Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia adalah rumah besar untuk partai politik. Berita-berita di koran, majalah, televisi, radio masih dipenuhi dengan urusan partai politik dan pemilu. Partai Demokrat sedang jadi berita penting. Partai “luar biasa” ini mau mengadakan kongres luar biasa berkaitan pemilihan ketua umum agar bisa melenggang dengan sumringah ke  Pemilu 2014. Luar biasa! Kata-kata ini sering disemburkan oleh para motivator picisan: klise dan membosankan. Partai Demokrat harus bisa memilih manusia luar biasa agar segala luka bisa disembuhkan dan impian lekas terwujud. Aku enggan berdoa untuk Partai Demokrat. Amin tak ingin aku ucapkan jika berkaitan partai politik dan pemilu. Mubadzir!

Aku ingin melihat sejarah pemilu di Indonesia melalui buku. Ikhtiar membaca buku lawas tentu tak bakal dilakoni elite di partai politik. Mereka jarang membaca buku. Pasti! Aku menduga mereka sibuk. Waktu adalah berpolitik dan berpolitik. Koran dan majalah sering aku baca dan tersimpan sebagai dokumentasi. Aku tak pernah mendapat pengakuan dari elite partai politik bahwa mereka menggandrungi buku. Berita tentang mereka jauh dari jagat literasi. Aku cuma pernah berharap agar elite di partai politik tampil di depan publik dengan adegan tangan memegang buku. Adegan memegang mesti berlanjut kefasihan mengisahkan buku. Harapanku tak terwujud.

Berita di koran sekian hari lalu justru membuatku marah dan muak. Kaum terhormat di gedung parlemen menjadwalkan kunjungan alias pelesiran ke tiga negara berdalih mempelajari perbukuan. Mereka sedang mengolah undang-undang tentang perbukuan. Pelesiran ke negeri-negeri asing diperlukan dengan argumentasi picisan. Aku tak rela memberi amanah ke mereka untuk mengurusi undang-undang perbukuan tapi mereka tak menggandrungi buku. Aduh!

Aku tidak ingin melanjutkan ejekan politis. Urusan buku dan kesibukan partai politik menghadapi Pemilu 2014 mengingatkan diriku pada buku lawas berjudul Rakjat Berdaulat dan Pemilihan Umum (Bulan Bintang, 1952) garapan Rustam Sutan Palindih. Aku berani bertaruh bahwa buku ini cuma dibaca sekian puluh orang di kalangan partai politik dan kaum terhormat di gedung parlemen. Presiden dan para menteri mungkin juga tidak pernah mengetahui dan membaca buku lawas dengan pengesahan naif: “Milik Negara Republik Indonesia.” Buku ini mungkin tak masuk daftar bacaan untuk membesarkan partai politik dan memenangi pemilu.

Penulisan buku mengacu ke alasan wajar: “Oleh karena pemilihan umum bagi Indonesia adalah suatu masalah baru, maka sebaiknjalah apabila sebanjak-banjaknja keluar penerangan untuk memberi pengetahuan seperlunja kepada rakjat mengenai segala sesuatu jang bersangkutan dengan masalah pokok jang amat penting didalam demokrasi ini.” Pemilu 1955 menjadi penentu hasrat berdemokrasi di masa Orde Lama. Pemilu ini tercatat oleh para ahli politik-demokrasi dan ahli sejarah sebagai selebrasi mencengangkan. Indonesia sanggup mengadakan hajatan berdalih demokrasi meski rawan konflik. Catatan dari ahli Indonesia menjelaskan bahwa Pemilu 1955 dilangsungkan saat jutaan orang di Indonesia belum melek-aksara.

 Rustam Sutan Palindih memberikan “penerangan” setebal 152 halaman. Tema demokrasi, pemilu, partai politik, pemerintah diterangkan dengan gamblang meski harus menautkan ke referensi-referensi asing. Rustam Sutan Palindih menjelaskan: “Partai politik ialah alat bagi rakjat didalam mendjalankan kuasanja didalam demokrasi parlementer, jaitu didalam menentukan tjorak-tjorak pemerintahan menurut resultante kemauan segala golongan rakjat jang berwakil didalam perwakilan rakjat. Alat bagi pemilih untuk mengumpul tenaga bagi melakukan kontrol atas pemerintah.” Pengertian ini muncul di masa 1950-an. Partai politik itu “alat”. Situasi Indonesia di abad XXI tak lagi menggunakan pengertian lawas. Partai politik itu memperalat negara. Pengertian ini pantas diajukan saat negara harus ada di telapak kaki partai politik. Lho!

Para penjaja di partai politik sering mengumbar bahasa-bahasa sloganistik. Mereka beranggapan bahwa partai politik menandai arus demokratisasi. Partai politik harus ada dan penting. Partai politik ada demi nasib Indonesia. Omong kosong! Aku tak ingin menuduh mereka sebagai pembohong atau pembual. Aku cuma merasa kasihan dan prihatin: bahasa mereka mengandung petaka untuk Indonesia.

Rustam Sutan Palindih mengingatkan: “Demokrasi hilang apabila setiap orang suka ‘main serobotan’ dan kurang sekali membatasi diri untuk mendjaga ketertiban umum, apabila seseorang, atau sekumpulan orang, atau segolongan memonopoli kekuasaan didalam negara dan mendjamin kekuasaan itu dengan bantuan militer dan polisi serta peraturan.” Kalimat ini cukup sulit terbaca oleh manusia Indonesia di abad XXI. Aku merasa mengerti bahwa partai politik telah “main serobot” dan memonopoli kehidupan publik di Indonesia.

Aku menulis tentang buku Rakjat Berdaulat dan Pemilihan Umum di saat ada ajakan dari para pengisah Indonesia untuk melakukan demonstrasi besar sebagai kritik atas SBY selaku presiden. Aku belum mengerti arti kudeta. Aku masih ingin membaca buku-buku tentang partai politik dan pemilu agar bisa membuat antologi ejekan dan hujatan sebelum berlangsung Pemilu 2014. Antologi ejekan dan hujatan adalah oposisi dari arogansi dan bebalisme partai politik di Indonesia. Begitu.

Iklan