Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Nama sering merangsang ingatan-ingatan tak terduga. Ki Hadjar Dewantara adalah nama dari masa silam. Lelaki dari kalangan ningrat tapi menempuhi jalan pengabdian di politik dan pendidikan tanpa arogansi-feodalistik. Keningratan masih ada meski tak berlebihan. Ki Hadjar Dewantara adalah pilihan nama untuk berjarak dengan memori feodalistik. Nama itu mengganti nama Soewardi Soerjaningrat. Dua nama merujuk ke lelaki legendaris dalam sejarah Indonesia. Aku sering mendapat ingatan-ingatan menakjubkan tentang pelbagai hal merujuk ke nama Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara.

Aku melafalkan nama Ki Hadjar Dewantara sejak bocah. Biografi sebagai pembaca membuatku semakin sering melafalkan Ki Hadjar Dewantara di hadapan orang lain. Nama ini selalu menimbulkan rangsang melacak serpihan-serpihan sejarah di Indonesia. Aku tak cuma mengurusi biografi lelaki tapi menghampiri tema-tema berserakan di halaman-halaman sejarah peradaban di Indonesia. Agenda ini tak pantas dianggap sebagai “riset” ala kaum akademik. Aku sekadar membaca dan membuat catatan. Rangsang tak biasa pun lekas membuatku menulis pelbagai esai mengenai pendidikan, politik, adab, seni dengan bereferensi ke biografi dan tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara.

Aku melihat ada esai wagu berjudul SBY dan Nasi Goreng di Koran Tempo (Minggu, 17 Maret 2013). Esai kecil mengenai celotehan presiden dan biografi Ki Hadjar Dewantara saat mengalami pembuangan ke Belanda. Mereka bertemu dalam urusan nasi goreng. SBY ingin jadi penjual nasi goreng usai merampungkan misi sebagai presiden. Ki Hadjar Dewantara pernah jadi tukang masak nasi goreng di masa lalu. Aku memang tak lekas berpikiran tentang makna nasi goreng sebagai santapan. Nasi goreng justru ada di tafsiran-tafsiran politik dan identitas-kultural.

Buku berjudul Ki Hadjar Dewantara (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986) susunan Darsiti Soeratman aku gunakan sebagai referensi. Buku setebal 144 halaman mengandung informasi-informasi kecil mengenai lakon keseharian Ki Hadjar Dewantara. Penulis tak melulu mengurusi politik atau pendidikan. Ki Hadjar Dewantara diceritakan dengan pilihan tema-tema kecil. Nasi goreng termasuk menjadi urusan mengesankan dan mengejutkan. Aku tak pernah menduga bahwa Ki Hadjar Dewantara pernah memiliki memori nasi goreng berkaitan lakon hidup di Belanda dan pembentukan identitas dalam keluarga.

Aku ingin mengajukan kutipan tentang perkenalan Ki Hadjar Dewantara. Darsiti Soeratman menulis: “Ki Hadjar Dewantara adalah cucu Sri Paku Alam III. Semula bernama R.M. Suwardi Surjaningrat. Gelar kebangsawanannya ditanggalkan ketika ia harus menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda. Kemudian sejak 23 Februari 1928, tepat pada usial lima windu atau 40 tahun menurut tahun Jawa, namanya diganti menjadi Ki Hadjar Dewantara.” Sejarah perubahan nama ini penting diingat untuk mengetahui argumentasi politik-kultural dalam pergerakan politik dan pendidikan di Indonesia pada awal abad XX.

Urusan nasi goreng berkaitan sikap hidup Ki Hadjar Dewantara selama di Belanda. Ki Hadjar Dewantara mesti mengolah diri pertemuan kultural Timur-Barat. Ki Hadjar Dewantara berpesan mengenai kuliner: “Kita tidak boleh hanya meniru belaka. Bahan-bahan baru itu harus ‘diolah’ atau ‘dimasak’ agar menjadi makanan baru yang lezat rasanya serta menambah kesehatan rakyat dalam arti kultural”. Kutipan ini mengacu ke nasi goreng.

Darsiti Soeratman menulis bahwa “nasi goreng tetap merupakan makanan nasional” meski di dalam pengolahan terdapat bahan-bahan asing: mentega dan keju. Urusan makanan ini mengartikan keluwesan Ki Hadjar Dewantara dalam meladeni situasi zaman kebangkrutan di Belanda dan kesanggupan mengolah identitas diri sebagai orang Jawa di negeri asing. Nasi goreng merepresentasikan kehendak hidup tanpa harus mengumbar fanatisme. Nasi goreng justru mengartikan etos hidup bereferensi adab Timur dan Barat.

Buku biografi ini menampilkan Ki Hadjar Dewantara sebagai manusia bersahaja saat hidup di Jawa dan Belanda. Sikap berpolitik mengantar Ki Hadjar Dewantara ke pergerakan radikal bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoekoesoemo. Pengabdian di jagat pendidikan mempertemukan Ki Hadjar Dewantara dengan para guru adab. Ki Hadjar Dewantara terlibat di Gerombolan Selasa Kliwon. Perjumpaan dengan Ki Ageng Suryomentaram dan tokoh-tokoh spiritual, pendidikan, kultural memunculkan kehendak menggerakkan Indonesia melalui pendidikan. Ki Hadjar Dewantara mendapat amanah untuk mengusung misi pendidikan dengan pendirian Perguruan Taman Siswa (1922).

Aku sering berpikiran bahwa Ki Hadjar Dewantara dan para tokoh di masa lalu memiliki ide-ide mulia meski berisiko politis. Tindakan Ki Hadjar Dewantara sering berkaitan dengan represi dan hukuman dari penguasa-kolonial. Ki Hadjar Dewantara tak pernah kapok. Amalan-amalan di jagat politik dan pendidikan menjelaskan nasib Indonesia di jalan “kemadjoean”. Ki Hadjar Dewantara adalah “pelaku” demi pemartabatan Indonesia. Aku pun pantas untuk menghormati Ki Hadjar Dewantara sebagai referensi sejarah Indonesia.

Buku Ki Hadjar Dewantara memang bacaan terlupakan dalam pemikiran politik, pendidikan, seni, kultural. Aku jadi prihatin dan sedih jika tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara dan buku-buku tentang Ki Hadjar Dewantara dilupakan saat Indonesia menapaki abad XXI. Aku masih berkehendak menulis esai-esai bereferensi Ki Hadjar Dewantara. Aku menganggap ada ingatan-ingatan reflektif untuk mengurusi Indonesia abad XXI. Pilihanku mungkin naif dan kuno. Aku tak bakal merasa minder! Aku cuma curiga ada “pelupaan” Ki Hadjar Dewantara dalam polemik pendidikan dan kurikulum. Aku jarang mendapat kutipan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pidato atau tulisan SBY, Boediono, M. Nuh. Mereka mungkin belum pernah membaca buku Ki Hadjar Dewantara susunan Darsiti Soeratman untuk mengenang masa lalu. Mereka tentu menggandrungi buku-buku pendidikan berbahasa Inggris dan mengingat tokoh-tokoh pendidikan dari negeri asing. Begitu.

 

Iklan