-ulasan gamblang mengenai kronologi, pelaku, sebab-akibat…. Supersemar memang membuktikan negara mesti mengandung misteri. Ah!

Aku ingin memperingati peristiwa di negeri asing. 11 Maret 1882: Ernest Renan mengucapkan pidato bersejarah di Universitas Sorbonne (Prancis). Pidato itu berjudul Qu’est ce qu’une nation? Pidato tak sekadar mengucapkan kata-kata. Ernest Renan seolah mencipta sejarah dari pidato dan edaran risalah untuk dunia. Fantastis! Peristiwa peresembahan risalah tentang bangsa oleh Ernest Renan itu turut menentukan alur sejarah Indonesia di masa kolonialisme.

Para pembaca tulisan-tulisan Soekarno tentu bakal menemukan nama Ernest Renan. Soekarno sering mengutip pendapat-pendapat Ernest Renan mengenai bangsa. Gagasan nasionalisme, Islam, Marxisme ala Soekarno pun terjiwai oleh kalimat-kalimat Ernest Renan. Soekarno memang orang ampuh. Lelaki itu sanggup menemukan dan mengerti risalah bangsa garapan Ernest Renan. Hasrat literasi memberi rangsang pemikiran politik dan membentuk Soekarno sebagai manusia-politik.

Aku membaca risalah dari abad XIX itu melalui terjemahan Mr. Sunario. Terjemahan Qu’est ce qu’une nation? (Apakah Bangsa Itu?) diterbitkan oleh Pena (Jakarta) tanpa mencantumkan tahun. Sunario memberi pengantar: “Bersama ini kami sadjikan kepada umum, terutama para peladjar ilmu politik, pemimpin-pemimpin politik dan sebagainja, suatu salinan dalam bahasa Indonesia dari pidato jang termasjhur dari pudjangga Perantjis, Ernest Renan.” Sunario mengerti ada pengaruh besar pemikiran Ernest Renan dalam arus pemikiran politik di Indonesia sejak awal abad XIX. Terjemahan ke bahasa Indonesia adalah persembahan kecil tapi mujarab untuk mengingat sejarah berpolitik.

Pengaruh pidato Ernest Renan ada di Eropa, Amerika, Asia. Kalimat-kalimat Ernest Renan melintasi ruang dan waktu. Sunario menerangkan: “Maka, tiada mengherankanlah, apabila bangsa-bangsa di Timur-pun, termasuk bangsa kita Indonesia, denga merasakan sendiri setjara njata kehendak untuk hidup bersama itu, bisa mendapat pegangan jang teguh dalam uraian Ernest Renan tentang hakekatnja bangsa, bersama-sama dengan haknja untuk menuntut nasib diri sendiri tersebut.”

Sunario adalah pelaku sejarah. Nama ini tercantum dalam deretan pemikir politik di Indonesia. Sunario menerjemahkan dengan nalar politik historis dan kontekstual. Kesanggupan menerjemahkan pidato Ernest Renan ke bahasa Indonesia merupakan pembuktian tentang signifikansi literasi dalam berpolitik. Buku terjemahan setebal 36 halaman itu adalah ingatan. Aku merasa ada terang saat membaca: mengimajinasikan Soekarno saat membaca risalah Ernest Renan. Aku juga mafhum atas kelihaian Soekarno menggunakan risalah dari abad XIX referensi berpolitik. Buku terjemahn itu pernah dicetak ulang oleh penerbit di Bandung. Aku lupa nama penerbit dan tahun. Barangkali nama penerbit Alumni? Aku cuma ingat bahwa sampul buku berwarna putih dan merah. Ukuran buku kecil.

Ernest Renan berkata: “Sekarang ini orang membuat suatu kekeliruan jang lebih besar lagi: orang mentjampur-adukkan ‘ras’ dengan bangsa dan memberi (sifat) kedaulatan kepada golongan-golongan ethnografis atau lebih tepat lagi kepada golongan-golongan bahasa, jang serupa dengan kedaulatan rakjat-rakjat jang njata wudjudnja.” Kalimat terjemahan ini mungkin sulit terserap oleh mata. Aku menganggap kalimat ini memerlukan penjelasan seratus alinea. Aduh!

Aku mulai mengerti kebiasaan kita mengucapkan-menuliskan “bangsa” di pelbagai kalimat berkaitan dengan pelbagai peristiwa. Kata “bangsa” ada di pidato, artikel, lagu, puisi, spanduk…. Kata itu bertebaran meski tak harus mengangkut makna bersumber dari Ernest Renan. Aku pun pantas malu jika menggunakan kata “bangsa” tapi tak mengandung gagasan. Malu!

Ernest Renan berkata: “Bangsa ialah djiwa, suatu azas rohani.” Ungkapan ini sering muncul sebagai kutipan di tulisan-pidato Soekarno. Ungkapan puitis. Ernest Renan menjelaskan: “Dua hal jang sesungguhnja hanja bersifat satu, (jang) membentuk djiwa (atau) azas rohani itu. Jang satu mendapat dalam waktu jang telah silam, jang lain dalam waktu sekarang. Jang satu ja’ni memiliki bersama warisan kenang-kenangan jang kaja-raja; jang lain ialah persetudjuan sekarang, keinginan akan hidup bersama, kehendak akan terus mempergunakan warisan jang diterima setjara tidak terbagi itu.”

Aku seperti membaca penjelasan itu sebagai prosa-sastrawi. Sunario memang menjuluki Ernest Renan adalah “pudjangga”. Sebutan ini mengandung arti pemikir dan ahli-bahasa dalam mengungkap pelbagai pemikiran. Aku menganggap risalah Qu’est ce qu’une nation? adalah puisi dari masa silam. Risalah ini menggodaku ketimbang surat bermisteri dalam sejarah politik Indonesia. Begitu.

Iklan