Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Uang dan utang. Aku pernah memiliki biografi tentang uang dan utang. Uang seolah menentukan biografi manusia di abad XX dan XXI. Uang sering menjadi pusat lakon hidup. Aneh! Aku hampir menganggap urusan uang termasuk di ranah iman. Uang menentukan peribadatan dan surga-neraka manusia selama masih hidup di dunia. Oh! Kalimat-kalimat ini mirip kutipan di khotbah klise.

Aku ingat saat memulai berdagang buku bekas sekian tahun lalu. Berkuliah membuatku mesti mengurusi uang secara represif. Agenda memberi setoran ke kampus dengan hitungan tiga bulan mengacaukan kenglarasan hidup. Aku termasuk mahasiswa tanpa masalah: rajin mengikuti kuliah dan rajin utang untuk kuliah. Lho!

Aku memiliki uang sedikit lalu diimbuhi utang pada seseorang berdalih berdagang buku di kampus. Ikhtiar ini demi bisa mencukupi dana kuliah dan hidup keseharian. Berutang demi berdagang. Keputusan ini masih rasional ketimbang aku harus selalu menambah utang untuk pelbagai agenda perkuliahan. Empat tahun merupakan episode menumpuk utang. Kuliah beres tapi utang semakin membesar. Ada dua lelaki baik hati dalam urusan memberi utang: teman dan dosen. Temanku adalah pemilik toko jual-beli motor dan mobil bekas. Dosenku juga menjadi pemberi utang rutin untuk perkuliahanku dan belanja buku. Dua orang itu turut membiografikan diriku sebagai manusia-pengutang.

Berita tentang pameran buku sering membuatku berpikir utang. Pameran buku di Jogja dan Solo merangsangku harus berani menambah jumlah utang. Aku tak memiliki rasa malu jika mau meminta utang. Ruang dosen seolah ruang tak sakral. Aku sering masuk menemui dosen-dosen bercakap tentang pelbagai hal. Aku pun menitipkan permintaan utang di sela-sela obrolan. Mereka jarang cerewet berkaitan utang dan keputusanku belanja buku untuk belajar dan dagangan. Jumlah utang tak bakal membuatku terkapar di ruang dosen.

Aduh! Aku terlalu cerewet mengenang diri. Aku ingin beralih ke buku bersejarah. Buku kecil dan tipis tapi menggoda kenangan biografis. Buku itu berjudul Utang (J.B. Wolters-Groningen, 1950) karangan K. Panggabean. Aku semula tak bercuriga bahwa buku ini berisi cerita. Aku beranggapan tentu bakal ada rumus-rumus berutang dan mantra-mantra sakti untuk memusnahkan utang. Buku petunjuk utang memang diperlukan oleh publik agar tak menderita oleh utang. Anjuran utang mengandung berkah juga harus diwartakan demi kebaikan kaum-pengutang.

Buku Utang mengisahkan Iman sebagai pedagang buah. Iman semula berdagang dengan berkeliling kampung. Pendapatan tiap hari mencukupi kebutuhan hidup. Rapat bersama istri membuat Iman berani berutang demi berdagang. Iman dianjurkan untuk memiliki kios di pasar meski memerlukan modal besar. Hasrat berutang dipenuhi tanpa ragu. Iman pun menjadi pedagang buah di pasar dengan penghasilan untuk mencicil utang di bank dan memenuhi kebutuhan hidup. Ah! Aku jadi tergoda membuat sinopsis.

Kutipan di halaman 5 menampilkan kebersahajaan Iman saat masih jadi pedagang keliling: “Tetapi Iman harus beruntung pukul-rata lima rupiah sehari. Baharu senang hatinja pulang kerumahnja. Tjukup sebanjak itu pembeli makanan dan pakaian untuk isterinja, anaknja seorang dan ia sendiri. Hidup mereka itu sederhana. Meskipun begitu, Iman sabar, dan ia tidak mau membuang-buang uang.” Pemberian nama tokoh Iman memang menampilkan “keimanan” hidup alias “mengimani” atas uang tanpa gegabah.

Kehidupan keluarga Iman berubah saat isteri menganjurkan agar Iman berani berutang demi usaha sebagai pedagang buah di pasar. Iman semula takut tapi perlahan mendapati optimisme. Simaklah percakakapan Iman dan isteri.

Kata isteri Iman:

“Kalau untuk tudjuan jang baik, apa salahnja kita memindjam uang?

“O, berutang! Berutang!

Djadi kau mau, saja pergi kepada tukang mendereng?

Sepuluh djadi duabelas habis bulan?

Sanggahan Iman tak membuat isteri mundur sebagai penganjur utang. Informasi dari pemerintah tentang utang di Bank Rakjat memberi terang atas keputusan berdagang di pasar. Iman meminta restu dari kepala dusun untuk mengurusi utang di Bank Rakjat. Utang memerlukan keterangan-keterangan dan tandang tangan. Iman bisa memenuhi segala permintaan dari pihak Bank Rakjat. Kutipan di halaman 19 menampilkan kesanggupan Iman membaca dan menorehkan tanda tangan dalam urusan utang: “Untunglah setengah tahun jang lalu Iman menuntut kursus pemberantasan buta huruf. Ia dapat membatja surat utang itu dan menandatanganinja bersama-sama dengan Kepala Kampung. Lalu ia menerima uang seratus rupiah.”

Aku jadi penasaran dengan imbuhan keterangan tentang Iman telah mengikuti kursus pemberantasan buta huruf. Aku menengok ke sampul belakang: tercantum daftar buku bacaan untuk pemberantasan buta huruf. Ada puluhan buku tapi aku cuma mengoleksi 5 buku. Aduh! Aku harus terus mencari dan membaca meski berutang. Ha!

Usaha Iman berhasil! Utang sanggup dicicil secara rutin. Kehidupan keluarga pun berubah. Kehadiran anak kedua semaki memberi pengesahan kebahagaiaan dan kebersahajaan. Utang telah mengandung berkah. Biografi berubah ke arah kebaikan. Utang itu tak menjerat orang dalam frustrasi dan dosa. Iman memang tokoh ampuh dalam mengurusi uang dan utang. Aku mesti belajar pada Iman.

Buku Utang diakhiri dengan pesan: “Berutang untuk modal, bukan untuk berdjudi atau bersuka-suka.” Aku dulu sering berutang untuk membeli buku. Aku pun ragu tentang keputusanku di masa lalu. Utangku mengandung berkah? Aku malu memberi jawab. Aku justru sering menganjurkan ke teman-teman agar berani berutang demi hasrat membaca buku. Begitu.

Iklan