Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Hari kata-kata. Rabu, 13 Maret 2013, Loji Gandrung Solo: Kompas dan Dinamika Edukasia Dasar mengadakan acara obrolan tentang novel-novel Y.B. Mangunwijaya. Aku merasa mendapat kehormatan sebagai pembaca novel. Undangan menjadi pembicara telah tiba di rumah sekian hari lalu. Aku pun menulis esai berjudul Penggembala Cerita: disajikan untuk obrolan. Pembawa acara mempersilakan para pembicara duduk di depan: Emha Ainun Nadjib, Ayu Utami, Bandung Mawardi, B. Rahmanto. Moderator obrolan: Joko Pinurbo. Aku masih ingat pesan teman-teman: “Ocehan Bandung alias Kabut jika tidak… bisa kita protes!” Aku berjalan ke depan diiringi celotehan keras dari para hadirin: adegan wagu.

Aku mengucap sekian kata selama sepuluh menit dengan berdiri. Orang memandang mirip orasi orang menjajakan kata. Lho! Novel-novel Y.B. Manguwijaya aku tafsirkan ke pembaca dengan urusan-urusan sekolah, religiositas, puisi, antropologi, korupsi, flora-fauna, kesarjanaan, bahasa…. Para pembicara memiliki rujukan berbeda untuk menerangkan Y.B. Mangunwijaya. Emha Ainun Nadjib justru bicara bercabang. Aku cuma ingat ada memori literasi antara Emha Ainun Nadjib. Memori berkaitan dengan buku. Emha Ainun Nadjib berkata bahwa memori itu terbentuk melalui penerbitan buku kumpulan esai Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (Jatayu, Solo, 1983). Y.B. Mangunwijaya memberi kata pengantar untuk buku kumpulan esai Emha Ainun Nadjib.

Buku itu telah ada di rumahku sejak tahun 1999. Aku mendapatkan dengan doa dan kehendak. Buku kecil setebal 210 halaman. Buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya adalah buku kumpulan esai pertama. Buku ini memuat esai-esai Emha Anin Nadjib setelah tersebar ke Tempo, Kompas, Zaman, Basis, Surabaya Post. Buku dokumentatif tentang pemikiran-pemikiran kritis dari pemikir ampuh kelahiran 27 Mei 1953. Publik telah mengenal Emha Ainun Nadjib sebagai pujangga, orang teater, esais. Buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya menjadi persembahan untuk mengisahkan manusia dan negeri Indonesia.

Y.B. Mangunwijaya dalam kata pengantar mengakui: “Tidak hanya tersirat, tetapi sangat jelas terbacalah dalam tulisan-tulisannya, keprihatinan yang besar, untuk tidak mengatakan keberangannya melihat kesimpang-siuran bahkan kedangkalan kebudayaan serta kebobrokan moral zaman sekarang.” Emha Ainun Nadjib memang menggembalakan kata-kata untuk memerkarkan pelbaga hal. Esai jadi pewartaan.

Esai-esai Emha Ainun Nadjib sering membuat pembaca terkejut, terpana, kecut, geram. Aku cuma mengerti bahwa ke-mbeling-an justru bisa menguak kedirian manusia. Emha Ainun Nadjib tak ingin berlagak sopan atau kalem. Kata-kata mengantarkan undangan bersikap atas kehidupan tanpa pura-pura dan ragu-ragu.

Y.B. Mangunwijaya melanjutkan keterangan: “Sebab, esai-esai semacam ini lebih berfungsi dan lebih berhasil sebagai pembuka pintu-pintu baru atau cambuk diskusi daripada sebagai suatu kumpulan khotbah.” Emha Ainun Nadjib pun tidak menghendaki diri jadi tukang khotbah.

Aku tertarik menikmati esai berjudul Tiga Macam Bahasa. Emha Ainun Nadjib menulis: “Strategi politik bisa menerjemhakan dirinya ke dalam model kolase bahasa. Tindakan penindasan massal bisa dimulai dari komposisi bahasa.”  Kutipan ini seolah berulang saat Emha Ainun Nadjib berceloteh di Loji Gandrung. Perkara bahasa sering jadi pijakan untuk menanggapi situasi dan nasib Indonesia. Kritik atas kebijakan politisasi bahasa dan pemaknaan serampangan atas kata mengakibatkan Indonesia mirip negeri amburadul.

Ocehan-ocehan Emha Ainun Nadjib tentang bahasa aku tanggapi dengan kesejarahan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran. Aku menerangkan dari masa Orde Lama ke Orde Baru. Buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan pidato Soeharto (1972) telah mengurung bahasa ke ruang gelap. Bahasa Indonesia menjadi imperatif untuk menggerakkan revolusi dan pembangunan. Aku juga sering berurusan dengan bahasa.

Tema pendidikan juga sering diurusi Emha Ainun Nadjib. Aku suguhkan kutipan pendek: “Hasrat untuk ada adalah kodrat manusia. Ia selalu sangat besar dalam sebuah bangsa yang paling tidak kreatif pun. Maka pendidikan proses meng-ada musti digarap sungguh-sungguh. Dimulai dari kamar ibu, di ruang depan rumah, di beranda, di halaman tetangga, di sekolah, kemudian di tengah kehidupan luas.” Kutipan ini memang mirip petuah tapi pembaca bisa mengartikan sebagai undangan renungan.

Aku merasa ada keberterusan tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib dengan situasi Indonesia mutakhir. Urusan bahasa dan pendidikan telah merepotkan publik. Penguasa cuma memberi perintah tanpa ajakan “mengalami” bahasa dan pendidikan. Urusan itu berkaitan kebijakan-kebijakan politis. Undang-undang pun diajukan demi “ketertiban”, “kepatuhan”, “pembakuan”, …

Buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya adalah memori Emha Ainun Nadjib dan Y.B. Mangunwijaya. Publik pun turut memiliki memori literasi tentang Indonesia. Buku ini semula terbit di Solo. Emha Ainun Nadjib mengingat kehadiran buku itu saat di Loji Gandrung (Solo). Aku mendapati buku ini di Solo. Aku pun membaca-mengingat Emha Ainun Nadjib, Y.B. Mangunwijaya, Indonesia, esai, bahasa, pendidikan, politik… di Solo. Buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya memang lawas tapi pantas jadi referensi untuk mengurusi Indonesia di abad XXI. Begitu.

Iklan