Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Urusan makanan adalah urusan penting. Aduh! Kalimat klise dan tak menggoda. Aku ingin mengenang kebingungan mengurusi makanan: Jumat, 15 Maret 2012. Ada 14 orang di Bilik Literasi. Mereka sedang “sinau bareng” di hajatan 3 Hari Berhuruf seri ke-3 (15-17 Maret 2013). Menu siang untuk 3 Hari Berhuruf seri ke-1 dan ke-2: nasi, ayam goreng, sambal-bawang mentah. Aku sengaja memilih menu itu agar teman-teman merasa kepedasan dan berkeringat. Makanan memberi rangsang untuk “melek” alias melawan “ngantukisme”.

Obrolan tentang pembunuhan berlangsung dari pagi sampai siang. Aku tak berpikiran bahwa warung langganan tutup. Situasi siang hari panas dan aneh. Warung tutup berarti tak ada menu nasi, ayam goreng, sambal-bawang mentah. Menu berganti menjadi soto. Teman-teman bergerak bersama ke warung soto. Obrolan mengarah ke selera makanan dan situasi perbumbuan di Indonesia. Harga bawang mahal. Sekian warung makan tutup berdalih tak sanggup membuat siasat harga dan olahan menu berkaitan bawang.

Aku tak menganggap peristiwa di warung soto sebagai urusan penting. Peristiwa itu mengingatkanku dengan buku berjudul Hidangan Sehat: Menjempurnakan Kesehatan dengan Susunan Hidangan jang Benar susunan Poorwo Soedarmo (Djambatan, 1960). Buku setebal 100 halaman ini berkaitan dengan urusan makanan. Penulis memang memberi anjuran-anjuran tapi tak menggunakan model seperti khotbah. Poorwo Soedarmo menggunakan model percakapan untuk mengurai pelbagai hal tentang keluarga, makanan, kesehatan, negara… Aku membaca buku Hidangan Sehat mirip membaca naskah sandiwara.

Penulis berpengharapan di halaman “pendahuluan” mengenai misi penulisan buku: “Mudah-mudahan buku ini akan mengisi waktu jang masih terluang dari ibu-ibu. Waktu jang penuh dengan kewadjiban sehari-hari seperti menjiapkan keperluan ajah dan anak masing-masing untuk pergi kekantor dan sekolah, membersihkan rumah, mendidik anak-anak ketjil, berbelandja, memasak dan sebagainja. Semoga pula buku ini dapat membantu kaum ibu memperoleh tudjuannja: mentjapai kebahagiaan didalam dan diluar rumah tangga.”

Buku Hidangan Sehat bacaan untuk kaum ibu. Bacaan berkhasiat ketimbang majalah dan tabloid gosip atau keartisan. Ibu-ibu di Indonesia mesti membaca buku Hidangan Sehat agar tak tersesat ke bacaan-bacaan picisan. Lho! Aku tak berniat melakukan pembinaan ibu-ibu. Buku ini bagiku menunjukkan situasi zaman 1950-an dan 19560-an saat ibu sebagai pembaca menemukan bacaan-bacaan lezat.

Aku tergoda percakapan antara tokoh Sukarsih dan Noor tentang “soal dapur” sebagai tema besar di keluarga.

Sukarsih: Selamat pagi, Njonja, saja Sukarsih dari Lembaga Makanan Rakjat.

Noor: Silakan duduk, Saudara.

Sukarsih: Kami kemarin terima surat dari Njonja. Isinja sangat kami perhatikan. Banjak keluarga, apalagi jang datang dari luar kota Djakarta, menghadapai kesulitan soal dapur seperti Njonja.

Percakapan ini menjelaskan bahwa “soal dapur” menjadi perhatian di kalangan pemerintah. Kebijakan tentang makanan dan kesehatan menentukan martabat keluarga-keluarga di Indonesia. Negara memiliki kewajiban memberi anjuran-anjuran agar hidangan sehat tersedia tanpa dibebani harga mahal. Isi percakapan antara Sukarsih dan Noor memuat persoalan tentang harga telur dan daging di Jakarta: mahal!  Pemerintah mesti mengurusi ketersediaan pangan dan mengendalikan harga. Pesan ini sudah muncul di buku Hidangan Sehat. Harga bawang di masa itu tentu semahal di masa sekarang.

Poorwo Soedarmo selaku pemimpin Lembaga Makanan Rakjat di Djakarta membahas pelbagai hal dalam lima percakapan. Pembaca sengaja diajak untuk memikirkan makanan dan kesehatan dengan akrab. Bentuk percakapan memberi undangan imajinasi ke situasi keluarga, perekonomian, politik, pertanian, kota di Indonesia. Sebaran pengetahuan tentang makanan dan kesehatan juga menjadi misi Lembaga Makanan Rakjat. Poorwo Soedarmo menjelaskan bahwa Lembaga Makanan Rakjat merupakan “bagian dari Kementerian Kesehatan Pusat jang chusus bertugas untuk memperhatikan segala soal jang mengenai makanan dan pengaruhnja terhadap kesehatan.”

Aku tampilkan kutipan mengesankan tentang peran Lembaga Makanan Rakjat dan kaum ibu untuk mengamalkan ilmu-ilmu makanan dan kesehatan.

Sukarsih: Betja! Bung, betja!

Tukang Betja: (Kruiit, memberhentikan betjanja) Kemana, Nona?

Sukarsih: Ke Tjideng Timur.

Tukang Betja: Baik, Nona… (Sesudah berdjalan kira-kira 5 menit) Nona mau ke Njonja Rachim?

Sukarsih: (Sukarsih sedikit terkedjut) Benar! Bagaimana dapat tahu?

Tukang Betja: Saja Pak Amat, bapaknja si Amat jang telah Nona berikan nasehat tentang makanan. Nona sekarang bukankah memimpin kursus makanan dirumah Njonja Rachim? Mak Amat turut pula.

Aku menganggap percakapan itu menerangkan tentang tema makanan menentukan nasib Indonesia. Pemerintah mesti bergerak untuk memberi anjuran-anjuran berkaitan makanan demi kesehatan dan peradaban. Kehadiran buku Hidangan Sehat adalah bukti perhatian penulis mewartakan makanan dan kesehatan di dunia literasi. Buku Hidangan Sehat menjadi ingatan tentang Indonesia di masa 1950-an dan 1960-an merujuk ke makanan. Begitu.

Iklan