Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Perkenalan sering mengikutkan urusan mengenai pekerjaan. Orang bertemu orang: bersalaman dan mengucap nama. Percakapan lanjutan bisa memunculkan jenis pekerjaan, kantor, gaji… Aku malas meladeni model perkenalan mengandung urusan pekerjaan. Adegan dan kata-kata pasti wagu. Aku sering mengalami klise dan kecewa. Orang-orang seolah memiliki modul berkenalan mengacu daftar pengetahuan: nama, alamat, sekolah, kampus, pekerjaan, nomor telepon…. Ah! Modul itu terlalu merepotkanku untuk bisa berakrab dengan orang lain. Aku selalu berharap ada demonstrasi atau petisi agar modul perkenalan itu bisa dibatalkan alias berganti “kurikulum”. Lho!

Simbok sering berdoa dan menganjurkanku mencari pekerjaan. Simbok ingin bisa memberi jawab pada tetangga dan keponakan bahwa aku bekerja sebagai guru atau tukang sapu atau buruh pabrik atau direktur atau… Aku merasa berdosa telah menggagalkan jawaban simbok mengenai pekerjaanku. Ampuni aku! Ampuni aku! Aku tak bisa menjelaskan dengan seribu kalimat tentang keputusanku belum bekerja selazim orang lain. Aku pun sering berharap pada simbok agar terus mendoakanku bisa mengalami hidup dengan kewajaran-kewajaran.

Aku tak sedang menulis biografi! Dua alinea itu ada usai aku membaca buku berjudul Tak Ada Pekerdjaan jang Hina (J.B. Wolters-Groningen, 1950) susunan Bakti. Buku cerita berpesan. Gambar di sampul buku bakal menjelaskan tentang kehidupan petani di desa. Gambar sederhana tapi bertabur pesona: petani, kerbau, sawah, pohon, gunung, matahari…. Aku tergoda untuk mengimajinasikan diri hidup sebagai petani. Aku memang lahir dan tumbuh di desa. Simbok cuma buruh tani. Aku kadang ke sawah: bermain, menggembala kambing, menemani simbok, mencari rumput….. Adegan-adegan wajar petani dan kehidupan di desa seolah tersisa di buku cerita.

Aku ingin mengenalkan dua tokoh di buku Tak Ada Pekerdjaan jang Hina: Abdul Fatah dan Abdul Gafar. Dua orang ini anak dari saudagar batik bernama Bapa Salim. Mereka memiliki angan pekerjaan berbeda. Abdul Fatah ingin menjadi tentara. Abdul Gafar ingin menjadi petani. Pengakuan Abdul Fatah disajikan di halaman 7: “Fatah ingin mendjadi seorang pahlawan pemimpin tentaranja dan memerangi musuh Indonesia. Karena, fikirnja, siapa jang harus mendjaga perusahaan Bapa Salim! Siapa jang harus mendjaga kapital Indonesia? Siapa jang harus mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara….” Angan muluk ini pantas diteladani oleh pendamba sebagai pahlawan. Ha!

Narasi berbeda mengenai angan Abdul Gafar tampil di halaman 8: “Gafar dalam tjita-tjitanja tidak membumbung setinggi langit seperti adiknja. Ia hanja ingin mendjadi orang petani besar, hidup tenteram didesanja. Betapa senangnja hati, katanja, djika melihat padi sudah masak. Nanti tinggal mengambil hasilnja sadja. Seratus persen kerunia Tuhan jang diambilnja dari bumi Tuhan, disinari matahari Tuhan, diberi minum air sungai dan air hudjan oleh Tuhan! Semua dari Tuhan! Semuanja dengan djalan damai dan mendatangkan rasa damai dalam hati pula!” Cita-cita mulia: petani. Wah!

Angan pekerjaan membuat Abdul Fatah dan Abdul Gafar berdebat panjang dan hampir berkelahi. Mereka saling mengejek dan bersengketa argumentasi. Angan telah jadi sumber perbantahan. Aku cuma tertawa dan berdoa agar dua tokoh itu berdamai saja agar tak menghabiskan halaman-halaman di buku Tak Ada Pekerdjaan jang Hina. Perdebatan memang terjadi meski cuma dalam satu halaman. Kutipan perdebatan singkat memberi ingatan atas diskriminasi pekerjaan di Indonesia abad XXI.

Fatah mengedjek: “Pekerdjaan tani hina, tidak gagah sebagai seorang pahlawan. Sahut Gafar: “Biarpun hina dipandang, tapi hidupnja tenteram. Tak usah takut ditimpa bahaja kelaparan. Apakah gunanja mendjadi pahlawan, kalau tak bisa makan?

Kata Fatah: “Djika kulihat banjak padimu, kusuruhlah lasjkarku merampasnja!

“Tjoba kalau berani merebut milikku, pasti kuhantjurkan lasjkarmu dan kamu sendiri takkan luput dari tindju dan terdjangku! sahut Gafar pula.

Aku tak pernah berharap bahwa perdebatan ini menjadi adegan dalam sinetron. Perdebatan itu anggap saja pesan dari sejarah. Urusan pekerjaan telah memilah orang-orang dengan arogansi, keminderan, konflik, kisruh. Pembedaan jenis pekerjaan dengan konsekuensi gaji, harga diri, status sosial menimbulkan pikiran-pikiran picik. Pekerjaan jadi sumber petaka jika berkaitan pameran diri dan penghinaan. Oh! Aku ingin ada penulis cerita lanjutan dengan menampilkan perdebatan dua orang dengan dua jenis pekerjaan: PNS dan petani. Ejekan dan pertempuran kata pasti seru! Indonesia terlalu sesak oleh angan-angan menjadi PNS ketimbang petani. Aku masih mengakui bahwa Indonesia pantas dijuluki negeri PNS.

Aku tak bermaksud memberi khotbah. Petuah Bapa Salim sudah bisa jadi renungan bersama: “Dengarkanlah hai anak-anakku. Tak ada sebetulnja pekerdjaan hina, baik dalam masa pantjaroba, maupun dimasa pembangunan ini. Tak ada perbedaan kepentingan; baik pahlawan maupun petani penting artinja bagi negara. Hina ialah orang jang tak mau bekerdja sama sekali. Djika ada sekiranja orang jang bertindak demikian, wadjiblah kita memberantasnja.” Bapa Salim memberi propaganda pemberantasan orang malas alias kaum tak menganut pekerjaan. Aduh!

Aku tersentak usai membaca petuah Bapa Salim. Doa kupanjatkan pada Tuhan agar aku tak termasuk sebagai kaum hina. Aku tak ingin diberantas atas nama revolusi, pembangunan, kapitalisme, demokrasi. Tuhan, selamatkan aku! Begitu.

Iklan